Jumat, 24 Mei 2013

PUNARBHAWA



REINKARNASI
Wacana Surga-Bumi-Neraka

I Wayan Suka Yasa

Abstrak
Keyakinan manusia pada reinkarnasi mungkin lebih tua dari sejarah yang tertulis. Bagi orang suci Hindu, reinkarnasi itu disebabkan oleh perbuatan kita masing-masing. Perbuatan pasti berpahala. Oleh karena itu, perbuatan adalah akar nasib kita.  Perbuatan baik berpahala surga. Sebaliknya perbuatan buruk berpahala neraka, baik dalam arti filosofis atau pun teologis. Pahala perbuatan yang telah habis dinikmati meninggalkan bekas. Bekas pahala perbuatan inilah yang menjadi benih karakter dasar kita. Bagi mereka yang sadar, kelahiran kembali ke dunia ini sesungguhnya adalah proses penyempurnaan diri, yaitu belajar mengembangkan karakter baik dengan berbuat bajik. Dan perbuatan bajik akan mengantarkan kita mencapai kesempurnaan hakiki, apabila kita dapat membebaskan diri dari pahala kerja dengan prinsip niskama karma, yaitu bekerja tanpa pamrih atau bekarja dengan penuh kasih atas nama dan demi Tuhan.

Kata KUnci: Reinkarnasi dan Surga-Bumi-Neraka

Prawacana
Menurut Paul Roland (2013: 15) ada bukti fisik yang kuat bahwa keyakinan manusia pada reinkarnasi mungkin lebih tua dari sejarah yang tertulis. Lebih dari 12.000 tahun lalu, suku-suku Zaman Batu biasa mengubur orang mati dalam posisi seperti bayi dalam kandungan bersama barang pribadinya sebagai antisipasi bagi kelahiran kembali mereka di dunia selanjutnya. Bahkan penemuan paling awal, mereka yang disebut orang “primitif” di daerah terpencil Afrika, Asia, Australia, dan Amerika telah mengenal lingkaran kematian dan kelahiran kembali dalam seni, ritual, dan adat mereka. Hal tersebut dinyatakan dengan kultus animisme, gagasan bahwa semua bentuk kehidupan, dari tumbuhan hingga manusia dijiwai oleh daya hidup universal. Keyakinan ini menjadi lebih formal dengan berdirinya peradaban pertama di Mesopotamia dan Mesir Kuno sekitar tahun 3300 Sebelum Masehi.
Dinyatakan pula bahwa bangsa Yunani Kuno sangat serius dalam memandang pertanyaan mengenai kehidupan setelah kematian. Pyithagoras, ahli matematika dan kebatinan Yunani yang hidup pada abag ke-6 SM, menyatakan bahwa ia telah berkali-kali hidup, termasuk menjadi kesatria dalam perang Troya, nabi, petani, pedagang, dan bahkan ia pernah lahir sebagai perempuan pelacur. Plato (427-347SM), seorang pemikir Yunani yang legendaris, melukiskan keyakinannya tentang reinkarnasi dalam bukunya: Phaedrus, jiwa dapat mencapai kesempurnaan melalui suatu proses pemurnian atau kelahiran kembali. Bahwa yang terendah dari tahap kelahiran  adalah sebagai tiran dan pencuri. Sedangkan ia yang menjalani hidup dengan baik secara perlahan-lahan terangkat ke tingkat yang lebih tinggi. Pada peringkat selanjutnya berturut-turut orang lahir sebagai atlit atau tabib; lalu lahir kembali menjadi  para politikus dan para sarjana; penguasa yang arif dan kesatria. Akhirnya jiwa yang tercerahkan mungkin dilahirkan kembali ke dalam tubuh seorang filsuf, seniman atau seorang ahli estetika sebelum kembali kepada kematian menuju padang kebahagiaan yang kekal.
Pernyataan Plato tersebut mengingatkan kita akan konsep catur warna, yaitu empat golongan masyarakat menurut karakter dan pekerjaan profesional mereka dalam tradisi religius Hindu. Lalu bagaimanakah teks dan orang suci Hindu mewacanakan reinkarnasi?

