Sabtu, 17 Oktober 2009

Pengendalian Diri

PENGENDALIAN DIRI DAN MENJADI DIRI SENDIRI

Oleh
I Wayan Sukarma

Abstrak
Pengendalian diri merupakan kemampuan beradaftasi dan penyesuaian diri, baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan alam dan lingkungan sosial. Pengendalian diri bertujuan untuk menciptakan keseimbangan, keserasian, keselarasan, dan keharmonisan antara manusia dengan alam, sesama, dan Tuhan. Sebaliknya, menjadi diri sendiri merupakan kemampuan memperoleh pengertian dan pemahaman yang mendalam mengenai “diri”, yaitu esensi, eksistensi, dan aktivitas-aktivitas “diri”. Oleh karena itu alam semesta adalah raga manusia yang diperluas.


1. Pendahuluan
Dengan “pengendalian diri” dan “menjadi diri sendiri”, yang dimaksudkan adalah bahwa tulisan ini sedang mendiskusikan manusia. Manusia sejak abad ke-6 SM dalam sejarah filsafat Barat (zaman Yunani Kuno) dijelaskan telah berusaha menekan seminimal mungkin berpedoman kepada mite-mite[1]. Upaya manusia untuk memahami dirinya dan menemukan keteraturan alam semesta telah mengantarkan mereka pada suatu pola pemikiran kritis-filosofis yang disebut logos. Logos dengan kekuatan analisis nalarnya digunakan untuk menemukan hukum-hukum alam dan prinsip-prinsip dasar atau asas mutlak atas realitas; dengannya manusia berusaha menemukan “sang pengatur” keteraturan alam semesta; dan juga dengan logos manusia berusaha menemukan posisi dan hubungan dirinya dalam keseluruhan alam semesta. Jadi, dinamika paradigma pemikiran filosofis bergerak dari pendekatan kosmosentris menuju ke teosenstris hingga akhirnya pada antroposentris, yaitu ketika manusia menyadari posisi sentralnya dalam alam semesta.
Kemanusiaan, yang selanjutnya dikenal dengan humanisme[2] sebagai nilai tertinggi dan terakhir dalam perjuangan manusia merupakan tahap dimulainya paradigma pusat manusia setelah alam pikiran Yunani Kuno dan peradaban “Barat” beranjak dari tahap evolusi kosmosentris, yaitu alam pemikiran yang memusatkan penelitian, penghayatan hidup, dan pencarian dipusatkan pada kosmos. Setelah tahap kosmosentris diselesaikan, manusia melanjutkan penghayatan hidup dan paradigma pikirannya dengan memusatkan diri pada Yang Ilahi atau teosentris, pada Abad Pertengahan. Dalam tahap ini semesta dihayati sebagai buah karya Tuhan dan segalanya mendapatkan maknanya dalam Tuhan yang menjadi pusat. Ketika kesadaran buddhi manusia semakin cerah dan menyadari posisi sentralnya di pusat jagat raya maka ditemukan dirinya yang mampu merangkum pengalaman dan kreatif, menemukan ilmu dan teknologi, hingga manusialah menjadi pusat perkembangan pemikiran. Tahap ini dikatakan sebagai tahap antroposentris, yaitu sebuah paradigma yang menitiktolakkan pemikiran, pengembangan ilmu, dan peradaban pada manusia sebagai pusatnya.
Peristiwa-peristiwa sejarah dan kesadaran yang menjadi sebab semakin terfokusnya humanisme adalah sebagai berikut[3]. Pertama, peristiwa-peristiwa sejarah di sekitar revolusi Perancis 1789 dengan tiga nilai pokok humanis melawan otorita agama. Tiga nilai itu adalah liberte (kemerdekaan manusia), fraternite (kesederajatan manusia di depan hukum), dan manusia sama-sama bermartabat sebagai manusia. Hal ini sesuai dengan Deklarasi Wina dan Program Aksi 1993[4] yang menyatakan bahwa hak asasi manusia dan kebebasan asasi adalah hak setiap manusia semenjak lahir; perlindungan dan pemajuan hak asasi manusia adalah kewajiban utama dari pemerintah.
Kedua, revolusi industri dan perkembangan ilmu dan teknologi modern, sejak masa pencerahan manusia dengan akal budinya menentukan langkah-langkah hidupnya dengan pengetahuan. Hal ini melahirkan kesadaran sejarah bagi manusia, dan ia mulai memahami dirinya sebagai proses yang memungkinkan hidup semakin manusiawi. Ketiga, sejak masa Renaissans, rasionalitas, dan kebebasan manusia mendapatkan perhatian besar, bahkan ia mulai menjadi titik tolak dan tujuan bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. Keempat, kesadaran akan perubahan-perubahan dalam bidang-bidang kehidupan manusia, yaitu dimulai dari ditemukannya penjelasan psikoanalisa Freud dan ditemukannya jaringan komunikasi dunia yang semakin mendekatkan manusia dengan sesamanya. Kelima, sesudah Perang Dunia ke-2 bahwa kesadaran manusia untuk menghargai manusia sebagai yang bereksistensi unik dan khas, yang hancur dicabik-cabik oleh kekejaman perang muncul dalam aliran pikiran eksistensialisme yang melihat manusia sebagai makhluk unik dan khas dengan keberadaannya dalam pusat proses. Dalam eksistensialisme kebebasan manusia dan proses menjadi manusia (being) menduduki tempat sentral.
Hal ini menunjukkan bahwa sejarah perkembangan kemanusiaan telah mengalami perjalanan yang berliku-liku dan melampaui waktu yang panjang. Sementara itu, studi sosiologi dan antropologi dalam melakukan kajian-kajian terhadap beberapa pendekatan dalam pembangunan ternyata menemukan bahwa indeks mutu hidup (index quality way of life) manusia selama sepuluh tahun terakhir yang lebih banyak ditentukan dengan memperhitungkan tingkat kesejahteraan dipandang sudah tidak representatif. Artinya, pendekatan ekonomi yang lebih mengutamakan kemakmuran dalam pembangunan dianggap telah gagal. Seperti dikatakan Illick (dalam Triguna, 2000:88--89) bahwa proses pembangunan yang membawa kemakmuran bagi sebagian besar anggota masyarakat, juga telah menimbulkan dampak yang tidak diharapkan, yaitu berupa adanya kecenderungan dominasi teknologi dan hasil-hasil teknologi atas diri manusia. Tolok ukur yang digunakan untuk menilai keberhasilan pembangunan semata-mata dari ukuran yang bersifat material sehingga menciptakan struktur sosial atas dasar kualitas produksi teknologi yang dimiliki. Situasi sosial yang bertumpu pada sistem kapitalisme teknologi dan hasil teknologi membuat kemanusiaan menjadi “lumpuh”. Oleh karena itu, baik sadar maupun tidak manusia dengan segala kebebasan yang dimilikinya menjadi terbatas.
Ini berarti bahwa pendekatan pembangunan yang kapitalistik dan materialistik tidak seluruhnya mampu membawa masyarakat kepada apa yang disebut kesejateraan lahir dan batin. Di samping itu, akibat kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah memungkinkan berkembangnya sistem robot yang menyerupai seperti “manusia”. Robot-robot dengan teknologi cybernetic, bahkan telah mengambil sebagian porsi dari “kewajiban dan tanggung jawab” manusia. Binatang, seperti anjing dan kucing misalnya, dipelihara dan dilatih dengan intensip sehingga dapat mengerjakan sebagian dari pekerjaan manusia, bahkan binatang-binatang itu telah dianggap sebagai anggota keluarga dari tuannya. Kedekatan hubungan antara robot dan binatang dengan manusia, dan perlakuan manusia atas “mereka”, sepertinya robot dan binatang telah menjadi seperti manusia.
Bila robot dan binatang dapat dibuat menyerupai seperti manusia dan manusia mampu memperlakukan robot dan binatang seperti manusia maka seharusnya tidak ada persoalan mengenai hubungan sesama manusia. Mengingat hubungan sesama manusia yang inten dalam sopan santun, tata krama pergaulan, dan etika; dalam sistem dan struktur sosial yang jelas; dan dalam kebudayaan yang menegaskan keluhuran nilai-nilai hidup. Akan tetapi, pada kenyataan empiris dalam pengalaman kehidupan sehari-hari tidak jarang ditemui banyaknya persoalan yang timbul sebagai akibat dari kegagalan manusia dalam menata hubungannya. Baik hubungan antara manusia dengan alam, dengan sesama manusia maupun dengan Yang Adikodrati (Tuhan). Pada diri manusia, juga masih tampak adanya keinginan untuk saling menguasai dan saling mendominasi; intervensi dan ekploitasi terhadap lingkungan alam; dan banyak lagi kejahatan moral lainnya, bahkan kejahatan manusia terhadap kemanusiaannya.
Pada hal manusia, juga menyadari fakta bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi berfungsi sebagai menunjang yang memberi kemudahan dalam menjalankan kehidupannya. Sokrates[5] sejak abad ke-5 SM, bahkan telah menegaskan arti pentingnya memiliki keutamaan pengetahuan akan “yang baik”. Kalau kita mengetahui “yang baik”, kita tentunya akan melakukan “yang baik” itu juga. Tidak seorang pun melakukan kejahatan dengan suka rela melawan pengetahuannya sendiri akan “yang baik”. Siapa yang berbuat jahat, ia berbuat jahat karena keliru atau lantaran ketidaktahuannya akan “yang baik”. Artinya, semakin maju dan tinggi ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai manusia maka semakin baiklah perbuatan manusia, dan ini berarti semakin sedikit terjadinya kejahatan. Kejahatan terjadi adalah sebuah kekeliruan akibat dari kurangnya pengetahuan akan “yang baik”, dalam konteks kekinian pengetahuan “yang baik”, juga dapat dalam arti bahwa pengetahuan “yang baik” adalah imu pengetahuan dan teknologi yang canggih. Jadi, tidak mungkin terjadi kejahatan dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih.
Akan tetapi pada kenyataannya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak seluruhnya dimanfaatkan untuk memelihara kehidupan, manusia, dan kemanusiaan. Sebaliknya, tidak sedikit temuan-temuan yang paling canggih yang mengatasnamakan perdamaian dan kemanusiaan, justru bersifat menghancurkan dan memusnahkan kehidupan. Dalam bidang pertahanan dan keamanan misalnya, manusia telah sampai pada prestasi gemilang dan sukses menciptakan alat-alat peperangan yang supercanggih. Dalam bidang kumunikasi dan transfortasi, manusia telah mencapai puncak kesuksesan dan berhasil menciptakan alat-alat transmisi komunikasi dan pesawat transfortasi luar angkasa, yang juga dalam pemanfaatannya ternyata tidak lebih baik dari jenis persenjataan pemusnah. Dengan alasan kemakmuran, manusia telah pula melakukan intervensi dan eksploitasi terhadap alam secara membabi buta. Di bawah tanah, kegiatan pertambangan dan penggalian sumber-sumber daya alam, seperti minyak, gas, energi, batu bara, dan lain-lainnya menjadi incaran bagi kemakmuran manusia sejagat. Di atas tanah, aktivitas penggudulan hutan secara besar-besaran tanpa diimbangi dengan kegiatan penghijauan (reboisasi), juga dilakukan dengan alasan yang sama, yaitu bagi kesejahteraan manusia berabad-abad.
Sistem satelit dan komputerisasi dalam berbagai aspek kehidupan telah menggeser fenomena kehidupan yang sesungguhnya lebih bersifat kualitatif dipaksakan menjadi dalam bentuk cetakan-cetakan kuantititaf. Kesadaran moral berubah menjadi kesadaran mesin hitung, bahkan yang memiliki digital tak terbatas. Dengannya, dimungkinkan melakukan perhitungan-perhitungan dengan cepat dan mudah serta hampir tanpa bias. Model kesadaran mesin hitung ini, baik disadari maupun tidak telah memberikan kontribusi yang anti produktif dalam kehidupan sosial. Misalnya, persaudaraan dihubungkan hanya dengan sebidang tanah; pertemanan dihubungkan hanya dengan selembar rupiah; persahabatan dihubungkan hanya dengan sekaleng roti-keju; profesional dihubungkan hanya dengan e-mail; solidaritas dihubungkan hanya dengan SMS (short massage service), pesan singkat dari telepon seluler, bahkan ditayangkan melalui media televisi.
Artinya, semakin pesat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan begitu banyak kemudahan dalam kehidupan, namun tidak setiap kemudahan memberikan dampak positif. Justru dengan berbagai kemudahan telah menjadikan manusia semakin jauh dari arti dan makna kehidupannya yang sesungguhnya. Di samping melemahnya hubungan sosial, seperti ditunjukkan dengan contoh-contoh fenomena sosial di atas, bahkan juga pada kenyataan dalam kehidupan menunjukkan bahwa jumlah angka kejahatan moral yang dilakukan dengan dukungan kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi semakin meningkat, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut salah satu upaya yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan melakukan kajian-kajian tentang kehidupan. “Pengendalian diri dan menjadi diri sendiri” misalnya, dilakukan sebagai upaya untuk memahami kehidupan, manusia, dan kemanusiaan. Kepada hal itulah seluruh pengertian dan pemahaman tulisan ini dipersembahkan.
Menyadari begitu luasnya bidang kehidupan maka kajian ini hendak diarahkan hanya untuk menelusuri kejelasan tentang dimensi penting dari apresiasi manusia terhadap kehidupan, yaitu pengendalian diri dan menjadi diri sendiri. Oleh karena itu tulisan ini akan mendiskusikan persoalan, apakah pengendalian diri itu?; dan bagaimanakah menjadi diri sendiri?

2. Pembahasan
2.1 Apakah Pengendalian Diri itu?
Manusia dalam kehidupannya, baik dalam kehidupan individu maupun sosial mengalami dan menghadapi berbagai macam perubahan. Seperti dikatakan Herakleitos[6] filsuf zaman Yunani Kuna bahwa perubahan itu yang abadi. Untuk menghadapi perubahan itu maka manusia sebagai makhluk yang berkesadaran memiliki tiga daya potensial, yaitu adaftasi, penyesuaian diri, dan pengendalian diri. Adaftasi adalah kemampuan manusia dalam melakukan penyesuaian diri secara pisik atau morfologis. Seperti penyesuaian pisik terhadap cuaca dan lingkungan alam misalnya, badan berkeringat bila kepanasan, ingin buang air kecil bila kedinginan, dan lain sebagainya. Penyesuaian diri adalah kemampuan manusia dalam melakukan penyesuaian diri secara psikologis. Seperti penyesuaian diri, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain atau lingkungan sosial. Penyesuaian diri ini dapat berupa penyesuaian pikiran, perasaan, dan kehendak, misalnya, kompensasi, sublimasi, simpati, empati, dan lain sebagainya. Pengendalian diri adalah kemampuan manusia dalam melakukan penyesuaian diri secara moral. Seperti penyesuaian diri terhadap nilai-nilai, norma-norma, hukum-hukum, dan aturan-aturan misalnya, sikap saling menghormati, saling menghargai, merasa malu, merasa bersalah, dan lain sebagainya.
Walaupun diuraikan secara terpisah, akan tetapi ketiga kemampuan ini merupakan satu kesatuan yang integral, yang umumnya lebih sering disebut pengendalian diri saja. Dengan pengendalian diri, dimaksudkan bahwa manusia melakukan penyesuaian diri, baik secara pisik, psikologis maupun moral. Artinya, manusia adalah makhluk yang memiliki kesadaran (citta), pengertian (buddhi), pikiran (manah), dan ego pribadi (ahangkara)[7]. Akan tetapi, pada kenyataan dalam pengalaman empiris kehidupan sehari-hari umumnya keempat kesadaran tersebut lebih sering disebut budi saja, yang dipahami sebagai akal pikiran.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa yang dimaksudkan dengan pengendalian diri adalah segenap kemampuan manusia dalam melakukan penyesuaian diri untuk mewujudkan keselarasan, keseimbangan, dan keharmonisan dalam kehidupannya. Jadi, tujuan pengendalian diri adalah agar manusia dapat harmonis dalam berbagai dimensi kehidupan melalui berbagai upaya penyesuaian diri. Dalam pengendalian diri yang menjadi persyaratan utama adalah kemampuan untuk melakukan penyesuaian diri, sedangkan dalam penyesuaian diri yang menjadi persyaratan utama adalah kemampuan mengetahui diri sendiri dan lingkungan, baik lingkungan alam maupun sosial-budaya. Dalam melakukan upaya “mengetahui” ini diperlukan satu dimensi terpenting dari manusia, yaitu apa yang disebut dengan “kesadaran”.
Dengan kesadaran dimaksudkan bahwa manusia memiliki kemampuan berefleksi tentang dirinya dan lingkungannya[8]. Artinya, ia bisa menyadari kedudukan dan fungsinya dalam hubungannya, baik dengan lingkungan alam maupun sosialnya. Ia mengerti dan memahami keberadaan dirinya bersama-sama dengan makhluk hidup lainnya dan alam semesta atau jagat raya dalam ruang yang tak terbatas dan waktu yang berlimpah. Jadi, manusia dapat menjadikan dirinya, baik sebagai subjek maupun objek. Berkaitan dengan pengetahuannya bahwa epistemologi mengajarkan upaya untuk “memikirkan pemikiran” (to think thought) – menyusun kata-kata tentang kata-kata tentang kata-kata – sebab pemikiran filosofis bukan merupakan pengubahan, melainkan verbalisasi pengalaman[9]. Oleh karena itu, bagi pemikiran Barat “mengetahui” berarti “mengontrol”, yaitu melihat bagaimana peristiwa dicocokkan dengan tatanan kata-kata dan simbol-simbol sehingga dapat diperkirakan dan mengatur arahnya.
Dengan demikian pengendalian diri berarti suatu proses mengetahui, mengontrol, dan mengarahkan diri. “Mengetahui diri” berarti “mengontrol diri”, yaitu melihat bagaimana peristiwa “mengetahui diri” dicocokkan dengan tatanan kata-kata tentang “diri” dan simbol-simbol tentang “diri” sehingga dapat diperkirakan dan mengatur arahnya. Bukankah sering disebutkan bahwa persoalan manusia modern adalah bagaimana ia mampu mengontrol dirinya sendiri seefektif mengontrol lingkungannya? Ini merupakan rumusan persoalan dalam epistemologi bahwa pengertian dan pemahaman terhadap sang “diri” diletakkan begitu terasing dari lingkungannya. Kenyataan dalam pengalaman empiris menunjukkan bahwa sangat absurd membicarakan manusia tanpa lingkungannya karena sama tidak mungkinnya mengandaikan manusia berada dalam suatu ruang kosong tanpa lingkungan sebagai latar belakangnya. Seperti melihat lukisan, tidak mungkin dapat dilakukan dengan memisahkan dan membedakan antara kain dan cat warnanya.
Berdasarkan pengertian itu maka dapat dipahami bahwa “pengendalian diri” dapat memiliki dua sifat, yaitu ke dalam diri (internal) dan ke luar diri (eksternal). Dengan bersifat internal dimaksudkan bahwa pengendalian diri berarti mengetahui “diri” atau “aku”, yaitu ego pribadi, ego yang sadar. Kemudian “diri” sebagai ego pribadi, ego yang sadar itu dikontrol melalui pengenalan dan di arahkan ke dalam “Diri”-Nya sendiri, yaitu Diri Semesta, Diri Universal. Sebaliknya, dengan bersifat eksternal dimaksudkan bahwa pengendalian diri berarti mengetahui “diri” atau “aku”, yaitu ego pribadi, ego yang sadar. Kemudian dikontrol melalui pengenalan dan diarahkan ke luar “diri” disesuaikan dan diselaraskan dengan “diri-diri” atau “aku-aku” yang lain dalam kehidupan kejamakan, pluralistik. Jadi, inti pengendalian diri dan menjadi diri sendiri adalah harmonisasi eksternal dan internal. Keharmonisan eksternal adalah keselarasan antara “aku” atau ego pribadi dengan ego-ego pribadi yang lainnya, bahkan dengan lingkungan alam dan sosial sehingga disebut pengendalian diri. Sebaliknya, keharmonisan internal adalah keselarasan antara “aku” atau ego pribadi dengan Diri Semesta atau Diri Universal sehingga disebut menjadi diri sendiri. Hal ini sesuai dengan tujuan utama Upanisad[10] adalah membawa pergantian identitas dari ego yang tinggal sementara dalam tubuh menuju diri abadi dan tak terbatas yang tidak jauh berbeda dari semua. Dengan kata lain, tujuannya untuk menyatakan bahwa atman adalah brahman.
Sampai di sini, muncul persoalan baru, bahkan menjadi persoalan yang terpenting dalam persoalan pengendalian diri dan menjadi diri sendiri, yaitu apakah atau siapakah “diri” itu? – “diri” atau “aku” sebagai yang harus dikendalikan dan dijadikan, dikontrol, dan diarahkan. Kemudian, bagaimanakah eksistensinya dalam alam semesta ini?
Persoalan inilah dalam Upanisad dikatakan sebagai masalah utama - yang klasik - eksistensi manusia adalah ketidakperdulian terhadap hakikat sejati realitas. Ketidakperdulian terhadap hakikat sejati realitas, yang oleh Stevenson (2001) dikatakan sama dengan ketidakperdulian terhadap hakikat sejati diri sendiri. Dalam istilah yang berbeda dapat dinyatakan bahwa kesulitan manusia terdiri atas beberapa masalah identitas: manusia tidak tahu siapa dirinya sebenarnya.
Tampaknya persoalan ini yang harus diselesaikan dengan tuntas terlebih dahulu. Dengan demikian persoalan mengenai pengendalian diri dan menjadi diri sendiri, dengan sendirinya, juga akan terselesaikan. Hal ini akan dibahas pada bagian berikut.

2.2 Pengendalian Diri dan Penyesuaian Diri
Di atas telah dijelaskan bahwa pengendalian diri pada prinsipnya adalah penyesuaian diri agar tercipta keharmonisan dalam kehidupan dalam berbagai dimensi dan aspeknya. Untuk itu terlebih dahulu harus dipahami apa atau siapa “diri” (manusia) itu – hal ini akan dibahas pada bagian berikut di bawah ini.
Begitu banyak cabang ilmu yang mempelajari manusia dengan pendekatannya masing-masing maka pengertian mengenai manusia, juga menjadi amat beragam. Hal ini dimungkinkan karena manusia adalah makhluk multi dimensional[11]. Oleh karena itu muncul berbagai pandangan mengenai manusia. Antropolog misalnya, melihat hubungan manusia dengan Zat Yang Adikodrati dari sudut pandangan kebudayaan. Sosiolog yang menggunakan pendekatan sosiologi berpendapat bahwa manusia, di samping memiliki kehidupan individu, juga memiliki kehidupan sosial dalam kelompok-kelompok dan atau sebagai suatu masyarakat. Dalam kehidupan sosialnya manusia memiliki nilai-nilai, norma-norma, dan atauran-aturan, bahkan ada yang melembaga menjadi tata kehidupan bermasyarakat. Para agamawan dari berbagai agama yang ada menyatakan bahwa hubungan manusia dengan Zat Yang Adikodrati itu sebagai hubungan antara makhluk ciptaan dengan Sang Pencipta. Psikolog melihat bahwa perilaku manusia berdasarkan atas gejala pikiran, perasaan, kehendak, dan gejala campuran dari ketiganya, seperti sugesti, kelelahan, dan intelegensi.
Buddha melihat bahwa manusia adalah pikirannya, “dirimu adalah pikiranmu” – mungkin dapat ditambahkan “dirimu adalah pikiranmu dan hasil-hasil pikiranmu”. Dengan ungkapan lain untuk maksud yang sama dalam Bhagavadgita[12] Krisna mengatakan bahwa manusia adalah keyakinannya, dirimu adalah apa yang menjadi keyakinanmu, “apa keyakinanmu itulah dirimu”. Bhagavadgita, VII:4 menyatakan bahwa tanah, air, api, udara, ether, pikiran, bhudi, dan ego merupakan delapan unsur alam-Ku yang terpisah. Dalam Bhagavadgita, VII:5 dijelaskan bahwa inilah prakrti-Ku yang lebih rendah, tetapi berbeda dengannya ketahuilah prakrti-Ku yang lebih tinggi. Unsur hidup, yaitu jiwa yang mendukung alam semesta ini. Selanjutnya, dalam Bhagavadgita, VII:6 dijelaskan bahwa ketahuilah bahwa keduanya ini merupakan kandungan dari semua makhluk; dan Aku adalah asal mula dan leburnya alam semesta ini.
Ketiga seloka tersebut hendak menjelaskan bahwa manusia adalah dharma, yaitu kesatuan dan keseluruhan dari Prakrti dan Purusha – sebagaimana dijelaskan dalam filsafat samkhya. Prakrti adalah alam yang terdiri atas delapan unsur, yaitu lima unsur sebagai anasir bendawi dan tiga unsur sebagai anasir non-bendawi. Oleh karena itu, alam bukan hanya sekadar kepadatan dan kekosongan yang terdiri atas nama-nama dan bentuk-bentuk (nama rupa). Jagat raya ini bukan hanya berupa bebatuan, tanah, dan pasir atau air, cahaya, dan udara yang sama sekali bodoh tanpa perasaan dan pengertian. Segala sesuatu dinyatakan sebagai manifestasi Realitas Tertinggi, Yang Maha Esa, karena di sanalah segala sesuatunya mendapat esensi dan eksistensinya, “Aku adalah asal mula dan leburnya alam semesta ini”. Jadi, manusia dan alam memiliki anasir-anasir pembentuk yang sama, berasal dari asal yang sama, lebur kembali menjadi se-mula yang sama, kepada-Nya.
Mungkin uraian tersebut sedikit teologis, tetapi dari pengertian itu paling tidak dapat dipahami bahwa manusia adalah makhluk yang berdimensi individual, sosial, dan spiritual. Ini merupakan landasan bagi pengendalian diri terutama dalam melakukan penyesuaian diri. Ini, juga yang melandasi bagi kelahiran nilai-nilai, norma-norma, dan aturan-aturan yang harus dijunjung tinggi oleh makhluk yang bernama manusia. Di sini struktur etika-moralitas berstandar, serta kepadanya manusia wajib tunduk dan takluk karena hanya manusia yang memilikinya. Hanya manusia yang dapat disebut sebagai makhluk yang bermoral. Pada makhluk yang lebih rendah dari tingkat manusia, seperti binatang misalnya, tidak ditemukan kesadaran moral[13]. Dengan ciri khas tersebut, manusia dapat mencapai kematangan dan kedewasaan, yaitu kemanusiaan.
Nilai-nilai kemanusiaan Hindu menurut Drucker, A. seperti dijelaskan dalam Intisari Bhagavad Gita (1981) mempunyai lima dasar, yaitu (1) sathya (kebenaran), (2) dharma (kebajikan), (3) prema (kasih), (4) shanti (kedamaian), dan (5) ahimsa (tanpa kekerasan). Kelima dasar nilai kemanusiaan ini dikatakan bersumber dari rasa kasih sayang (prema). Oleh karena itu, beliau berkata sebagai berikut.
Ø “Love as thought is truth” (‘kasih sayang dalam bentuk pikiran adalah kebenaran, sathya’).
Ø “Love as action is right conduct” (‘kasih sayang dalam wujud perbuatan adalah kebajikan, dharma’).
Ø “Love as feeling is peace” (‘kasih sayang dalam wujud rasa adalah kedamaian, shanti’).
Ø “Love as understanding is nonviolence” (kasih sayang dalam wujud pengertian adalah tidak melakukan kekerasan, ahimsa’).
Artinya, di dalam diri manusia terkandung lima nilai kemanusiaan yang secara moral dan spiritual harus diketahui, dikontrol, dan diarahkan. Ke arah inilah pengendalian diri digerakkan. Oleh karena itu kelima nilai ini dapat digunakan sebagai dasar pedoman dalam penyesuaian diri. Ini merupakan pedoman dan upaya pengendalian diri yang bersifat eksternal yang bertujuan untuk menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan sesama, alam semesta, bahkan dengan Yang Maha Esa.
Dengan sathya (kebenaran) dimaksudkan agar manusia menata segenap pikirannya sehingga mampu melakukan penyesuaian diri untuk mewujudkan kebenaran. Dengan dharma (kebajikan) dimaksudkan agar manusia menata segenap perbuatannya sehingga mampu melakukan penyesuaian diri untuk mewujudkan kebajikan. Dengan shanti (kedamaian) dimaksudkan agar manusia menata segenap perasaannya sehingga mampu melakukan penyesuaian diri untuk mewujudkan kedamaian. Dengan ahimsa (tanpa kekerasan) dimaksudkan agar manusia menata segenap pengertiannya sehingga mampu melakukan penyesuaian diri untuk mewujudkan kehidupan yang tenteram, tanpa kekerasan. Dengan prema (kasih) dimaksudkan agar manusia menata segenap pikiran, perasaan, kehendak, dan seluruh pengertiannya sehingga mampu melakukan penyesuaian diri untuk mewujudkan kasih sayang semesta, yaitu jagadhita dan moksartham.

2.3 Menjadi Diri Sendiri
Sudah dijelaskan bahwa manusia dan alam memiliki kandungan yang sama, yaitu prakrti. Akan tetapi manusia dan alam dibedakan dengan adanya kehidupan atau jiwa sebagai pendukung keberadaan manusia. Oleh karena itu bagi pemikiran Hindu bahwa prinsip pemisahan ego dengan dunia sehingga ego dapat menjadi pengontrol dunia merupakan sebuah ilusi (maya). Mengingat keberadaan itu bukanlah barang sesuatu atau nama dan bentuk yang terbagi-bagi secara terpisah-pisah. Kepadatan dan kekosongan bukan sesuatu yang berdiri secara sendiri-sendiri. Dunia ide atau gagasan-gagasan tidak lepas dari dunia gejala, seperti bentuk tidak terpisah dari materinya. Oleh karena itu kesadaran individual tidak pernah tersusun dengan sendirinya, tidak bersifat unik, dan tak pernah menjadi panduan kehidupan. Dalam hal ini “aku” atau “diri” bukan kesadaran terindividualisasi semata, melainkan rahim tempat lahirnya kesadaran itu, yaitu apa yang disebut di dalam Veda dan Upanisad dengan Brahman.
Dalam kehidupan empiris sehari-hari menurut Watts (2003) bahwa manusia tidak terbiasa mengatakan bahwa “Aku adalah tubuhku”, melainkan lebih sering mengatakan “Aku mempunyai tubuh”. Dengan kata lain, manusia tidak menganggap “aku, diriku” identik dengan keseluruhan organisme pisiknya. Pada umumnya manusia menunjukkan dirinya berada di belakang mata dan di antara kedua telinga, yang diekspresikan melalui pikiran dan keyakinan. Sosok itu sama sekali tidak sama dengan tubuh karena “aku”-lah yang menghasilkan tindakan-tindakan yang sengaja, sementara tindakan-tindakan yang tak sengaja terjadi padaku. “Aku”, bahkan dipermainkan oleh tindakan-tindakan tak sengaja itu, namun pada kadar tertentu “aku”, juga dapat mempermainkan “tubuhku”. Dapat disimpulkan bahwa inilah konsepsi umum tentang apa yang disebut “diri”.
Pengertian ini mengantarkan manusia pada perasaan bahwa mereka dibesarkan dengan seonggok kesadaran yang terkurung di tengah-tengah tengkorak dalam kantong kulit. Di luar diri, manusia menghadapi sebuah alam yang sangat asing bagi dirinya bahwa apa yang ada di luar “aku” bukanlah “aku” dan terciptalah perasaan keterasingan yang asasi antara diri manusia dengan alam. Perasaan ini muncul karena pengalaman manusia yang terfragmentasi, terisolasi dalam kesepian sehingga manusia menyatakan dirinya berada di alam dan bukan keluar dari alam. Walaupun sebenarnya sangatlah absurd mengatakan bahwa manusia hadir ke alam ini. Tidak, manusia sama sekali bukan diadopsi dalam alam, manusia justru keluar darinya. Seperti ombak-ombak dalam samudera. Ombak-ombak tidak pernah datang dengan mengucapkan “permisi, saya mau tinggal di sini”, melainkan ombak-ombak itu keluar dari samudera. Seperti dijelaskan dalam Bhagavadgita, IX:4 bahwa alam semesta ini diliputi oleh-Ku, dengan wujud-Ku yang tak nyata, semua makhluk ada pada-Ku, tetapi Aku tidak berada pada mereka. Selanjutnya, dalam IX:10 dijelaskan bahwa alam semesta ini di bawah pengawasan prakrti-Ku, menjadi segala sesuatu yang bergerak dan yang tak bergerak, dengan ini dunia berputar.
Pemikiran Barat mengatakan bahwa alam sebagai ciptaan. Secara epistemologi ini berarti alam disatukan, dirakit bagian-bagiannya sampai menjadi satu alam yang utuh. Ini pemikiran fatalistik atau deterministik yang menganggap bahwa alam adalah artifisial. Pemikiran ini menganggap bahwa masyarakat adalah penjumlahan dari individu-indivu, tanpa emosi dan jiwa dari kesatuan dan keseluruhan. Jadi, alam bukan yang alamiah. Sementara itu, pemikiran Cina mengatakan bahwa alam sebagai sesuatu yang tumbuh. Ini berarti alam tergantung pada kebaikan waktu. Sebaliknya, pemikiran Hindu mengatakan bahwa alam adalah dharma. Ini berarti alam sebagai sesuatu yang menjadi dari asal mulanya, yaitu yang Satu menjadi dua bagian dalam kesatuan, terdiri atas jiwa (laten - yang tersirat) dan badan (manifes - yang tersurat). Secara tersurat misalnya, saya dan Anda berbeda, namun secara tersirat kita, saya dan Anda adalah yang sama, yang Satu, dan yang Abadi. Seperti dijelaskan dalam Bhagavadgita, IX:11 bahwa karena Aku berada dalam tubuh manusia, mereka yang tolol tidak menghiraukan Aku, tidak mengetahui prakrti-Ku yang lebih tinggi sebagai Penguasa Agung dari segala yang ada. Jadi, karena terbatasnnya kesadaran maka manusia tidak dapat memperhatikan Yang Satu sebagai perwujudan dari keberadaan.
Dengan demikian sikap dan perilaku itu bukan sesuatu yang dapat dipisahkan dari alam, yaitu dunia luar sekitar manusia. Kenyataannya bahwa manusia berpartisipasi dalam membangun karakter alam dan dalam diri manusia mengandung unsur alam yang berperan serta dalam membangun watak manusia. Segala sesuatunya senantiasa merujuk kepada realisasi dari Realitas Tertinggi, Yang Maha Esa. Kemudian, muncul kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta yang sedang berjalan, persisnya sebagaimana laut yang ombak-ombaknya sedang mengalun. Semua ombak mengalun dan satu sama lain saling menyapa. “Hai aku di sini, apa kabarmu”, namun dilakukan dengan cara berbeda-beda setiap waktu karena keberagaman adalah citra dari kehidupan. Oleh karena itu, Bhagavadgita menyebut manusia sebagai isvara-isvara kecil yang takluk. Manusia memiliki kesadaran akan badannya sendiri, tetapi berbeda dengannya, Yang Maha Esa dinyatakan memiliki kesadaran semesta, tak terbatas, yakni tidak dibatasi, baik oleh ruang, waktu, maupun penyebab (desa, kala, maupun nimmita). Yang Maha Esa sadar akan segala badan sehingga Kemahaesaan-Nya tampak terbagi-bagi, baik sebagai pencipta, pemelihara, maupun pelebur.
Ajaran tentang “diri” sebagai kesadaran, juga terdapat dalam Siwatattwa. Bhatara Siwa dijelaskan memiliki tiga aspek, yaitu Parama Siwa, Sada Siwa, dan Siwa (Siwatma). Parama Siwa adalah Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan yang masih murni, belum dipengaruhi oleh Acetana (Maya), belum menggunakan kesaktiannya, yaitu Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman. Sada Siwa adalah Tuhan yang mulai kena pengaruh Acetana (Maya) sehingga memiliki guna, sakti, dan swabhawa. Dalam hal ini Tuhan dikatakan sebagai Yang Mahatahu, Mahakuasa, Mahakarya, dan Mahasempurna. Dengan demikian Tuhan sudah menggunakan kesaktiannya atau kekuatannya, yaitu Tuhan dalam keadaan Saguna Brahman. Siwa (Siwatma) adalah Tuhan yang menjadi sumber hidup, yaitu sebagai atma atau jiwa jagat dan seluruh makhluk. Walaupun demikian Upanisad menjelaskan bahwa atman bukanlah objek kesadaran, namun subjek kesadaran atau saksi bisu kesadaran. Atman adalah sesuatu yang tahu mengenai semua pengetahuan, atau “penerima persepsi”.
Di dalam Veda dijelaskan bahwa Brahman itu yang pertama ada, satu adanya, bersifat abadi, pencipta, pemelihara, pelebur, raja alam semesta, cahaya tertinggi, pelindung, dan sebagai inti alam semesta. Demikian pula kitab-kitab Upanisad menyatakan realitas dari Brahman Tertinggi sebagai satu tanpa yang kedua, tanpa atribut atau penetapan-penetapan yang identik dengan sang diri terdalam dari manusia. Ia merupakan subjek murni yang eksistensinya tak dapat ditolak menjadi dunia eksternal atau objekltif. Dalam hal ini dapat dikatakan Brahman memiliki dua aspek, yaitu Nirguna Brahman dan Saguna Brahman. Oleh karena itu pusat ajaran Upanisad menurut Stenvenson (2001) adalah diri sejati yang merupakan dimensi abadi realitas yang tidak berbeda dengan brahman sebagai realitas tertinggi.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa Parama Siwa adalah kesadaran murni sebagai asas penyebab yang tak bersebab. Sadhasiwa adalah kesadaran dalam wujud guna, sakti, dan swabawa. Siwatma merupakan kesadaran hidupnya hidup individu dan semesta. Manusia dijelaskan melalui proses kesadaran Citta, Buddhi, Ahangkara, dan Manah[14]. Proses penciptaan, yaitu menjadi, dijelaskan dari wujud yang paling halus sampai ke wujud yang paling kasar – nama rupa. Sebaliknya, proses peleburan, yaitu penyempurnaan, dimulai dari wujud yang paling kasar sampai ke wujud yang paling halus. Artinya, manusia memiliki kesadaran yang bertingkat-tingkat sesuai dengan proses penciptaan atau menjadi itu, tetapi untuk lebih mudahnya akan dibagi menjadi dua, yaitu kesadaran manifes dan laten (meminjam istilah teori fungsionalisme-struktural dalam sosiologi).
Kesadaran manifes merupakan kesadaran berupa perhatian yang sadar sebagai ego yang sadar, ego pribadi. Kesadaran ini yang sering disebut dengan perhatian yang sadar. Manusia juga dididik bahwa kesadaran ini adalah persepsi yang paling berharga. Dengan kesadaran ini manusia mengembangkan segenap kemampuan bernalar sehingga kesadaran ini yang terlalu dimanjakan. Manusia mengidentifikasikan diri sebagai ego yang sadar, ego pribadi, kesadaran manifes, sedangkan kesadaran laten lebih sering (apabila tidak boleh dibilang pasti) dibaikan. Manusia memahami diri sebagai kesadaran manifes, yakni hanya terbatas pada ego yang melihat dan memperhatikan sehingga manusia mengabaikan dan tidak menyadari betapa luasnya keberadaan dirinya. Sebaliknya, kesadaran laten adalah kesadaran yang berupa perhatian “tak sadar”, yang justru sebagai Diri Semesta, Diri Universal. Misalnya, saya ketika dalam perjalanan bermobil dengan seorang teman. Walaupun konsentrasi kesadaran manifes saya tercerap dalam pembicaraan serius, tetapi kesadaran laten selalu mengarahkan dan mobil yang saya kendarai dapat mentaati tanda-tanda lalu-lintas di jalan raya dan mengantarkan saya selamat sampai di tujuan. Jadi, saya melihat, namun tak memperhatikan.
Oleh karena itu, pengendalian diri yang bersifat intern harus digerakkan, dari ego yang sadar, ego pribadi, ego yang manifes (ahangkara) dikontrol dan diarahkan menuju ke arah ego yang laten, ego yang menyeluruh, yaitu menjadi Diri Semesta, Diri Universal (paramasiwa). Untuk itu, manusia yang dengan penuh kedisiplinan diri, dengan pelbagai metode latihan spiritual (yang dalam lontar-lontar siwatattwa disebut sebagai prayogasandhi, yaitu tapa-brata, yoga, dan samadhi atau dalam Raja Yoga oleh Patanjali disebut Astangga Yoga) sanggup menyadari sepenuhnya kesadaran latennya. Manusia dikatakan mempunyai apa yang disebut sebagai “pengalaman mistik”, atau apa yang disebut moksa, atau pembebasan, atau kesempurnaan, yakni menemukan bahwa diri yang benar-benar mendalam, yaitu sang “diri” yang sejati. “Diri” yang sesungguhnya dan “diri” yang abadi. “Aku” atau “diri sejati” adalah seluruh keberadaan, yaitu semua yang ada, segalanya, yakni “aku”. Hanya diri yang universal, yaitu “aku”, yang mempunyai kemampuan untuk memusatkan diri pada “di sini dan kini” pada yang sangat beragam. Ketika pemahaman ini telah peroleh, muncul kesadaran bahwa kosmos menari-nari dengan ragam yang tak terbatas, namun setiap tariannya, yakni “aku”, adalah bagian dari kesatuan dan keseluruhan yang sedang berjalan. Dalam Brihad Aranyaka Upanishad disebutkan bahwa diri semua ini adalah dirimu juga; diri adalah semuanya dan semuanya adalah dirimu.
Ketika Keseluruhan telah menjadi diri murni seseorang (Atman) maka siapakah yang bisa mencium dan bagaimakah caranya? Siapakah yang bisa melihat dan bagimanakah caranya? Siapakah yang bisa mendengar dan bagaimanakah caranya? Siapakah yang bisa memberi salam dan bagaimakah caranya? Siapakah yang harus berpikir dan bagaimanakah caranya? Siapakah yang harus menerima dan bagaimanakah caranya? Bagaimanakah caranya orang dapat menerimanya seperti seseorang menerima seluruh dunia ini? Bagaimanakah caranya orang dapat menerima penerima? Sebagai penerima persepsi, atman bukanlah sebuah objek kesadaran sehingga tidak dapat diketahui dengan cara umum karena dinyatakan menjadi kesadaran itu sendiri (Stevenson, 2001:77).
Inilah “aku”, “sang diri yang sejati”. Oleh karena itu orang bijak di Timur berarti mereka yang telah mendapatkan kebijaksanaan, yang telah meraih kebijaksanaan, yang teridentifikasi dengan pernyataan “Tat Tvam Asi” (Itu adalah Kamu), “Aham Barhman Asmi” (Akulah Brahman), dan atau “Atman Brahman Aikyam” (Atman adalah Brahman). Mereka yang telah mencapai dan memiliki rahasia itu ialah yang disebut orang bijak (jivanmukta), yaitu mereka yang telah meraih dan memiliki kebjikasanaan. Jadi, kebijaksanaan adalah pengetahuan kebenaran, dalam termenologi Hindu disebut jnana. Jnana menuntun manusia berbuat kebenaran, karma marga; karma marga mengarahkan perbuatan manusia menjadi bhakti; dan bhakti yang menuntun manusia kembali kepada jnana, yaitu pengetahuan kebenaran, kebijaksanaan.

3. Simpulan
Pengendalian diri secara ekstern merupakan upaya untuk mengenal, mengerti, dan memahami diri atau mengetahui diri yang selanjutnya dikontrol, diarahkan, dan disesuaikan dengan nilai-nilai, norma-norma, dan aturan-aturan agar kehidupan menjadi selaras dan harmonis. Sebaliknya, pengendalian diri secara intern merupakan upaya untuk mengenal diri yang paling dalam untuk memperoleh kesadaran menyeluruh, Universal. Jadi, pada prinsipnya pengendalian diri adalah upaya mengetahui diri, mengontrol diri, dan mengarahkan diri agar menjadi diri (bagi dirinya) sendiri.
Oleh karena itu pengendalian diri hanya diperlukan oleh manusia karena hanya manusia adalah makhluk yang bermoral dan yang harus menjaga kemanusiaanya. Menjaga kemanusiaan, juga berarti bahwa manusia memiliki tanggung jawab terbesar dalam menjaga kelanggengan dan keselamatan alam. Mengingat manusia dan alam merupakan kesatuan dan keseluruhan yang tak terpisahkan, dan karenanya mengeploitasi alam adalah menyengsarakan diri sendiri. Alam bukan hak milik manusia, manusia tidak dapat sewenang-wenang terhadap alam. Manusia bertanggung jawab tentang alam kepada generasi manusia berikutnya. Untuk itu manusia membutuhkan kesadaran baru yang membuat setiap individu menyadari fakta bahwa dirinya yang sesungguhnya bukan hanya ego yang sadar, namun juga Diri Universal, yaitu “diri” yang adalah kesatuan dan keseluruhan dari alam semesta dan realisasi dari Realitas Tertinggi, Yang Maha Esa.
Dengan demikian tapa, yang berarti pengedalian diri, bukan dalam pengertiannya yang biasa diartikan seperti dalam etika, psikologi, dan sosiologi. Akan tetapi, pengendalian diri dalam arti dan maknanya sebagai keluasan dan kedalaman pengertian dan pemahaman mengenai kesadaran semesta. Oleh karena itu, dunia luar itu sesungguhnya adalah raga manusia yang diperluas. Bila manusia tidak sungguh-sungguh menyadari fakta bahwa ia pada dasarnya adalah “segalanya” maka manusia tidak akan bahagia dalam kehidupannya dan hanya menjadi setumpuk kecemasan yang berbaur dengan rasa bersalah. Akibatnya, manusia senantiasa berada dalam keadaan frustasi yang berkepanjangan tanpa akhir, yaitu dalam kelahiran dan kematian yang berulang-ulang – samsara.
Akhirnya, saya sukarma, di sini dan kini, mengucapkan salam,
“Apa kabarmu? Selamat datang di dunia manusia”.

Daftar Pustaka
Bahar, Saafroedin. 2002. Konteks Kenegaraan Hak Asasi Manusia. Jakarta: Pustaka Sinar harapan.

Bertens, K., 2002, Etika, Jakarta: Gramedia.

Hadiwidjono, Harun, 1980, Sari Sejarah Filsafat Barat 1 dan 2, Yogyakarta: Kanisius.

Kasturi. N. 1981. Sathyam Siwam Sundaram. Jakarta: Yayasan Sri Sathya Sai Indonesia.

­__________,1995. Kebenaran Kebajikan Keindahan II. Jakarta: Yayasan Sri Sathya Sai Indonesia.

Stevenson, Leslie & David L. Haberman, 2001, Sepuluh Teori: Hakikat Manusia, Yogyakarta: Yayasan Bintang Budaya.

Pudja, 1999, Bhagavadgita, Surabaya: Paramita.

Radhakrishnan, 1989, Upanisad-Upanisad Utama, (Jilid: I dan II) Jakarta: Yayasan Parijata.

Sastrapratedja, 1983, Manusia Makhluk Multi Dimensional, Jakarta: Gramedia.

Suka Yasa, 2004, Tesis: “Teologi Hindu Dan Nilai Kearifan Lokal Dalam Tattwa Jnana”, Denpasar: Program Magister (S2) Ilmu Agama Dan Kebudayaan, UNHI.

Sura, dkk, 2003, Siwatattwa, Denpasar: Kantor Dokumentasi Propinsi Bali

Sutrisno, Mudji, 2001, Humanisme, Krisis, Humanisasi, Jakarta: Obor.

Tjahjadi, Simon Petrus L., 2004, Petualangan Intelektual, Yogyakarta: Kanisius.

Triguna, I.B.G. Yudha. 2000, Mengenal Teori-Teori Pembangunan. Denpasar: Widya Dharma

Watts, Alan, 2003, The Tao of Philosophy, Yogyakarta: Jendela.

[1] Hadiwidjono, Harun, 1980, Sari Sejarah Filsafat Barat 1 dan 2, Yogyakarta: Kanisius.
[2] Lorens Bagus, 2003, Kamus Filsafat, Yogyakarta: Kanisius
[3] Sutrisno, Mudji, 2001, Humanisme, Krisis, Humanisasi, Jakarta: Obor.
[4] Bahar, Saafroedin. 2002. Konteks Kenegaraan Hak Asasi Manusia. Jakarta: Pustaka Sinar harapan.
[5] Tjahjadi, Simon Petrus L., 2004, Petualangan Intelektual, Yogyakarta: Kanisius.
[6] Ibid hal. 1 dan 2.
[7] Suka Yasa, 2004, Tesis: “Teologi Hindu Dan Nilai Kearifan Lokal Dalam Tattwa Jnana”, Denpasar: Program Magister (S2) Ilmu Agama Dan Kebudayaan, UNHI.
[8] Bertens, K., 2002, Etika, Jakarta: Gramedia.
[9] Watts, Alan, 2003, The Tao of Philosophy, Yogyakarta: Jendela.
[10] Stevenson, Leslie & David L. Haberman, 2001, Sepuluh Teori: Hakikat Manusia, Yogyakarta: Yayasan Bintang Budaya.
[11] Sastrapratedja, 1983, Manusia Makhluk Multi Dimensional, Jakarta: Gramedia.
[12] Pudja, 1999, Bhagavadgita, Surabaya: Paramita.
[13] Bertens, K., 2002, Etika, Jakarta: Gramedia.
[14] Suka Yasa, 2004, Tesis: “Teologi Hindu Dan Nilai Kearifan Lokal Dalam Tattwa Jnana”, Denpasar: Program Magister (S2) Ilmu Agama Dan Kebudayaan, UNHI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar