SUPUTRA

MANUSA YAJNA:
SPIRIT MEMBANGUN SUPUTRA

Oleh
I Wayan Sukarma


I. Pendahuluan
Perkembangan kemajuan jaman yang disertai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang kehidupan akhirnya membuka pola interaksi antar masyarakat dari berbagai latar belakang. Demikian pula globalisasi akan memberi peluang dan sangat memungkinkan jaringan informasi dan komunikasi akan semakin terbuka. Seperti dikatakan oleh Parimarta (dalam materi kuliah Kapita Selekta Kebudayaan, 2003) bahwa globalisasi telah melahirkan keseragaman kebudayaan bangsa-bangsa di dunia sebagai akibat dari pesatnya perkembangan investasi, informasi, industri, dan individualisasi. Artinya, kemajuan dalam bidang investasi, informasi, industri, dan individualisasi sebagai ciri-ciri globalisasi, juga memberikan dampak negatif terhadap perkembangan sosial budaya masyarakat dan penurunan kepercayaan terhadap sradha agama.
Ketegangan psikologis juga dialami, baik oleh masyarakat transisi maupun modern sebagai akibat dari terlalu banyaknya perubahan dalam waktu yang terlalu singkat. “Kejutan masa depan” seperti ini mencapai puncaknya ketika masyarakat mengalami kesulitan lain, yaitu kesulitan dalam menentukan cara-cara beradaftasi dan penyesuaian diri terhadap perubahan yang serba cepat itu. Kegagalan dalam penyesuaian diri tidak jarang berdampak sangat patal, seperti semakin tingginya keinginan untuk mengakhiri hidup dalam masyarakat Bali. Sudarsana (2004) yang menggunakan data reskrim Polda Bali 1993 – 2003 memperlihatkan pelonjakan angka bunuh diri 600 persen, yaitu dari 10 kali kasus pada tahun 1993 menjadi 62 kasus pada tahun 2003. Jika data itu dicermati menurut kabupaten dan kota maka kabupaten Karangasem menempati peringkat pertama, yaitu sebanyak 132 kasus, menyusul kabupaten Buleleng sebanyak 114 kasus, dan kabupaten Bangli menempati urutan ketiga, yaitu 111 kasus. Sementara itu, kabupaten yang paling sedikit kasus bunuh diri, yaitu kabupaten Badung, Tabanan, dan kota Denpasar, masing-masing nol kasus.
Demikian juga peningkatan kebutuhan hidup yang diiringi oleh peningkatan pendapatan akan berpengaruh secara signifikan pada pola hidup masyarakat yang cenderung hedonis dan konsumeristis. Pola hidup hedonis dan konsumeristis, jika tidak disertai dengan peningkatkan pendapatan yang memadai cenderung akan memicu tindakan kriminal dan praktek-praktek premanisme dalam berbagai demensi dan skalanya. Data mengenai keterlibatan orang Bali dalam perkara yang menyimpang dari standar moral semakin meningkat. Peningkatan data mengenai jumlah penduduk Bali yang terlibat pencurian, narkoba, dan penyimpangan lainnya sebagaimana direlease Kapolda Bali tahun 2001, 2002, dan 2003. Demikian pula kekeliruan pemahaman terhadap adat, budaya, dan agama yang diakibatkan oleh pergeseran orientasi serta terjadinya dekadensi moral yang akut akan melahirkan generasi yang immoral dan kontra produktif terhadap pembangunan yang holistik. Akhirnya, pengertian dan pemahaman terhadap jati diri dan integritas diri sebagai umat Hindu semakin jauh dari arti dan maknanya yang sesungguhnya.
Mencermati situasi dan kondisi tersebut maka pembangunan Sumber Daya Manusia, yaitu anak yang suputra melalui bidang pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya patut menjadi salah satu bidang garapan yang wajib dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh. Dalam ajaran Hindu, manusia dicermati dari berbagai demensi karena manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi pahalanya. Seperti dikatakan oleh Gorda (materi kuliah Etika Hindu, 2003) bahwa hanya manusia yang disempurnakan dengan manah, ahamkara dan buddhi. Ditegaskan pula bahwa ketiga unsur tersebut tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya. Artinya, kesempurnaan ini memberikan kekuatan dan kekuasaan kepada manusia sebagai pengatur yang sanggup mempengaruhi dunia dan sekaligus pula sebagai yang diatur yang mampu menerima pengaruh dari dunia. Dalam perbuatan mengatur dan diatur tersebut perbuatan manusia dibentuk dan diwarnai oleh tri guna dan dinilai dengan tri kaya parisuda.
Mengenai tri kaya yang parisuda haruslah memenuhi sepuluh kriteria seperti yang diuraikan dalam Sarasamuccaya seloka 80 bahwa “Manasa trividham caiva catur vinham, kayena trividham capi, dacakarma pathaccaret”. (‘Ajaran dari pikiran ada tiga, dari ucapan/perkataan ada empat dan dari perbuatan ada tiga, jadi jumlahnya ada sepuluh’). Secara lebih rinci mengenai perbuatan pikiran yang baik dijelaskan pada seloka 81, yaitu “a nabhidhyam parasvesu, sarvatvesu carusam, karmanam phalamas titi, trividham manasa caret.” (‘Perbuatan dari pikiran yang akan disampaikan, ada tiga banyaknya, antara lain tidak menginginkan dan iri hati/dengki terhadap kepunyaan orang lain, tidak membenci semua jenis binatang, dan percaya terhadap karmaphala’). Selanjutnya, perbuatan ucapan yang baik seperti diuraikan dalam seloka 82 disebutkan bahwa “asatpralapan parusyam, paicunyamanrtam tatha, catvari vaca ra jendra, na jalpennanucintayet.” (‘Yang tidak benar diperbuat dari ucapan ada empat, seperti pembicaraan yang kotor (tabu), pembicaraan keras dan kasar, pembicaraan yang memfitnah, dan pembicaraan yang bohong’). Lebih lanjut tentang perbuatan tingkah laku yang baik dijelaskan dalam seloka 83, yaitu “pranatipatam stainyam ca, paradaranathapi va, trini papini kayena, sarvatah parivarjavet”. (‘Ini yang tidak patut dilaksanakan, membunuh, mencuri, memaksakan kehendak, ini tiga perbuatan yang tidak baik dilaksanakan terhadap siapapun, di saat bersendagurau, di saat berkerumun, bahkan di dalam mimpipun sebaiknya dihindari juga itu’).
Untuk meningkatkan kualitas tri kaya supaya menjadi parisudha dalam hubungannya dengan membangun suputra, agama Hindu memberikan tiga landasan pokok ajaran yaitu Tattwa, Susila, dan Acara. Dalam kehidupan beragama sehari-hari tidaklah mungkin ketiga ajaran pokok tersebut dapat dilaksanakan secara terpisah-pisah atau sendiri-sendiri. Dikatakan demikian karena dalam pelaksanaan tattwa tidaklah mungkin tanpa kehadiran susila dan acara. Dengan kata lain, pelaksanaan acara, baik langsung maupun tidak pastilah di dalamnya terdapat pengertian dan pemahaman tentang tattwa dan susila. Walaupun demikian, dalam kajian konsep, masing-masing ajaran tersebut masih dapat diamati, dianalisis, dan diuraikan secara tersendiri. Dalam tulisan ini secara khusus akan membahas salah satu unsur tersebut, yaitu Acara. Secara lebih khusus lagi terfokus pada manusa yajna sebagai spirit membangun suputra dalam masyarakat Hindu di Bali.
Menurut Putra (1998:33) bahwa manusa yajna merupakan pendidikan, pemeliharaan, serta penyucian secara spiritual terhadap seorang anak sejak terwujudnya jasmani di dalam kandungan sampai akhir hidupnya. Artinya, proses pendidikan tidak hanya berlangsung setelah anak itu lahir, tetapi telah berlangsung dan dapat diberikan sejak anak masih dalam kandungan sebagai pendidikan pranatal. Sejalan dengan hal ini Sudharta (1993:2) juga mengatakan bahwa pembentukan watak itu sudah dimulai ketika ibu bapak mengadakan senggama yang harus dilakukan dengan tujuan mendapat anak yang baik. Oleh karena itu, konsep tentang manusa yajna sebagai spirit membangun suputra, utamanya sebagai salah satu upaya dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia perlu lebih dicermati dan diwacanakan serta disosialisasikan secara terus-menerus dan lebih sungguh-sungguh.
Dikatakan demikian karena tidak semua hal (termasuk manusa yajna) yang biasa dilakukan dan dilaksanakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari sekaligus pula dapat dimengerti dan dipahami, baik arti maupun maknanya secara utuh dan benar. Seperti misalnya, apa yang dimaksud dengan manusa yajna, upacara apa saja yang termasuk manusa yajna, apa maksud dan tujuan dari manusa yajna, apa fungsi dan manfaat dari manusa yajna, dan apa pula yang disebut dengan suputra. Akan tetapi, pertanyaan inti yang patut disampaikan adalah bagaimanakah manusa yajna menjadi spirit dalam membangun suputra?. Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan inilah merupakan maksud dan tujuan utama dari kajian ini. Selanjutnya untuk memenuhi maksud dan tujuan tersebut kajian ini bersandar pada analisis deskriptif dengan teknik eksplanasi dan interpretatif untuk memperoleh pemahaman dari teks-teks kepustakaan yang relevan.

II. Kerangka Berpikir dan Pembahasan
A. Kerangka Berpikir
Seperti telah diuraikan di atas bahwa manusa yajna merupakan kurban suci yang dilakukan dengan tulus ikhlas dan ditujukan kepada manusia, sejak bayi masih dalam kandungan, setelah lahir, dan sampai akhir hidupnya. Itu berfungsi sebagai pemeliharaan, pendidikan, dan penyucian mental spiritual agar anak menjadi seorang anak yang suputra. Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa manusa yajna mengandung dua makna, yaitu makna niskala dan sekala. Dari perspektif niskala bahwa manusa yajna diaplikasikan sebagai sebuah upacara yang bermakna simbolis, yaitu mengandung makna harapan dan semangat hidup. Pelaksanaannya diiringi dengan doa-doa dan janji diri. Makna tersebutlah sesungguhnya yang menjadi roh atau jiwa-spiritual dalam keseluruhan hidup dan kehidupan. Hal ini tampak pada arti dan makna simbolis dari sarana upakara dan mantra-mantra yang digunakan dalam prosesi upacara.
Sebaliknya, dari perspektif sekala bahwa manusa yajna dalam realitas kehidupan sebagai pengalaman empiris sehari-hari dapat berarti sebagai tanggungjawab untuk memberikan pendidikan dalam arti seluas-luasnya, baik pendidikan jalur sekolah maupun pendidikan jalur luar sekolah. Hal ini sejalan dengan makna upacara manusa yajna seperti tersebu di atas.
Melalui upacara manusa yajna dan pendidikan (jalur sekolah dan luar sekolah) yang memadai diharapkan seorang anak dapat menjadi seorang yang suputra, yaitu manusia yang mempunyai pengetahuan, memiliki keterampilan, mampu mengembangkan sikap positif, dan berwawasan agama dan kebudayaan yang mantap sehingga ia dapat berguna bagi dirinya sendiri, bagi orang tua dan keluarganya, bagi masyarakat dan lingkungannya. Hal ini merupakan inti dari tujuan pendidikan nasional (Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003), yaitu secara individual membentuk manusia mandiri dan secara sosial membentuk masyarakat madani. Artinya, agar dapat berguna seseorang haruslah dilatih, diajar, dan dididik supaya memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif yang didukung oleh budi pakerti yang luhur. Seperti dalam banyak sumber mengatakan betapa pentingnya penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Salah satu diantaranya ditegaskan dalam pustaka Slokantara seloka 55 yang menyebutkan bahwa “Ilmu pengetahuan itu bersinar di wajah orang bijaksana mengalahkan sinarnya surya. Orang bodoh itu tidak bedanya dengan tumbuhan menjalar yang kering kena sinar matahari. Pengetahuan itu adalah obor dalam jalan kehidupan”.
Agar ilmu pengetahuan dapat berguna bagi kepentingan hidup dan kehidupan (peradaban dan kebudayaan) maka sangat diperlukan seorang anak suputra yang berwawasan agama dan kebudayaan serta berbudi luhur. Dikatakan demikian karena bila ilmu pengetahuan dimiliki oleh manusia yang memiliki watak jahat maka tujuan hidup jagadhita dan moksartam seperti yang diharapkan oleh sastra-sastra agama, selamanya hanya akan ada dalam teks dan pada tingkat wacana saja. Hal ini sesuai dengan Sarasamuccahaya seloka 356 yang menguraikan bahwa “Ilmu pengetahuan itu akan sia-sia dan lenyap kesucian dan kemanfaatannya kalau dimiliki oleh orang jahat, seperti air yang berada pada tulang tengkorak mayat. Betapakah mungkin akan suci dan bermanfaat, malah akan membahayakan jika ilmu itu ada pada orang yang berbudi rendah.” Hal ini sesuai dan sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, seperti yang dijelaskan oleh Mulyasa (2003), yaitu membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beretika (beradab dan berwawasan budaya bangsa Indonesia), memiliki nalar (maju, cakap, cerdas, kreatif, inovatif dan bertanggungjawab), berkemampuan komunikasi sosial (tertib dan sadar hukum, kooperatif, demokratis), dan berbadan sehat sehingga menjadi manusia mandiri.
Uraian tersebut mengantarkan pada pengertian dan pemahaman bahwa manusa yajna sebagai upacara yang bersifat simbolis itu, selanjutnya harus diteruskan sebagai landasan semangat dan tanggungjawab orang tua dan pendidik dalam memberikan pendidikan kepada anak didik. Di sinilah peran terpenting para orang tua dan pendidik dalam zaman yang serba tak menentu dan tak terbatas ini, terutama penanaman tentang hak dan kewajiban, kebebasan dan tanggung jawab, termasuk upaya-upaya penelusuran norma-norma etis. Selain itu, pemeliharaan dan pemabangunan terhadap social capital baru perlu dikembangkan secara terus-menerus melalui konsep panyamabrayan. Dengan demikian maka konsep suputra akan dapat diwujudkan, yaitu sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beretika, memiliki nalar, berkemampuan komunikasi sosial, berbadan sehat, dan mandiri. Artinya, suputra adalah mereka (anak) yang berguna bagi dirinya sendiri, bagi orangtua dan keluarganya, dan bagi masyarakat dan lingkungannya.
Secara ringkas dalam bentuk skematis kerangka teori tentang manusa yajna sebagai spirit membangun suputra dapat ditampilkan sebagai berikut.
MANUSA YAJNA
UPACARA MANUSA YAJNA
Bersifat simbolis, supra natural
(NISKALA)
PENDIDIKAN
Bersifat aplikatif: kognitif,afektifdan psikomotor (SEKALA)
SUPUTRA
SPIRIT/
ROH/
JIWA
Berguna bagi Tuhan, leluhur dan lingkuangan alam
Berguna bagi diri sendiri, orang tua dan keluarga, masy.













B. Pembahasan
1. Manusa Yajna
Seperti disebutkan di atas bahwa manusa yajna sebagai spirit akan dipahami dari dua perspektif, yaitu dari perspektif niskala dipahami sebagai pelaksanaan berbagai jenis upacara manusa yajna dan dari perspektif sekala dipahami sebagai tanggungjawab untuk memberikan pendidikan.
Dari perspektif niskala, Putra (2000:53) menyebutkan bahwa inti dari manusa yajna adalah kurban suci dengan tulus ikhlas yang ditujukan kepada manusia dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas manusia. Artinya, dengan meningkatnya kualitas kemanusiaan pada diri manusia diharapkan manusia benar-benar dapat menjadi manusia yang manusiawi dan mampu berbuat atau bertindak sebagai manusia, yaitu mampu menjaga harkat dan martabatnya sebagai manusia. Inilah yang menjadi salah satu indikator dari seorang anak yang suputra. Hal ini tersurat dalam kekawin Ramayana yang menyebutkan bahwa suputra dipahami sebagai seorang anak yang gunawan, yaitu seorang yang pandai dalam Weda, bhakti kepada Dewa, tidak lupa memuja leluhur, dan sayang kepada keluarganya. Ia juga seorang yang gagah berani, perwira dalam ilmu kepemimpinan, memberikan pertolongan kepada orang hina, orang buta, dan kepada orang-orang suci, dan guru. Ia juga adalah seorang yang jujur, baik dalam perkataan, kepada orang lain, dan juga tidak berbohong kepada perempuan. Jadi, Ramayana lebih menekankan pada aspek keberanian sebagai landasan perjuangan hidup, seperti juga dikatakan oleh Swami Rama (2002) bahwa keberanian merupakan tangga pertama dalam menempuh perjalanan spiritual untuk sampai pada puncak kerohanian.
Berkaitan dengan perbuatan Vivekananda (1991) mengatakan bahwa perbuatan itu adalah karma dan sekaligus pula sebagai sebab dari perbuatan. Dikatakan pula bahwa kualitas karakter perbuatan manusia dibentuk dan diwarnai oleh dominasi dari salah satu atau lebih dari unsur tri guna, yaitu sattwam, rajas, dan tamas. Hal ini sejalan dengan wejangan Krsna kepada Arjuna dalam Bhagavadgita bahwa begitu manusianya begitu pula karakternya dan begitu pulalah sifat-sifatnya. Dijelaskan pula bahwa rajas merupakan sumber energi kosmis dan bergerak menurut hukum bandul, ke kiri dan ke kanan, yaitu mendorong tamas dan sattwam. Ke arah mana dominasi gerakannya memberi kecenderungan yang sama terhadap dominasi sifat manusia. Misalnya, bila gerakan rajas lebih banyak mendorong tamas maka sifat-sifat tamaslah yang mendominasi kehidupan yang bersangkutan, atau sebaliknya. Akan tetapi, untuk meningkatkan kualitas perbuatan (karma) tersebut dapat dilakukan dengan pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya termasuk salah satu diantaranya adalah melalui upacara agama Hindu, yaitu manusa yajna.
Dalam konteks manusa yajna, kualitas perbuatan dibentuk dan tergantung dari kualitas tri kaya, yaitu perbuatan pikiran, perbuatan ucapan, dan perbuatan perilaku atau tindakan. Perbuatan ini juga menjadi salah satu indikator dari seorang anak yang suputra seperti dijelaskan oleh Maharsi Patanjali dalam kitab Yoga Sutra,II:30 sebagai berikut. “AHIMSA SATYASTEYA BRAHMACARYAPARIGRHA YAMAH”. (‘Yama (pengekangan diri) terdiri atas tanpa kekerasan (Ahimsa) kebenaran (Satya), tiada mencuri (Asteya), pembujangan (selibat: Brahmacari) dan ketiadaan keserakahan (aparigraha)’). Selanjutnya pada II:32 dijelaskan bahwa “SAUCA SAMTOSA TAPAH SWADHYAYESSWARA PRANIDHANANI NIYAMAH”. (‘Pemurnian internal dan eksternal (sauca), kepuasan (kesejahteraan; Samitosa), kesederhanaan (tapah); belajar sendiri (swadhyaya), dan penyerahan diri kepada Tuhan (Iswara pranidhana), semuanya ini termasuk kepatuhan yang mantap (Niyama)’).
Menurut Putra (1998:35) bahwa upacara-upacara dalam manusa yajna tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pertama upacara penyucian terhadap hal-hal yang kurang baik yang disebabkan oleh kedua orang tua. Yang tergolong dalam upacara ini adalah upacara di dalam kandungan, kelahiran, pemberian nama, gelang serta perhiasan lain, sampai pada upacara penggungtingan rambut pertama. Kedua, upacara penyucian terhadap hal-hal yang kurang baik disebabkan oleh perbuatan sendiri semasa hidup yang lampau dan sekarang. Yang tergolong dalam upacara ini adalah upacara peringatan hari lahir/oton, meningkat dewasa, potong gigi, mawinten dan perkawinan. Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa fungsi manusa yajna adalah untuk pengruatan dan menyucikan diri secara lahir dan bathin. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa semua jenis upacara manusa yajna berfungsi untuk pengruatan dan menyucikan anak secara lahir dan bathin, mental spiritual, yang disertai dengan doa-doa dan janji diri yang didalamnya mengandung harapan-harapan agar anak menjadi manusia yang kuat pisiknya, sehat mental spiritualnya, dan selamat rohani/atman-nya.
Setelah jasmani dan rohani diruat dan disucikan melalui upacara manusa yajna secara niskala dan agar semua hal tersebut tidak sia-sia maka sepantasnya dilanjutkan dengan pembangunan suputra melalui manusa yajna sebagai usaha yang lebih realistis, yaitu melalui pemberian pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya. Seperti dijelaskan oleh Panitya Tujuh Belas (1986;14) bahwa manusa yajna itu merupakan kurban suci untuk keselamatan keturunan, memberikan pendidikan yang baik kepada anak cucu dan memberikan perlindungan dan mengusahakan kesejahteraan bagi orang lain. Hal yang paling utama yang dapat dipetik dari uraian tersebut bahwa manusa yajna juga memberikan pendidikan yang baik kepada anak cucu. Artinya, pendidikan merupakan hal yang mutlak bagi manusia dan pada kenyataannya hanya manusia yang memerlukannya. Mungkin sama halnya dengan upacara manusa yajna bahwa pendidikan sudah ada sejak manusia itu ada hanya bentuk dan sistemnya yang mengalami perubahan dan penyempurnaan sesuai dengan perkembangan kebudayaan dan peradaban manusia.
Sejak dahulu dan selamanya pendidikan telah dan akan tetap menjadi kebutuhan utama bagi manusia karena secara kodrati manusia dalam hidup dan kehidupannya senantiasa melakukan kontak dan membina hubungan, baik dengan sesama manusia, dengan lingkungan alam, maupun dengan Tuhan Hyang Maha Esa. Mengingat dalam diri manusia terdapat kekuasaan alam dan manusia turut pula menentukan karakter alam, serta segala sesuatunya dinyatakan sebagai realaisasi dari Realitas Tertinggi, Yang Maha Esa. Oleh karena itu, keberadaan manusia tidak terlepas dari realitas alam dan Yang Maha Esa, seperti disebutkan dalam Bhagavadgita bahwa Tuhan adalah awal dan akhir juga pertengahan yang bertindak sebagai pencipta, pemelihara, dan pemusnah segalanya. Dalam membina hubungan tersebut pendidikan dalam arti seluas-luasnya menjadi sesuatu yang sangat penting dan utama, jika manusia tidak mau menjadi makhluk hidup yang malang, yaitu sikap yang selalu tunduk kepada kebodohan. Seperti diuraikan dalam Manawadharmasastra, V:l09 antara lain disebutkan sebagai berikut.
Adbhir gatrani cudhyanti, Manah satyena cudhyanti, Widyatapobhyam bhrtatma, Budhir jnanena cudhyanti.

(Tubuh dibersihkan dengan air, Pikiran dibersihkan dengan kejujuran, Roh dibersihkan dengan ilmu dan tapa, Akal dibersihkan dengan kebijaksanaan).
Dari perspektif Hindu bahwa pendidikan yang paling sempurna hanya terdapat dalam ajaran Agama Hindu karena agama Hindu memandang manusia secara lebih komprehensif dan holistik. Bhuwana Kosa misalnya, memandang keberadaan termasuk manusia sebagai lima dimensi, yaitu ana, prana, mana, vijnyana, dan ananda. Bhagavadgita misalnya, juga memandang keberadaan termasuk manusia menurut lima dimensi, yaitu brahman (Tuhan), atman (hidup), prakerti (alam material), kala (waktu), dan karma (perbuatan). Oleh karena itu, pendidikan dipandang bukan hanya sebagai ilmu pengetahuan konvensional saja atau hanya sebagai filsafat belaka, tetapi lebih dari itu, yaitu sebagai jiwa-spiritual. Misalnya, upacara magedong-gedongan, yang ditujukan kepada bayi yang masih dalam kandungan ibunya. Di samping sebagai upacara (yajna) juga sangat diyakini dan memang dimaksudkan sebagai pendidikan pranatal. Setelah lahir anak menerima pendidikan dari kedua orang tua (ibu dan ayah) dan dari lingkungan sekitarnya. Di dalam keluarga anak dikatakan menerima pendidikan yang pertama dan utama karena di dalam keluarga untuk pertama kalinya ia belajar etika sebagai tatakrama hidup; mengikuti keyakinan dan kepercayaan orang tuanya; belajar dan melatih keterampilan-keterampilan sederhana; dan dilanjutkan dengan kebiasaan-kebiasaan keluarga lainnya. Setelah berusia kurang lebih 6 atau 7 tahun pendidikannya dilanjutkan ke pendidikan jalur sekolah.
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan nasional dilaksanakan melalui pendidikan jalur sekolah dan pendidikan jalur luar sekolah dengan jenjang pendidikan pra sekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Di samping itu, pemerintah juga menyelenggarakan pendidikan kedinasan melalui lembaga dan badan-badan tertentu secara khusus dengan tujuan untuk meningkatkan sumber daya manusia di lingkungan lembaga atau badan tersebut. Seperti pendidikan kedinasan untuk TNI, Polri, Departemen Dalam Negeri atau pendidikan perbankan. Sebaliknya, khusus pendidikan jalur luar sekolah dilaksanakan di dalam keluarga dan masyarakat melalui kursus-kursus.
Untuk memahami seperti apa sistem pendidikan nasional tersebut dapat dicermati dari visi dan tujuannya. Dalam hal ini Mulyasa (2003:19) menjelaskan bahwa ”Visi makro Pendidikan Nasional adalah terwujudnya masyarakat madani sebagai bangsa dan masyarakat Indonesia baru dengan tatanan kehidupan yang sesuai dengan amanat proklamasi Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui proses pendidikan. Masyarakat Indonesia baru tersebut memiliki sikap dan wawasan keimanan dan akhlak tinggi, kemerdekaan dan demokrasi, toleransi dan menjunjung hak asasi manusia, serta berpengertian dan berwawasan global.”
Dari visi makro pendidikan nasional tersebut dapat diketahui bahwa pembentukan sikap dan wawasan, iman dan akhlak serta pemahaman tentang hak asasi manusia merupakan hal prinsip dan utama dalam mewujudkan masyarakat yang madani. Hal prinsip dan utama tersebut sesungguhnya juga menjadi tujuan dan harapan dari manusa yajna, bahkan telah diupayakan dan diperjuangkan dengan upacara magedong-gedongan sejak anak masih dalam kandungan ibunya, sebagai pendidikan pranatal.
Selanjutnya Mulyasa (2002:21) menegaskan pula bahwa “Pendidikan Nasional bertujuan membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beretika (beradab dan berwawasan budaya bangsa Indonesia), memiliki nalar (maju, cakap, cerdas, kreatif, inovatif dan bertanggungjawab), berkemampuan komunikasi sosial (tertib dan sadar hukum, kooperatif dan kompettitif, demokratis), dan berbadan sehat sehingga menjadi manusia mandiri.”
Dari tujuan pendidikan nasional tersebut dapat dimengerti dan dipahami bahwa pendidikan jalur sekolah memberikan pembinaan dalam hal penataan hubungan anak dengan Tuhan, pembentukan pribadi dan nalar, pemahaman dalam bidang usaha dan pemahaman sosial, dan kesehatan agar menjadi manusia mandiri. Hal ini sesungguhnya merupakan aktivitas yang lebih nyata dan bersifat memberi (isi, arti, dan makna dari upacara manusa yajna), dan melanjutkan, meningkatkan, melengkapi, serta menyempurnakan dari pengruatan dan penyucian jasmani dan rohani, mental spiritual, doa-doa, janji diri, jiwa spiritual, dan harapan-harapan, baik yang telah maupun yang akan dilaksanakan melalui upacara manusa yajna.

2. Spirit
Lorens Bagus (2002;1034-1035) dalam Kamus Filsafat menjelaskan bahwa spiritual/rohani, bahasa Inggris: spiritual; latin spiritualis; dari spiritus (roh). Di berikan beberapa pengertian tambahan sebagai berikut.
· Imaterial. Tidak jasmani. Terdiri atas roh.
· Mengacu ke kemampuan-kemampuan lebih tinggi (mental, intelektual, estetik, religius) dan nilai-nilai pikiran
· Mengacu ke nilai-nilai manusiawi yang non material seperti keindahan, kebaikan, cinta, kebenaran, belaskasihan, kejujuran dan kesucian.
· Mengacu ke perasaan dan emosi-emosi religius dan estetik.
Berikutnya dijelaskan bahwa spiritualisme – sebuah istilah dengan kaitan filosofis dan religius. Secara filosofis, kadang istilah ini digunakan sebagai sinonim Idelisme. Dalam agama, adakalanya istilah ini mengacu kepada penjelmaan roh.
Selanjutnya, Wiana (2002) secara inplisit mengatakan bahwa tujuan sebuah upacara manusa yajna adalah untuk memberikan jiwa spiritual pada manusia. Dalam pemahaman ini bahwa upacara manusa yajna itu mengandung nilai untuk menumbuhkan kesadaran atman pada umat manusia bahwa hidup ini bukanlah jasmani. Hidup adalah merohanikan jasmani. Artinya, hendaknya jasmani ini mengikuti nilai-nilai rohani dan bukan sebaliknya. Jadi, di samping memperhatikan paham materialistis, Hindu juga menekankan pentingnya paham idealistis dalam merumuskan konsepsi dan strategi serta melaksanakan pendidikan. Paradigma pendidikan Hindu yang multicomplex seperti itu tertuang dalam banyak kitab suci Hindu, seperti banyak diuraikan dalam kitab-kitab sastra. Misalnya, Dharmasastra, Manawadharmasastra, Arthasastra, Yogasastra, Nitisastra, dll.
Dalam tulisan ini spirit dimakanai sebagai roh atau jiwa. Manusa yajna diberi makna secara simbolis (niskala) sebagai roh atau jiwa membangun suputra yang aktivitasnya terdiri atas berbagai jenis upacara manusa yajna yang dilaksanakan sejak bayi masih berumur tujuh bulan dalam kandungan, ketika si anak lahir, dan sampai dengan akhir hidupnya. Di samping itu, manusa yajna juga dimaknai secara lebih realistis (sekala) sebagai jiwa atau roh membangun suputra dalam kehidupan nyata dalam kehidupan masyarakat, yaitu dimaknai sebagai tanggungjawab nyata dalam bentuk memberikan pendidikan dalam arti dan makna yang seluas-luasnya. Akhirnya, kedua makna spirit tersebut dipercaya dan diyakini memberikan pengaruh yang postif, baik langsung maupun tidak langsung terhadap pembangunan suputra.


3. Suputra
Suputra merupakan tujuan akhir dari pelaksanaan semua jenis upacara manusa yajna. Seperti dijelaskan oleh Putra (2002) bahwa manusa yajna itu adalah Ritual Agama Hindu yang juga disebut Sarira Samskara, yaitu upacara untuk menyucikan manusia sejak dalam kandungan ibu hingga perkawinannya dengan tujuan untuk memanusiakan manusia, yaitu dengan menginisiasi manusia dari satu tahap hidup sampai menuju tingkatan yang lebih tinggi status kemanusiaannya sampai menjadi seorang anak yang suputra. Lebih lanjut dijelaskan pula bahwa seorang anak yang suputra adalah anak sebagai manusia yang dapat menjaga harkat martabatnya sebagai manusia dengan kebijaksanaan. Dikatakan demikian karena menurut Panitya Tujuh Belas (1986) bahwa kata manusa berasal dari bahasa Sanskerta dari akar kata manu yang artinya bijaksana. Suputra adalah manusia yang memiliki kebijaksanaan, yaitu kemanusiaan.
Dalam pandangan Sarasamuccaya bahwa perilaku suputra disebut sebagai anak yang sejati, seperti diuraikan pada seloka 227 sebagai berikut.
Yesam na pacate mata yesam na pacate pita,
Ucchestam ye ‘bhikamksanti tesametanmahasukham.

(Adalah orang yang begini perilakunya,
tidak menjadikan ibu bapaknya tukang masak,
iapun tidak makan, jika tidak disuruh oleh ibu-bapanya,
segala sesuatu yang dimakannya yang telah disisakan oleh ibu-bapanya, itulah dimakan olehnya setiap hari,
orang yang demikian perbuatannya,
adalah merasa dirinya senang dan puas,
sebab memperoleh kebahagiaan yang tiada taranya kelak).

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa seorang anak dikatakan anak yang suputra adalah anak yang sejati, yaitu anak yang menghormati orang tuanya. Selanjutnya dalam seloka 228 diuraikan sebagai berikut.
Durbalartham balam yasya tyagartham ca parigrahah,
Pakascaivapacitartham pitarastena putrinah

(Yang dianggap anak, adalah orang yang menjadi pelindung orang yang memerlukan pertolongan, serta untuk menolong kaum kerabat yang tertimpa kesengsaraan, untuk disedekahkan tujuannya, akan segala hasil usahanya, gunanya ia memasak menyediakan makanan untuk orang orang miskin, orang yang demikian itu putra sejati namanya).

Dari kutipan tersebut dapat digambarkan bahwa anak yang suputra itu adalah seorang anak yang mampu memberikan perlindungan dan pertolongan bagi keluarga dan masyarakat. Seloka 229 lebih lanjut menguraikan tentang suputra sebagai berikut.
Anu tam tata jivanti jnatayah saha bandhavaih,
Perjanyamiva bhutani drumam svadumivandajah.

(Demikian pula orang yang dijadikan tempat berlindung oleh kaum kerabatnya, sebagai halnya dewa Indra, Deva Hujan, yang merupakan sumber kehidupan sekalian makhluk, dan bagaikan pohon kayu rindang yang merupakan kehidupan burung, demikian ia itu merupakan kehidupan orang-orang seisi rumahnya, orang yang demikian keadaannya itulah anak sejati namanya).

Dari kutipan tersebut dapat diketahui bahwa anak yang suputra itu adalah anak yang dapat memberikan kehidupan, yaitu nafkah bagi keluarganya dan mampu memberikan perlindungan bagi masyarakat.
Pengertian tersebut mengantarkan pada pemahaman menurut Sarasamucchaya bahwa suputra adalah anak yang memiliki rasa hormat kepada orang tua (ayah dan ibu) mampu menjadi pelindung dan penolong serta memberikan kehidupan bagi keluarga dan masyarakat. Akan tetapi, dalam Lontar Putra Sesana dikatakan bahwa “Sesungguhnya tugas anak, melanjutkan dharma orang tuanya, yang menyebabkan senangnya hati orang tua adalah perilaku anak yang tidak meninggalkan agamanya”. Lontar Putra Sesana lebih lanjut juga menguraikan bahwa “Inilah perilaku putra yang selalu hormat dan bhakti terhadap orang tua, sebab beliaulah penyebab kelahirannya. Janganlah dhurhaka terhadap ibu–bapak, janganlah salah terka dan berkata-kata kasar atau tidak pantas, janganlah memperkosa milik ibu-bapak, janganlah mencerca, mengumpat, berlaku kasar, mencaci maki dan mengatakan yang tidak baik kepada ibu – bapak, janganlah makan bagian ibu-bapak, janganlah bertindak kasar, janganlah membawa perintah ibu-bapak, karena anak yang berani kepada ibu-bapak akan mendapat hukuman.”
Dari kutipan-kutipan tersebut di atas dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan suputra adalah anak yang memiliki kemantapan bhakti, jnana, dan karma sehingga ia dapat berguna bagi dirinya sendiri, bagi orang tua dan keluarganya, dan bagi masyarakat dan lingkungannya. Jadi, dapat dikatakan bahwa suputra merupakan konsep ideal manusia Hindu yang berbasis Weda, karena itu perlu diwacanakan dan dipahami secara lebih baik. Dalam perspektif Hindu manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk hidup yang hanya berjasmani saja, tetapi jauh lebih komplek dari sekedar berjasmani. Tujuan hidup manusia juga tidak terbatas hanya pada kesejateraan duniawi saja (jagadhita), tetapi jauh dari hal itu, yaitu kebebasan abadi yang disebut moksah. Hal ini dapat ditelusuri melalui berbagai sumber, seperti dalam kitab suci Weda (Sruti dan Smerti), Tattwa-tattwa (Bhuwanakosa, Siwatattwa, Wrhspati Tattwa, Ganapati Tattwa, Sanghyang Mahajnana, Jnana Tattwa, jnanasiddhanta, dll), dan dari berbagai jenis purana, itihasa, dan lontar-lontar yang berbahasa Kawi atau bahasa Jawa-kuno.

III. Simpulan
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa manusa yajna di samping sebagai jiwa atau roh dari upacara yang bersifat meruat dan menyucikan anak secara lahir dan bathin, juga dapat menumbuhkan kesadaran dan pemahaman bahwa hidup itu adalah rohani dan bukan hanya sekadar jasmani. Pemahaman atas makna manusa yajna seperti itu maka secara lebih aplikatif dapat diartikan sebagai semangat dan tanggung jawab untuk memberikan pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya lebih paripurna dalam rangka membangun suputra. Dalam hal ini penekanannya lebih ditujukan kepada orang tua atau pendidik dan masyarakat bila dibandingkan dengan anak itu sendiri, terutama dalam hal menciptakan kondisi pembelajaran yang relatif lebih kondusif. Oleh karena itu, untuk mewujudkan anak yang suputra merupakan upaya bersama dari berbagai pihak, seperti kenyataan empiris dalam kehidupan sehari-hari tidak ada satupun jenis yadnya yang dapat dilaksanakan tanpa mengikutsertakan orang lain. Seperti ditegaskan oleh Koentjaraningrat (1985) bahwa setiap sistem religi memiliki unsur-unsur sistem keagamaan, umat beragama dan pemimpin upacara, alat-alat dan sarana upara agama, tempat upacara.
Anak yang suputra adalah anak yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan, yaitu bijaksana (jnana), memiliki rasa hormat (bhakti), berdaya-guna, terampil dalam bekerja dan berkarya (karma), penuh dedikasi dan disiplin (yoga). Jadi, anak yang suputra adalah anak yang mantap dalam jnana, bhakti, karma, dan yoga, sehingga ia berguna bagi dirinya sendiri, keluarga dan masyarakat, nusa dan bangsa.
Sebagai pedoman menata pikiran, ucapan, dan tindakan bagi pembinaan anak yang suputra sesuai dengan etika Hindu yang diuraikan dalam kitab Nitisatakam (2003), akan dipetik dua bait sebagai berikut.
I
Apakah keberuntungan di dunia ini
(Bergaul dengan orang baik)
Apakah kesedihan itu
(Bergaul dengan orang jahat)
Apakah kerugian itu
(Tidak memanfaatkan waktu dengan baik)
Apakah kepandaian itu
(Selalu berpedoman kepada agama)
Siapakah yang disebut pemberani
(Yang mampu mengalahkan sebelas inderanya)
Siapakah kekasih yang sebenarnya
(Ia yang setia)
Apakah kekayaan itu
(Pengetahuan yang benar)
Apakah kebahagiaan itu
(Tidak tinggal di negeri orang)
Apakah pemerintahan itu
(Di mana tidak ada pelanggaran)

II
Busana kekayaan adalah keramahan,
Busana orang kuat adalah ucapan halus,
Busana pengetahuan adalah kedamaian,
Busana orang yang belajar buku suci adalah kerendahan hati,
Busana tapa tidak lekas marah,
Busana orang besar adalah sifat pemaaf,
Keindahan dharma adalah tidak mencela agama orang lain.



14 PEDOMAN HIDUP MANUSIA

1. Musuh terutama manusia adalah dirinya sendiri.
2. Kegagalan terutama manusia adalah kesombongan.
3. Kebodohan terutama manusia adalah sifat menipu.
4. Kesedihan terutama mabusia adalah rasa iri hati.
5. Kesalahan terutama manusia adalah mencampakkan diri.
6. Dosa terutama manusia adalah menipu diri kita sendiri.
7. Sifat manusia yang terkasihan adalah rasa rendah hati.
8. Sifat manusia yang paling dapat dipuji adalah semangat dan keuletan.
9. Kehancuran terbesar manusia adalah rasa keputusasaan.
10. Harta utama manusia adalah kesehatan.
11. Hutang terbesar manusia adalah hutang budi.
12. Hadiah terutama manusia adalah lapang dada dan mau memaafkan.
13. Kekurangan terbesar manusia adalah sifat berkeluh-kesah dan tidak memiliki kebijaksanaan.
14. Ketenteraman dan kedamaian manusia adalah suka berdana dan beramal.



“ia yang memahami dan melaksanakan
jnana, bhakti, karma, dan yoga disebut suputra”


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Bagus, Lorens. 2002. Kamus Filasafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Gorda, IGN, 2003, “Materi Kuliah Etika Hindu pada Program Magister (S2) Ilmu Agama dan Kebudayaan”, UNHI: Denpasar.

Kajeng. N. dkk. 2000. Sarasamusccaya. Surabaya: Paramita.

Panitya Tujuh Belas. 1986. Pedoman Sederhana Pelaksanaan Agama Hindu dalam masa Pembangunan. Jakarta: Yayasan Merta Sari.

Parimartha, Gede, 2003, “Materi Kuliah Etika Hindu pada Program Magister (S2) Ilmu Agama dan Kebudayaan”, UNHI: Denpasar.
Putra, Ny. I G. A. Mas Mt., 1998, Panca Yajna, Paramita : Surabaya.
Sudharta, Tjok Rai, 2003, Slokantara Untaian Ajaran Etika, Teks Terjemahan dan Ulasan Surabaya : Paramita.

______________,1997. Manusia Hindu dari Kandungan sampai Perkawinan. Denpasar: Yayasan Dharma Naradha.

Triguna, Yudha, I.B, 2004, “Perubahan karakter dan Penurunan Social Capital Masyarakat Bali: Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis 41 dan Wisuda 29 Universitas Hindu Indonesia”, Denpasar.

Wiana, Ketut, 2002, Makna Upacara Yajna dalam Agama Hindu, Paramita:Surabaya.

BALI PUSEH

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Bumi Rumah Kita

  Membaca Ulang Wasudewa Kutumbakam   I   W a y a n   S u k a r m a   Bumi adalah rumah kita bersama. Dunia adalah keluarga kita...