Wacana
I.     Reinkarnasi
Reinkarnasi dalam bahasa Sanskerta dikenal dengan istilah punarbhàwa. Istilah tersebut terdiri atas dua kata, yaitu punar ‘lagi’ dan bhàwa ‘wujud, bentuk’. Punarbhàwa berarti berbentuk lagi atau mengambil wujud kembali. Dalam arti umum, punarbhàwa berarti menitis berulang kali ke dunia. Sri Kåûóa (Bhagawadgita, II:27;) berkata: Jàtasya hi dhruwo måtyur dhruwaý janma måtasya ca ...‘Apa yang lahir kematian adalah pasti, dan sebaliknya, bagi yang mati kelahiran adalah pasti’. Awyaktàdini bhùtani wyaktamadhyàni bhàrata awyaktanidhanàny ewa...‘Segala ciptaan ini pada mulanya tidak berwujud; Setelah lahir dia berwujud; dan pada akhirnya kembali tidak berwujud kembali’. Sebagai seorang awatara ‘penjelmaan Tuhan’, demi melindungi darma, Kåûóa (Bhagawadgita IV:5) menyatakan diri-Nya telah lahir berulang kali ke dunia. Katanya kepada Arjuna:
Bahùni me wyantìtàni janmàni tawa càr’juna
Tàny ahaý weda sarwàni na twaý wtha paraýtapa.
‘Banyak kehidupan yang telah-Ku jalani demikian pula kau Arjuna.
Semua kalahiran itu Aku ketahui. Akan tetapi, hai Arjuna, engkau tidak mengetahuinya’.

 Kelahiran Tuhan disebut ngawatara, yaitu lahir kembali atas kehendak-Nya untuk menegakkan darma. Sebaliknya, kelahiran makhluk disebut punarbhàwa, yaitu kelahiran karena keterikatan pada berbagai kesan objek duniawi. Kesan-kesan objek duniawi itulah yang membelenggu roh seseorang sehingga ia kehilangan kesadaran murninya. Kehilangan kesadaran murni berarti mengalami kealpaan. Oleh karena itu, orang, seperti halnya Arjuna, tidak dapat menyadari kelahirannya yang sesungguhnya telah berlangsung berulang kali.
Dikatakan bahwa akibat dari keterikatan pada pahala perbuatan di masa lalu itulah yang membawa roh seseorang menitis kembali ke dunia. Wasana ‘kesan pahala perbuatan’ di masa lalu itulah yang menjadi benih karakter seseorang pada kelahiran kini. Sri Narayana (1991:51) mengatakan ada tiga  jenis wasana, yaitu (1) wasana keduniawian membuat manusia menginginkan kekayaan, kekuasaan, kedudukan, dan kemegahan; (2) wasana kecendikiawanan mendorong manusia sehingga ingin terkenal sebagai ahli yang tiada bandingannya dan ingin agar setiap saingan dalam bidangnya terkalahkan; dan (3) wasana jasmani, yaitu kecenderungan jasmani membuat manusia menginginkan badan yang indah, kuat, kokoh, kulit mulus dan tak pernah cacat oleh kerut-merut serta mengeras. Ketiga wasana itu membelenggu kita pada roda samsara dan menambatkan pada dunia ini.
Selama orang belum memiliki kesadaran murni selama itu pula orang akan terikat oleh hukum punarbhàwa. Segala yang lahir kematian adalah pasti dan segala yang mengalami kematian, selama belum mempunyai kesadaran murni, pasti pula lahir kembali. Demikianlah hukum bagi setiap yang lahir dan itulah siklus hidup. Hidup berulang dalam siklus lahir hidup mati sesungguhnya adalah hidup yang sengsara atau hidup dalam penderitaan. Oleh karena itu, punarbhàwa juga disebut dengan istilah samsara. Bagaimanakah asal-usulnya, maka segala makhluk mengalami punarbhàwa? Dalam lontar Tattwa Jñàna, asal mula punarbhàwa itu dijelaskan sebagai berikut.
Ri pamanggih ikang Pradhàna lawan Puruûa ika ta yan pànak citta lawan guóa. Citta ngaran ganal ning Puruûa. Guóa ngaranya dadi ning Pradhàna [....] Guóa tiga prabhedanya, mapalenan lwirnya, satwa, rajah, tamah, yeka sinangguh triguóa [....] Ikang satwa, rajah, tamah rumakêt irikang citta, yeka nimitta ning àtma patêmah-têmahan.
‘Akibat pertemuan Pradhàna ‘benih wujud; benih gen’ dengan Puruûa ‘roh’ lahirlah citta ‘pikiran’ dan guóa ‘gen atau sifat’. Pikiran adalah wujud kasar dari roh. Sebaliknya, sifat adalah wujud kasar dari benih materi. Guóa itu dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu satwa, rajah, dan tamah. Tiga sifat itu disebut triguóa. Melekatnya satwa, rajah, dan tamah itu pada citta ‘pikiran’ itulah yang menjadi sebab àtma ‘roh’ itu mengalami penjelmaan berulang kali’. 

Dengan demikian, dapatlah diketahui bahwa penyebab orang mengalami punarbhàwa adalah karena citta ‘pikirannya’ telah menyelubungi triguóa. Oleh karena itu, Wiwekananda (1991:12) mengatakan, bahwa dalam diri setiap orang terkandung triguóa ‘tiga partikel’, yaitu guóa satwam ‘gen yang bersifat terang, keseimbangan’, rajas ‘gen yang bersifat aktif’, dan tamas ‘gen yang bersifat gelap, malas’. Satu waktu guóa tamas mempengaruhi diri seseorang, maka dia menjadi malas. Pikirannya tumpul, tidak bersemangat, dan terikat oleh berbagai pikiran lemah; Lain waktu guóa rajas yang muncul, maka dia aktif dan penuh gagasan; Dan ada pula kalanya guóa satwam yang muncul, maka dia menjadi demikian tenang dan berperilaku penuh pertimbangan. Demikianlah ketiga guóa itu mempengaruhi sehingga perilaku orang berubah-ubah dari waktu ke waktu.
Dominannya kesan salah satu guóa itu dalam diri seseorang dengan sendirinya guóa itu pula yang menjadi kekhasan yoni ‘karakternya’. Wiwekananda (1991:36) mengatakan bahwa apa adanya kita sekarang ini ditentukan oleh samskara ‘bekas-bekas perbuatan, ucapan, dan pikiran’ kita yang lampau. Kesan-kesan dominan itulah yang kemudian menjadi watak bawaan. Bahwa ada orang berwatak lembam, tidak bersemangat, pikirannya buntu, dan malas; Yang lain lagi berwatak keras, kasar, kaku, banyak kinginan, menggebu-gebu, dan tidak fokus dalam bekerja; Sebaliknya, ada pula orang yang berwatak sabar, sopan, berwawasan luas, terampil dan fokus dalam bekerja. Atas dasar dominan pengaruh masing-masing guóa itu pada diri manusia, maka yoni ‘karakter’ orang pun dikelompokkan atas tiga jenis: (1) yoni buddhi satwa, yaitu orang berkarakter dewa dengan ciri-ciri keluhuran, antara lain: beriman, gemar belajar, berani berkurban, penyayang, sabar, sopan santun, suka keindahan; (2) yoni buddhi rajah, yaitu orang berkarakter raksasa dengan ciri-ciri keegoisan, antara lain: agresif, pemarah, suka mengumbar nafsu seks, loba, sirik, dan haus kuasa; dan (3) yoni buddhi tamah, yaitu orang berkarakter binatang dengan ciri-ciri kebinatangan, antara lain: berpikiran tumpul, pemalas, uring-uringan, gemar makan makanan busuk, suka mabuk-mabukan, dan suka bikin keonaran.
Dalam Bhagawadgita (XVI:3-4) karakter orang dibedakan menjadi dua: (1) karakter dewai sampad, yaitu karakter buddhi satwa. Ciri-ciri adalah berkarakter dewa: kuat pendirian, suka memaafkan, tawakal, suci, tidak membenci, dan tidak sombong. Sebaliknya, (2) karakter asuri sampad, yaitu karaketer buddhi rajah dan tamah. Ciri-cirinya adalah berkarakter raksasa: tekebur, sombong, suka membangga-banggakan diri, pemarah, dan bodoh.
Dijelaskan pula bahwa orang yang gemar memupuk karakter dewai sampad akan menjadi orang yang berbudi luhur dan cenderung semakin meluhurkan dirinya. Oleh karena itu, ia mendapat badan yang lebih luhur dan sampai akhirnya ia mencapai kelepasan. Sebaliknya, orang yang suka memupuk karakter asuri sampad, yaitu suka melalaikan kewajiban dan gemar memupuk segala sifat yang buruk akan mengalami kemerosotan moral dan menjadi semakin tidak berdaya oleh sifat buruknya. Maka, dalam kelahiran berikutnya ia mendapat badan yang kurang berkualitas. Demikian seterusnya, ia menjadi semakin terjebak pula dalam berbagai jenis penderitaan (Bhagawadgita, XVI:5-6). Maka Mpu Kanwa (Arjuna Wiwàha, 12:5) bersyair tentang perilaku orang yang berkarakter asuri sampad:
Hana mara janma tan papihutang brata yoga tapa,
Angêtul aminta wàrya sukha ning widhi sahasika,
Binalikakên purih nika lêwih tinêmunya lara,
Sinakitan ing rajah tamah inaóðêhan ing prihari.
‘Ada orang yang tidak berpiutang brata, tapa, dan yoga.
Tak tahu malu minta keberuntungan, perkenan Tuhan dengan memaksa.
Dibalikkanlah keadaannya, berlipat gandalah ia mendapat derita.
Karena disakiti oleh ego dan kemalasannya, maka ia semakin tertindih kesedihan’.
Begitulah sifat orang yang berkarakter asura ‘raksasa’. Guóa rajah dan tamah yang menjadikannya suka memaksakan kehendak. Ia suka memohon tanpa didasari oleh tapa-brata ‘usaha keras menurut darma sendiri’ dan yoga ‘bakti kepada Tuhan’. Oleh karena itu, ia semakin ditindih oleh penderitaan. Ia menderita, bukan karena Kehendak Tuhan, tetapi karena dideritakan oleh rajah-tamah ‘sifat buruknya sendiri’. Agar tidak jatuh menderita, Mpu Kanwa (Arjuna Wiwàha, 12:6) menyarankan jalan karma yoga lewat syairnya:
Kadi hana pùrwakarma dinalih sang akarya hayu,
Ulah apagêh magêgwana rasàgama buddhi têpêt,
Ya juga sudhìra munggu ri manah nira sang nipuóa,
Karaóa nikang sukhàbhyudaya niûkala yan katêmu.
‘Contoh, adalah ajaran purbakarma yang ditanggap oleh orang arif.
Perilaku yang teguh berpegang pada rasa, agama dan buddhi yang tepat.
Hanya itulah yang sungguh-sungguh kuat ada dalam pikiran orang arif.
Maka, ia memperoleh bahagia lahir batin, bila itu ketemu’.
Dengan syair itu Mpu Kanwa menandaskan pentingnya arti karma ‘perbuatan’. Karma haruslah dijadikan yoga ‘jalan’ untuk mencapai sukhàbyudaya-niûkala ‘kebahagiaan lahir-batin’. Agar karma menjadi yoga, orang harus (1) mencerdaskan perasaannya supaya menjadi rasa ‘daya rasa’; (2) mencerdaskan daya pikirannya supaya menjadi buddhi têpêt ‘daya budi’; dan (3) melatih perilakunya supaya menjadi àgama ‘perilaku bermoral’. Tanda orang arif adalah daya rasa, daya budi, dan perilaku bermoral, telah menjadi bersinerji menjad daya hidupnya, maka ia berhasil memperoleh kebahagiaan. Mpu Kanwa (Arjuna Wiwàha, 12:7) kembali menegaskan pendiriannya:
Syapa kari tan têmung hayu masàdhana sarwa hayu,
Nyata katêmwaning hala masàdhana sarwa hala,
Têwas alisuh manangúaya purakrêta tàpa tinùt,
Sakaharêpan kasiddha maka darúana Paóðusuta.
‘Siapakah ia yang tidak memperoleh kebahagian bila telah bersaranakan segala yang bajik?
Dia pasti memperoleh duka karena bersaranakan segala yang tidak baik.
Bahayalah bagi orang yang menyangsikan ajaran karma. Lalu apakah yang patut dipedomani lagi?
Maka, segala cita-cita baik dapat tercapai dengan mencontoh perilaku bajik Arjuna’.
Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa, faktor utama yang menyebabkan orang mengalami penderitaan dan tumimbal lahir adalah karena perilakunya. Perilaku seseorang semata-mata ditentukan oleh pikirannya. Dikatakan bahwa yad bhàwam tad bhawati ‘bagaimana berpikir demikianlah ia menjadi’. Mpu Kanwa (Arjuna Wiwàha, 7:2) mengatakan sakatilingan ing ambêk tan wirthan dadi kapitùt ‘apa yang menjadi fokus pikiran, tidak bisa tidak, pasti itu diperoleh’. Maka, dalam lontar Wåhaspati (16) dijelaskan:
Ikang citta hetu nikang àtmà an pamukti swargga, citta hetu ning àtmà tibeng naraka, citta hetu nimittanyan pangdadi triyak, citta hetunyan pangjanma manusa, citta hetunyan pamanggihakên kamokûan mwang kalêpasan.
‘Pikiran itulah yang menyebabkan roh menikmati surga; pikiran yang menyebabkan roh jatuh ke neraka; pikiran yang menyebabkan roh menjelma menjadi binatang; pikiran yang menyebabkan roh menjelma menjadi manusia; dan pikiran pula yang menyebabkan roh mencapai kebahagiaan dan kelepasan’.

II.  Swarga - Bhumi - Naraka
Swarga ‘surga’ sesungguhnya adalah tujuan sementara yang ingin dicapai oleh orang yang berbuat bajik. Secara filosofis surga adalah keadaan suka atau senang yang sedang dinikmati oleh seseorang. Keadaan suka itu tidaklah bersifat langgeng. Karena di balik suka ada duka. Keadaan duka itulah yang disebut naraka ‘neraka’. Suka adalah pahala perbuatan bajik. Sebaliknya, duka adalah pahala perbuatan buruk.
Lalu, apa hubungannya dengan nasib? Ada orang bernasib baik atau sebaliknya banyak pula ada orang bernasib buruk? Bhagawan Wararuci (Úaracamuúcaya: 498-199) menjelaskan:
Tar kêna sininggahan ikang sukha duhka ngaranya pangawaúan ing widhiwaúa, kàraóa ning sarwabhàwàn panêmu sukha duhka. Ikang widhi ngaranika, pùrwakarma tinutnya, sêngkêrnya ikang pùrwakarma niyatanya, jàtinya ikang pakàwak hala, lawan hayu,...
‘Suka-duka itu sungguh tak dapat kita hindari, karena itu adalah pengawasan atas kuasa widhi. Widhi itulah sebab, maka segala makhluk mengalami suka-duka. Yang disebut widhi adalah purwakarma ‘perbuatan terdahulu’. Itulah yang diikuti (berakibat suka dan duka). Jika telah sampai batas waktunya memetik buah perbuatannya terdahulu (di Surga atau Neraka), maka menitislah ia, entah dalam wujud dan karakter baik atau buruk.
Untuk lebih memperjelas pemahaman kita, Wiwekananda  (1991:37) telah menerangkannya dengan sangat baik. Inti wacananya ialah, bahwa watak bawaan setiap orang itu ditentukan oleh jumlah keseluruhan dari bekas-bekas perbuatan, ucapan, dan pikirannya di masa sebelumnya. Bila kesan-kesan itu banyak yang baik, maka orang itu menjadi berwatak baik. Sebaliknya, jikalau banyak kesan jahatnya, maka orang itu menjadi bertabiat jahat. Jika orang terus-menerus mendengarkan hal-hal yang buruk, memikirkan tentang kejahatan, dan melakukan perbuatan-perbuatan jahat, maka pikiranya penuh dengan kesan-kesan jahat. Kesan-kesan yang demikian, tanpa disadarinya, menjadi sangat mempengaruhi pikiran, perkataan, dan perbuatannya. Nyatalah bahwa kesan-kesan buruk itu terus bekarja dan akibatnya pastilah buruk. Orang yang berbuat demikian kemudian dikenal sebagai orang jahat, dan ia sendiri dibuat menjadi semakin tidak berdaya oleh kesan-kesan perbuatan jahatnya. Jumlah keseluruhan dari kesen-kesan itu dengan sendirinya menciptakan motif yang kuat untuk mendorong yang bersangkutan melakukan kejahatan. Artinya, dirinya sendiri telah menjadi mesin yang dikendalikan dan dipaksa oleh kesan-kesan hidupnya sendiri untuk terus melakukan perbuatan jahat. Demikian pula sebaliknya, apabila orang selalu memikirkan dan mengerjakan hal-hal yang baik, maka seluruh memorinya dipenuhi oleh kesan-kesan kebaikan. Kesan-kesan itu dengan sendirinya pula mengendalikannya untuk selalu mengusahakan kebajikan. Dengan kata lain, apabila orang itu telah melakukan sekian banyak kebajikan, baik dalam pikiran, perkataan, maupun dalam tindakannya, maka timbullah kekuatan besar untuk selalu berbuat bajik, sekalipun ia dicela dan diarahkan agar mau berbuat buruk. Akan tetapi, karena pikirannya telah terpenuhi oleh kesan-kesan baik, maka ia tidak diijinkan oleh pikirannya sendiri untuk berbuat buruk atau segera disadarkan oleh batinnya sendiri untuk tidak bertindak buruk. Jadi, kesan-kesan baiknya sendiri menariknya untuk kembali pada kebaikan. Demikianlah kesan-kesan baik dan buruk itu berperan membentuk watak seseorang.
Duryodana adalah anak yang memiliki gen buruk yang bersambut dengan ego (sifat iri, munafik, kikir, dan haus kuasa) orang tuanya, Dristharastra. Sejak kecil ia lekat dan diasuh oleh Sakuni, pamannya yang berwatak jahat. Akibat pengaruh pergaulannya dengan pamannya itu, terpupuklah gen buruk Duryodana. Oleh karena itu, ia menjadi gemar dan bangga dengan perilaku jahatnya. Dalam perjalanan waktu, walaupun ia telah dinasehati berulang kali dengan berbagai cara oleh para sesepuh kerajaan Hastina, seperti Bhisma, Kripa, Gandari, Widura, dan Drona, watak dan perilaku Duryadana toh tetap buruk, malahan semakin menjadi keras kepala. Oleh sebab kelakuan buruknya yang telah sekian banyak menumpuk, maka ketika perang Bharata berlangsung ia tidak dapat menolak nasib buruknya. Betapa sedihnya ia menyaksikan sahabat dan saudara-saudaranya (yang semula dikiranya akan menyebabkan pihaknya menang perang dan digjaya sebagai penguasa Hastina) berguguran di medan perang Kuru. Dan pada akhir perang Duryodana pun dibuat demikian menderita oleh nasibnya. Sebelum mati, ia menjadi demikian menderita menahan rasa sakit dan marah. Betapa tidak, pahanya yang terkutuk itu remuk bersimbah darah, hancur  digodam gada Bhima, musuh bebuyutan yang sering diolok-oloknya sejak kecil. Dan sedihnya, dalam keadaan terkapar bersimbah darah seperti itu, ia ditinggal pergi begitu saja oleh keluarganya, Paóðawa dan Sri Kåûóa.
Demikian sebaliknya, Yudiûþhira, putra sulung Kunti. Ia adalah titisan Dewa Dharma. Lalu karena sejak kecil menerima bimbingan para tetua Astina dan guru-gurunya yang arif, ia menjadi berwatak baik. Suatu ketika, pada waktu perang Bharata, Yudiûþhira dihadapkan pada situasi sulit. Drona tidak dapat ditundukkan dengan senjata sakti sekalipun kecuali dengan tipudaya. Maka, untuk dapat mengalahkannya, Sri Kåûóa, penasehat politik Paóðawa, mendesak Yudiûþhira agar mau berkata bohong dengan mengatakan Aswatama telah mati (yang sebenarnya belum mati). Walaupun didesak dengan berbagai pertimbangan logis politik perang, Yudiûþhira tetap tidak mau dan tidak mampu berkata bohong. Demikianlah kekuatan kesan baik itu jika telah membatin dalam diri seseorang.
Secara teologis, pahala perbuatan baik atau buruk itu, tidak saja dinikmati di dunia ini, tetapi di alam roh setelah orang meninggal dunia. Alam roh itu ada tiga: Swarga, Neraka, dan Mokûa. Jika di Mrêtyuloka ‘bumi’ ini adalah tempat orang ber-karma dan menikmati wasana ‘nasib’ baik atau buruk akibat purwakarma ‘perbuatannya di masa lalu’, maka di Swargaloka, Narakaloka, dan Mokûaloka adalah tempat sang roh menikmati pahala perbuatan yang dilakukannya di dunia. Dalam lontar Tattwa Jñàna dikatakan bahwa bhùwana agung ‘alam semesta’ memiliki 14 (empat belas) alam. Tujuh alam atas disebut saptaloka, berturut-turut ke atas yaitu Bhurloka ‘bumi’, Bhwahloka ‘antariksa’, Swahloka ‘surga Dewa Indra’ Mahaloka ‘alam rohani Dewa Rudra’, Janaloka ‘alam rohani Dewa Wiûóu’ Tapaloka ‘alam rohani Dewa Brahma’ dan Satyaloka ‘alam rohani Dewa Úiwa’.
Bhurloka ‘bumi’ dipandang sebagai tempat orang ber-karma, berbuat baik atau buruk, dan tempat menikmati nasib akibat perbuatan masa lalu; Bhwahloka adalah antariksa, alam yang dicapai segera setelah orang meninggal dunia. Di alam ini ia menerima keputusan pengadilan rohani apakah ia menerima hukuman atau ganjaran atas segala perbuatannya di dunia; Swahloka diyakini sebagai surga, yakni tempat roh menerima ganjaran perbuatan bajiknya; Mahàloka, Janaloka, Tapaloka, dan Satyaloka adalah alam mokûa atau kelepasan, yakni alam bagi roh orang yang telah berhasil membebaskan diri dari hukum karmaphala: bebas dari pahala perbuatan baik atau buruk (lihat Avalon’s, 1997:22). Sebaliknya, tujuh alam berturut-turut ke bawah disebut saptapatala, yaitu Patala, Waitala, Nitala, Mahàtala, Sutala, Talatala, dan Rasatala. Di dasar saptapatala berkobar-kobalah api Naraka yang disebut Kalàgni Rudra. Tujuh alam bawah inilah yang diyakini sebagai  Naraka, yaitu tempat roh menerima siksa akibat perbuatan buruknya di dunia.
Dalam kitab Swarga Rohanika Parwa dikisahkan bahwa Yudiûþhira setelah mendengar berita bahwa Sri Kåûóa telah kembali ke alam rohani-Nya, segera sadar bahwa telah tiba waktunya untuk meninggalkan hidup duniawi. Setelah menobatkan Parikesit sebagai raja Astina, ia mengajak adik-adik dan permaisurinya untuk melakukan perjalanan suci untuk menyambut kematian. Dalam perjalanan menyusuri pegunungan Himalaya, satu persatu, Drupadi, Nakula, Sahadewa, Arjuna, dan Bhima jatuh meninggal. Yudiûþhira tidak peduli. Ia terus berjalan dengan pandangan lurus terpusat ke depan. Tiba di suatu tempat, ia dijemput oleh penguasa Surga untuk diajak masuk Surga.
Setibanya di Surga dilihatlah Duryadana menikmati kemegahan surgawi. Yudiûþhira heran dan berpikir: “Mengapa para penjahat itu dapat masuk Surga? Dimanakah adik-adikku dan para sahabatku?” Dewa Indra merasakan ketidaknyamanan hati Yudiûþhira. Walaupun begitu Indra tetap menyarankan agar Yudiûþhira sudi bergabung untuk menikmati kemewahan surgawi. Yudiûþhira menolak. Ia hanya mau menikmati kemewahan Surga hanya jika bersama leluhur, kerabat setia, saudara, istri, dan anak-anaknya yang telah meninggal. Untuk itu, ia memohon kepada Indra agar diantar ke tempat di mana adik-adik, istri, dan kerabatnya kini berada.
Karena Yudiûþhira bersikeras, diantarlah ia ke suatu tempat melalui lorong yang gelap, pengap, dan mengerikan. Tiba di suatu tempat, terdengarlah teriakan kerabatnya memanggil-manggil dengan suara yang memilukan. Mereka mengelu-ngelukan nama Yudiûþhira agar segera menolongnya. Singkat cerita, ketika Yudiûþhira menginjakan kaki di tempat dari mana suara-suara sedih itu datang terjadilah keajaiban. Tempat yang semula gelap dan menjijikkan itu mendadak sontak menjadi Surga, terang dengan segala kemewahan surgawi. Demikian sebaliknya, Surga di mana Duyadana bersama kerabatnya mendadak sontak menjadi Neraka. 
Dari cerita perjalanan Yudiûþhira ke alam rohani itu kita mendapat pelajaran, bahwa bagaimana pun culasnya Duryadana dan kerabatnya, sekali waktu pernah juga berbuat baik. Demikian sebaliknya, bagaimana pun bajiknya perbuatan Paóðawa beserta kerabatnya, sekali waktu pernah pula berbuat buruk. Kedua pahala perbuatan itu, mau tidak mau, harus diterima. Bagi yang lebih sedikit karma baiknya, terlebih dahulu menerima pahala perbuatannya di Surga. Setelah itu ia harus menerima pahala perbuatan buruknya di Neraka.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa pahala perbuatan yang telah dinikmati itu meninggalkan wasana ‘kesan-kesan’. Kesan-kesan dominan inilah yang menjadi gen atau karakter dasar. Nah, yang lahir dengan membawa kesan buruk dominan dikatakan sebagai kelahiran asuri sampad, yaitu roh yang lahir dari alam asura ‘raksasa’ atau Naraka.
Demikian sebaliknya, ia yang lebih sedikit perbuatan buruknya, seperti yang dikisahkan dalam kitab Swarga Rohanika Parwa, terlebih dahulu memetik buah perbuatannya di Neraka. Selanjutnya, setelah selesai waktu menerima siksa Neraka, barulah sang roh memetik buah karma baiknya di Surga. Kesan-kesan pahala perbuatan baiknya yang dominan ini menjadi gen karakternya ketika ia lahir lagi ke dunia. Kelahiran dengan gen baik disebut kelahiran dewai sampad ‘kelahiran dengan gen kedewataan’.
 Lahir kembali ke dunia sebagai manusia sesungguhnya merupakan kesempatan emas. Karena hanya dengan tubuh manusia, sang jiwa dapat menolong dirinya sendiri dengan berbuat bajik. Berbuat bajik berarti berusaha merubah nasib. Maka, Bhagawan Wararuci (Úaracamuúcaya, 4) menyatakan:
Apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimitta ning mangkana, wênang ya tumulung awaknya sangkeng sangsàra, makasàdhanang úubhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang.
‘Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama. Dikatakan demikian, karena dapat menolong dirinya sendiri dari keadaan sengsara dengan berbuat bajik. Demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia’.
 Perbuatan bajik akan menjadikan kita mencapai kelepasan apabila dapat meningkatkan kualitas úubhakarma ‘perbuatan bajik yang masih mengharapkan pahala’ menjadi niskama karma ‘perbuatan bajik yang sepi dengan pamerih’. Hanya niskama karma yang dapat mengantarkan orang mencapai mokûa. Maka Sri Kåûóa (Bhagawadgita, II:49,48) berulangkali berseru:
Dùreóa hy awaraý karna buddhiyogàd Dhanaýjaya
Buddhau úaraóam anwiccha kåpaóàá phalàhetawaá.
‘Pekerjaan yang dilakukan dengan keinginan jauh lebih rendah daripada melaksanakannya dengan kebijaksanaan, yaitu bekerja dengan tidak terganggu oleh pikiran akan hasilnya. O Arjuna, bertindaklah dengan bijaksana. Celakalah mereka yang melaksanakan perbuatan dengan mengikatkan diri pada hasilnya’.
Yogaûþhaá kuru karmàói sanggaý tyaktwà Dhana÷jaya
Siddhyasiddhyoá samo bhùtwà samatwam yoga ucyate
‘Pusatkan pikiran dalam yoga. Lakukan kewajibanmu O Arjuna. Bebaskan dirimu dari keterikatan dengan pikiran yang sama dalam sukses dan kegagalan. Karena, yoga itu adalah keseimbangan pikiran’.

Sanwacana
            Bagi orang suci Hindu, kelahiran berulang kali itu disebabkan oleh perbuatan kita masing-masing. Perbuatan pasti berpahala. Oleh karena itu, perbuatan adalah akar nasib kita. Perbuatan baik berpahala surga. Sebaliknya perbuatan buruk berpahala neraka, baik dalam arti filosofis atau pun teologis. Pahala perbuatan yang telah habis dinikmati meninggalkan bekas. Bekas pahala perbuatan inilah yang menjadi benih karakter dasar kita. Bagi mereka yang sadar, kelahiran kembali ke dunia ini sesungguhnya adalah proses penyempurnaan diri, yaitu belajar mengembangkan karakter baik dengan berbuat bajik. Dan perbuatan bajik akan mengantarkan kita mencapai kesempurnaan hakiki, apabila kita dapat membebaskan diri dari pahala kerja dengan prinsip niskama karma, yaitu bekerja tanpa pamrih atau bekarja dengan penuh kasih atas nama dan demi Tuhan.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Avalon’s, Arthur.1997. Mahànirwàna Tantra. Denpasar: Upada Sastra.

Kadjeng, I Nyoman dkk. Úaracamuúcaya. Denpasar: Pemerintah Propinsi Bali.

Mantra, Ida Bagus. Tt. Bhagawad Gita Alih Bahasa dan Penjelasan. Denpasar: Pemerintah Propinsi Bali.

Narayana, Sri Sathya. 1991. Meditasi. Jakarta: Yayasan Sri Sathya Sai.

----,1996. Intisari Bhagawad Gita. Jakarta: Yayasan Sri Sathya Sai Indonesia.

Roland, Paul. 2013. Reinkarnasi. Tangerang Selatan: Karisma Publishing Group.

Sura, I Gede. 1990. Sumber Acuan Ajaran Agama Hindu. Denpasar: Departemen Pendidikan Agama Hindu.

Wiryamartana, I Kuntara. 1990. Arjuna Wiwàha. Yogyakarta: Duta Wacana University Press

Yasa, I Wayan Suka. 2007. Brahma Widya: Teks Tattwa Jñàna. Denpasar: Lemlit Universitas Hindu Indonesia.

----------.2010. Rasa Daya Estetik Religius Geguritan Sicita. Denpasar: Sari Kahyangan Indonesia.

Vivekananda, Swami.1991. Karma Marga. Jakarta: hanuman Sakti.

Zoetmulder, P.J. 2004. Kamus Jawa Kuna Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar