Sabtu, 25 Mei 2013

HINDU



Studi Agama dan Keberagamaan Umat Hindu

                                                          I Wayan Sukarma 


Manusia menjalankan kehidupannya pada sepanjang garis eksistensinya, yaitu garis antara titik asal-mula dan titik tujuan kehidupan. Apabila mengikuti pemikiran Bhagavad Gita maka titik asal-mula dan titik tujuan kehidupan adalah Tuhan; dan karenanya sepanjang garis eksistensi kehidupan manusia haruslah bernilai ketuhanan. Nilai ketuhanan begitu abstrak sehingga ketika mengekspresikan dirinya, manusia memodifikasi garis eksistensi kehidupan menjadi bidang-bidang kehidupan. Bidang-bidang kehidupan ini memiliki karakteristik dan orientasi nilai masing-masing misalnya, ekonomi, politik, sosial, budaya, agama, dan bidang kehidupan lainnya. Bidang-bidang kehidupan, selain agama memiliki tujuan yang lebih jelas dan terukur. Bidang politik memiliki tujuan kekuasaan sehingga ukuran orang yang sukses dalam politik, kalau ia memperoleh kekuasaan. Dalam bidang ekonomi khususnya bisnis memiliki tujuan keuntungan sehingga ukuran orang yang berhasil dalam bisnis, kalau ia memperoleh keuntungan. Kalau begitu, bagaimanakah tujuan bidang kehidupan agama dan bagaimanakah mengukur tingkat keberhasilannya?  
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut patut disadari bahwa pengkaplingan kehidupan menunjukkan, keterbatasan manusia terutama terbatasnya pengetahuan tentang titik asal-mula dan titik tujuan kehidupannya. Keterbatasan ini disebabkan karena keberadaan kedua titik ini bukan dalam dunia fisis-materialistis, melainkan dalam dunia metafisis-idealistis. Dunia ini niscaya adanya, tetapi di luar jangkauan kekuatan akal dan kemampuan nalar sehingga kehadiran manusia ke dunia seperti buku tanpa bagian pendahuluan dan penutup. Dalam upayanya menyusun kedua bagian ini, yakni memahami titik asal-mula dan titik tujuan kehidupannya, manusia berspekulasi dan bereksplorasi masuk ke dalam dunia metafisis-idealistis melalui agama. Inti agama adalah iman, yaitu penyerahan diri kepada Tuhan, Dialah satu-satunya andalan dalam kehidupan. Dalam agama iman harus menjadi patokan sehingga rumusannya harus disesuaikan dengan budaya dan bahasa setempat, agar iman dapat dipahami oleh orang yang memiliki budaya dan bahasa yang berbeda.
Apabila dikembalikan kepada latar belakang kehadiran agama dalam kehidupan manusia dengan pertanyaan, mengapakah manusia beragama maka setidak-tidaknya ditemukan enam dorongan pokok, yaitu untuk memperoleh rasa aman dan nyaman, mencari perlindungan hidup, menemukan penjelasan atas realitas termasuk dunia dan hidup itu sendiri, memperoleh segala pembenaran atas praktik-praktik hidup yang serba relatif, menemukan tata nilai yang sudah mengakar dalam masyarakat, dan memuaskan kerinduan mendalam atas hakikat hidup dan kehidupan. Ini sekaligus merupakan variabel untuk mengukur kesuksesan orang dalam beragama, yakni sejauh mana dasar dan tujuan beragama telah menjadi bagian dari dirinya dalam keseluruhan kehidupannya. Artinya, bidang religius semestinya telah meresapi kehidupan bidang-bidang kehidupan nonreligius sehingga seluruh bidang kehidupan bernilai dan bermakna religius.      
Dengan demikian tujuan bidang kehidupan agama adalah meningkatkan kemampuan menghubungkan titik asal-mula dan titik tujuan kehidupan menjadi satu garis lurus eksistensi kehidupan. Semakin lurus garis eksistensi kehidupan, semakin efektif peran dan fungsi agama dalam kehidupan manusia, dan semakin tinggi tingkat keselarasan kehidupan antara dunia metafisis-idealistis dan dunia fisis-materialistis. Orang yang sukses dalam bidang agama ditandai oleh keseimbangan dan keselarasan kehidupan antara dunia metafisis-idealistis dan dunia fisis-materialistis berdasarkan imannya kepada Tuhan karena Dialah yang esensial pada setiap agama. Ini berarti agama dapat memainkan perannya untuk mengarahkan pemeluknya memaknai iman kepada Tuhan. Pemaknaan iman kepada Tuhan yang keberadaannya dalam dunia metafisis-idealistis diharapkan dapat mencerahi kehidupan dunia fisis-materialistis yang terkapling-kapling sesuai dengan pengetahuan dan kebutuhan manusia. Jadi, iman bukanlah entitas yang lepas dan terpisah dari dunia nyata, tetapi bersentuhan dengan bidang-bidang kehidupan lainnya. Dengannya agama lebih fungsional dalam kehidupan manusia, antara lain menjadi sumber penjelasan terakhir tentang masalah kehidupan, menjadi sumber ketenangan dan kedamaian, menjadi pembenaran atas praktik-praktik kehidupan, serta meneguhkan tata nilai dan memuaskan kerinduan manusia yang paling mendalam. 
Artinya, agama memiliki peran transformatif dalam bidang-bidang kehidupan manusia, seperti proses sosial, kultural, dan ekonomi, oleh karena itu pembangunan, pembinaan, dan pengembangan agama menjadi agenda penting dan niscaya. Iman dan agama dituntut agar lebih dinamis melakukan dialog dengan bidang-bidang kehidupan lainnya untuk saling menyumbangkan potensinya dan saling melengkapi. Dengannya iman tidak kering, melainkan lebih hidup dan bergairah dalam dunia praksis kehidupan yang kaya dengan kontradiksi nilai dan norma. Perbedaan ukuran moral yang berlaku dalam setiap bidang kehidupan telah memacu munculnya upaya saling mendominasi antarbidang kehidupan sehingga manusia mengalami anomali dalam kebingungan berkepanjangan. Kebingungan dalam bidang-bidang kehidupan ini menyebabkan manusia semakin tersesat sehingga semakin jauh menyimpang dari titik asal-mula dan titik tujuan kehidupan itu sendiri. Manusia tergiring semakin jauh keluar dari garis eksistensinya karena semakin tingginya tingkat persaingan antara bidang kehidupan agama dan nonagama. Ini menjadi undangan kepada pemimpin agama untuk merefleksikan kenyataan, persaingan antara agama dan bidang-bidang kehidupan lainnya. Apalagi dalam perkembangan dunia yang semakin mengglobal, tempat agama dan bidang-bidang kehidupan lainnya saling mendominasi yang tidak menguntungkan manusia itu sendiri. 
Patut disadari inti globalisasi adalah komunikasi dan interaksi yang semakin instensif. Intensitas komunikasi dan interaksi ini menghapus relevansi batas ruang dan waktu. Dengan demikian sekat-sekat spasial dan temporal yang memisahkan manusia semakin lentur, bahkan kabur. Dalam sekat-sekat spasial dan temporal yang sedemikian kabur, agama semakin luluh bersama dengan kepentingan nonreligius dan nonspiritual. Padahal kepentingan religius dan spiritual merupakan hakikat agama yang semestinya diperjuangkan umatnya dalam bidang kehidupan agama. Dengannya agama mampu bertahan dan meresapi bidang-bidang kehidupan lainnya sehingga nilai ketuhanan pada garis eksistensinya tidak semakin baur. Akan tetapi kenyataan menunjukkan bahwa agama menjadi korban dari sebuah sistem dunia yang meluluhkan dimensi spasial dan temporal serta melebur segala tindakan ke dalam ukuran yang tanpa ukuran. Dalam agama, iman yang berarti kepercayaan kepada Tuhan atau mengandalkan diri kepada Tuhan semakin kabur. Kekaburan ini menyulitkan melakukan pembacaan terhadapnya sehingga iman tidak menemukan arti dan makna sejatinya. Ini dipicu oleh semakin tingginya frekuensi pemujaan terhadap berhala modern, seperti penghargaan yang berlebihan terhadap kemampuan ilmu pengetahuan dan kekuatan teknologi, pengagungan yang berlebihan terhadap seks, dan konsumerisme.
Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin dihargai karena ilmu pengetahuan mampu menjelaskan realitas yang memuaskan akal-rasionalitas dan teknologi mampu memberikan berbagai kemudahan dalam kehidupan. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia membangun benteng penalaran untuk mempertahankan diri dari serangan kebodohan agar kehidupan lebih sejahtera. Upaya membangun benteng penalaran ini telah mendorong aktivitas pendidikan ke arah pencapaian kemajuan dalam bidang teknologi dan industri untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Tanpa disadari sikap demikian telah memosisikan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi dewa pujaan, dan karenanya posisi Tuhan semakin terpinggirkan. Demikian juga seks yang memberikan perasaan hidup, gairah, kreatif, dan membuat manusia berharga kemudian, dipandang sebagai hal yang berdiri sendiri dan dijadikan komoditi yang dapat diperjual-belikan. Oleh karena begitu diagung-agungkan kemudian, seks berubah menjadi dewa pujaan dan dijadikan penawar segala masalah dan kegelisahan hidup. Apabila seks telah menjadi penawar kegelisahan hidup, bahkan dapat dijadikan modal ekonomi maka kerakusan atas kenikmatan dengan mengikuti nafsu-selera tidak terhindarkan.
Kerakusan untuk memakan dan menghabiskan segala produk yang ditawarkan pasar dengan mengikuti nafsu-selera inilah konsumerisme. Sikap konsumeristis mendorong orang hendak menikmati atas desakan sikap hedonistis sehingga produk-produk teknologi modern yang merupakan produk zaman maju sekaligus menjadi lambang kemajuan. Orang yang menggunakan produk-produk ini merasa dirinya menjadi orang modern. Sebaliknya, orang akan merasa kuno-kolot, bila tidak bisa menggunakan barang-barang hasil produksi terbaru, bahkan tidak ’komplit’ rasanya, bila tidak memenuhi hasrat memiliki barang-barang hasil industri terbaru. Sikap yang demikian ini mendorong orang semakin meningkatkan hasratnya untuk mendapatkan kenikmatan dari segala yang dianggapnya dapat memberikan kenikmatan. Kehadiran individu dalam dunia sosialnya kemudian, lebih ditentukan oleh tingkat penikmatan atas kenikmatan produk-produk teknologi modern. Pada gilirannya orang lebih mempercayakan dirinya kepada ilmu dan lebih mengandalkan dirinya kepada teknologi modern daripada Tuhan. Oleh karena itu ilmu dan produk teknologi modern disembah menjadi berhala dan di luar kesadaran telah menggeser posisi keimanan kepada Tuhan.
Persoalan menjadi semakin kusut, ketika agama ataupun bidang kehidupan nonagama lainnya belum menangkap hakikat perkembangannya dan belum mampu menentukan posisinya masing-masing, bahkan ditambah lagi hubungan antara mereka semakin dikacaukan oleh berbagai macam konflik dan ketidakharmonisan. Silang-sengkarut hubungan antara bidang kehidupan dan ketika mereka harus menemukan posisinya masing-masing, ternyata bidang kehidupan nonreligius meninggalkan jejak dalam bidang kehidupan religius. Misalnya, ketika agama dijadikan instrumen politik, ekonomi, dan bahkan industri akibatnya, fondasi bidang kehidupan religius semakin rapuh. Ditambah lagi posisinya yang semakin terdesak oleh pemujaan berhala zaman modern sehingga bidang kehidupan agama berubah menjadi sekadar sudut kehidupan. Agama benar-benar sudah disodok seperti bola billyard dipinggirkan dari lapangan permainan kehidupan. Kenyataan ini menambah beban tanggung jawab yang dapat menggoyahkan konsentrasi perhatian pemimpin agama terhadap tugas utamanya.  
Keterpinggiran peran dan fungsi agama dalam persaingannya dengan bidang-bidang kehidupan lainnya tidak lepas dari semakin biasnya pemahaman mengenai iman itu sendiri. Inilah yang mendorong munculnya kapling-kapling baru dalam bidang kehidupan agama dan ini terjadi pada setiap agama termasuk Hindu sehingga lahirlah paham-paham keagamaan baru yang lazim disebut sekte. Aliran-aliran agama baru ini semula memang memperkaya khazanah Hindu, tetapi di luar kesadaran ternyata setiap aliran agama ini membentuk dirinya sedemikian rupa sehingga yang tampak adalah upaya saling mendominasi dan saling menundukkan. Pada gilirannya persaingan internal telah mengaburkan batas-batas agama Hindu itu sendiri sehingga melahirkan diferensiasi moralitas keagamaan. Relativitas ukuran moral menyebabkan umat Hindu seperti masuk ke dalam suatu wilayah asing yang penuh dengan tanda-tanda yang serba boleh atau sebaliknya, penuh dengan tanda-tanda larangan. Ini sebabnya tidak jarang ditemukan satu tindakan keagamaan memperoleh penilaian moral yang berbeda. Akibatnya, umat Hindu mengalami kegamangan praktik-praktik keagamaan, antara lain apa yang boleh menurut satu paham keagamaan, belum tentu demikian menurut paham keagamaan lainnya. 
Perbedaan pandangan ini paling tidak telah didemontrasikan oleh dua paham keagamaan yang paradoks, bahkan mungkin kontradiktif, yaitu antara tattwaisme dan ritualisme. Tattwaisme merupakan paham keagamaan yang lebih menekankan pada pentingnya tattwa di atas susila dan acara agama, sedangkan Ritualisme merupakan paham keagamaan yang lebih menekankan pada pentingnya acara di atas tattwa dan susila agama. Penganut tattwaisme lebih menempatkan pentingnya pengetahuan keagamaan terutama ajaran ketuhanan daripada upacara keagamaan dan kesusilaan, sedangkan penganut ritualisme lebih menempatkan pentingnya pelaksanaan upacara keagamaan dan berbagai bentuk persembahan daripada pengetahuan keagamaan khususnya ajaran tentang ketuhanan dan kesusilaan. Penampilan praktik-praktik keagamaan yang berbeda dan berlawanan ini menimbulkan kebingungan sehingga dapat diduga umat Hindu akan tersesat dan jatuh ke dalam praktik-praktik keagamaan yang malahan keluar dari teks-teks otoritatif dan otentik.
Umat Hindu dan khususnya elite agama Hindu yang berpikir jenih terutama Parisada Hindu Dharma Indonesia, tentu tidak ingin dan tidak membiarkan persoalan agamanya berlarut-larut dalam kehidupan yang serba melarutkan. Larutan-larutan kehidupan yang mendorong munculnya perbedaan praktik agama, antara lain pietisme, ritualisme, formalisme, estetisme, eskipisme, dan usaha magik. Pietisme yang lebih menekankan pentingnya hubungan pribadi dengan Tuhan; ritualisme yang memutlakkan perlunya ketetapan dalam upacara agama; formalisme yang lebih menekankan pada bentuk-bentuk rumus dan pola tindakan keagamaan; estetisme yang lebih mementingkan pada keindahan dan kemeriahan kegiatan agama; eskipisme yang cenderung menempatkan upacara agama dan doa-doa menjadi tempat pelarian; dan usaha magik yang memandang Tuhan sebagai alat pemuas nafsu-selera. Perbedaan penekanan praktik agama yang demikian memang dimungkinkan ketika agama Hindu dikontekstualisasikan dalam budaya lokal. Kenyataan ini melahirkan multitafsir dan multipemahaman terhadap agama Hindu sejalan dengan pengetahuan dan kebutuhan umat menjadi persoalan yang tidak dapat dihidari.
Perbedaan pada penekanan praktik agama dan persoalan-persoalan keagamaan dalam konteksnya menunjukkan bahwa yang dibutuhkan agama Hindu pada masa depan adalah kepemimpinan religius transformatif. Kepemimpinan sebagaimana yang ditawarkan Hardono Hadi (2007) untuk menjelajahi labirin gelombang zaman. Untuk mengembangkan kepemimpinan model ini yang diperlukan bukan hanya pengetahuan tentang ajaran agama Hindu, melainkan juga pemahaman agama Hindu dalam dunia kontekstualnya. Artinya, melihat peran dan fungsi agama Hindu dalam keseluruhan aspek kesejarahan manusia. Sejarah manusia menunjukkan, perebutan dominasi antara bidang kehidupan dengan bidang lainnya tidak mungkin dihidari. Dominasi merupakan salah satu bentuk komunikasi, sedangkan inti dari komunikasi adalah transaksi nilai bidang kehidupan yang satu dengan lainnya. Interaksi antarbidang kehidupan tidak terhindarkan karena semua bidang kehidupan bermuara di dalam diri manusia itu sendiri. Persoalan ini merupakan undangan kepada Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar – yang kelahirannya terinspirasi oleh Piagam Campuhan (Mahasabha PHDI II). Selain itu, juga untuk lebih mencermati keberagamaan umat Hindu di Indonesia dengan berbagai persoalannya.  
Upaya pencermatan tersebut dilakukan melalui Diskusi Meja Bundar dengan tema Kebangkitan Hindu Indonesia dalam rangka peringatan Setengah Abad Parisada Hindu Dharma Indonesia. Asumsinya, pada usia setengah abad PHDI merupakan sosok majelis umat Hindu yang dewasa dan matang, yakni dewasa melihat persoalan dan matang mengatasinya. Kedewasaan dan kematangan ini merupakan modal awal membentuk cita-cita untuk nilai-diri PHDI sendiri dan umat Hindu Indonesia dalam perubahan zaman yang tidak mungkin dihindari. Untuk menghadapi perubahan inilah diperlukan reinterpretasi dan revitalisasi nilai-nilai agama Hindu, yaitu sebuah upaya adaptasi dinamis nilai-nilai agama Hindu pada setiap masyarakat dan kebudayaannya. Dengan demikian agama Hindu bisa diterima oleh masyarakat dan kebudayaan yang mengkontekstualisasikannya pada setiap zaman, dan inilah esensi Kebangkitan Hindu Indonesia. Pemikiran ini juga mendorong pelaksanaan Diskusi Meja Bundar yang diselenggarakan dari tanggal 20 sampai dengan 30 Maret 2009 di beberapa kota, yaitu Jakarta, Palangkaraya, Surabaya, Palu, dan Denpasar dengan menampilkan pembicara kunci, antara lain Ida Pedanda Gede Made Gunung, Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Arimbawa, Ida Bagus Doshter, dan diikuti ratusan tokoh umat Hindu.
Menghindari agar hasil diskusi ini tidak tenggelam dan mengendap menjadi ide-ide yang menemui ajalnya di sudut gudang-gudang perpustakaan sehingga perlu disosialisasikan dalam bentuk rekomendasi. Dalam hal ini setidak-tidaknya kepada pemimpin umat, yakni Parisada Hindu Dharma Indonesia yang memang memiliki orotitas penuh atas berbagai kebijakan dalam kehidupan beragama. Paling tidak rekomendasi ini dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk menentukan strategi kebijakan dalam keberagamaan umat Hindu yang menjalankan kehidupannya dalam dunia sosial dan kebudayaan yang tidak mungkin diseragamkan. Berdasarkan kenyataan ini dan kelaziman bahwa struktur agama yang paling sederhana terdiri atas empat elemen, antara lain eksistensial menyangkut keseluruhan hidup; intelektual menyangkut pemahaman; institusional menyangkut kelembagaan; dan etikal menyangkut perilaku keagamaan sehingga rekomendasi ini disusun mengikuti format bidang dharma agama, bidang dharma negara, bidang kawidanaan, dan bidang sumber daya manusia. Walaupun demikian, tulisan ini hanya memuat beberapa pokok pikiran yang terungkap dan tertangkap yang klasifikasi menjadi enam bab yang lebih ditekankan pada apek keberagamaan daripada ajaran agama Hindu melalui pendekatan dalam studi agama-agama.
Rekomendasi ini disusun dengan memperhatikan lapisan-lapisan nilai kehinduan yang terdiri atas sistem keyakinan, sistem budaya, dan sistem sosial. Di samping juga memperhatikan ilmu-ilmu yang menempatkan agama menjadi objek kajiannya yang secara nyata dibutuhkan dalam keberagamaan, seperti pendidikan, sejarah, sosiologi, antropologi, kebudayaan, teologi, dan filsafat. Aspek ini masing-masing dijelaskan seperti berikut di bawah ini.
(1)   Pendidikan Agama Hindu
Pendidikan menjadi prioritas pertama dalam rekomendasi bidang Dharma Agama karena kenyataan menunjukkan bahwa seluruh kehidupan mengandung nilai pendidikan. Memang formalisme pendidikan mengantarkan umat Hindu menjadi manusia dewasa, tetapi untuk mencapai kematangannya ia harus melewatinya dalam berbagai tantangan kehidupan. Mengingat setiap tantangan kehidupan yang dapat diatasi akan menambah kematangan dan demikian seterusnya, semakin tinggi tingkat kemampuan mengatasi tantangan kehidupan dan semakin matang yang bersangkutan. Kedewasaan mengandaikan tingkat kemampuan melihat tantangan kehidupan dan kematangan menunjukkan tingkat kemampuan mengatasi tantangan tersebut. Pada dua dimensi inilah pendidikan agama Hindu sepatutnya dikembangkan sehingga umat Hindu menjadi manusia dewasa yang matang dan mampu bertahan dalam persaingan kehidupan yang semakin keras, sebuah persaingan yang tidak mungkin dihindari. 
Kurikulum pendidikan yang dapat memuat kedua dimensi ini mungkin berisi nilai-nilai, antara lain kebenaran, kebijaksanaan, dan kebahagiaan. Kemudian, nilai-nilai inilah yang dijabarkan ke dalam silabus-silabus pembelajaran dengan mengikuti kompetensi dasar manusia yang lebih dikenal dengan taksonomi pendidikan yang terdiri atas ranah: kognitif, afektif, dan psikomotor. Dalam pengembangan kurikulum yang demikian ini mungkin catur purusa artha dan catur asrama penting dan relevan dipertimbangkan menjadi format dasar penyusunan dan pengembangan program pembelajaran. Dalam konteks inilah psikologi agama Hindu relevan menjadi dasar pembentukan Psikologi Pendidikan dan Psikologi Belajar Hindu yang secara nyata dapat dipraktikkan dalam dunia praksis pendidikan. Dengan demikian ahli pendidikan dan ahli agama Hindu dapat memadukan diri (baca: keahlian) dalam mengembangkan Landasan Kependidikan dan Teori-Teori Pendidikan Agama Hindu pada masa depan sehingga dunia pendidikan agama Hindu semakin hidup dan bergairah. Dengannya umat Hindu mampu membentuk cita-cita atau visi untuk nilai-dirinya yang tercermin dalam cipta, rasa, dan karsanya.

(2)   Psikologi Agama Hindu
            Manusia sebagai makhluk religius (homo religios) memiliki hubungan dengan sesuatu yang adikodrati (supernatural) – Illahi. Dalam kehidupan empiris para psikolog mencoba melihat hubungan tersebut dari sudut pandang psikologi. Menurut mereka hubungan manusia dengan kepercayaannya, juga ikut mempengaruhi faktor kejiwaan. Proses dan sistem hubungan ini menurut psikolog dapat dikaji secara empiris dengan menggunakan pendekatan psikologi. Misalnya, dalam isi harapan yang termuat dalam doa-doa ataupun motivasi yang melatarbelakangi perilaku keberagamaan. Demikian juga mengenai aspek-aspek keagamaan lainnya yang diperlihatkan manusia dalam sikap dan tingkah lakunya menurut para psikolog ada kaitannya dengan aspek kejiwaan.
            Psikologi agama mempelajari masalah kejiwaan yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia yang paling dalam – agama, ternyata dapat dimanfaatkan dalam berbagai lapangan, seperti dalam bidang kedokteran, bidang pendidikan, dan bidang lainnya. Temuan-temuan psikologi agama tentang perkembangan perasaan keagamaan pada anak-anak dan para remaja dapat membantu para pendidik dan pengajar agama. Dengan demikian psikologi agama Hindu dapat difungsikan sebagai ilmu bantu dalam bidang pendidikan khususnya pendidikan agama Hindu. Guru-guru agama Hindu dalam melaksanakan profesinya sebagai pendidik akan terbantu oleh berbagai temuan psikologi agama Hindu. Berbagai teori psikologi agama Hindu dapat memberikan rumusan mengenai proses dan perkembangan perasaan keagamaan pada anak didik sesuai dengan tahapan perkembangannya. Dalam hal ini tentunya dapat membantu para guru agama Hindu dalam membimbing peserta didik dalam bidang keagamaan.
            Apabila kemungkinan itu dapat dipertimbangkan maka psikologi agama Hindu akan berisi pokok-pokok diskusi, antara lain perkembangan jiwa agama,  kriteria kematangan beragama, hubungan antara agama dan kesehatan mental, hubungan antara kepribadian dan sikap keberagamaan, pengaruh kebudayaan terhadap jiwa keagamaan, problema kelainan sikap keagamaan, pengaruh pendidikan terhadap jiwa keagamaan, pengaruh agama terhadap kehidupan manusia, gangguan perkembangan jiwa keagamaan, dan juga mungkin termasuk tingkah laku keagamaan yang menyimpang. Pengetahuan ini dapat diduga berguna bagi pengembangan jiwa keagamaan umat Hindu dalam menghadapi kompleksitas tantangan kehidupan dalam dunia global.  

(3)   Sosiologi Agama Hindu
Sosiologi merupakan studi tentang masyarakat yang mengemukakan kebiasaan-kebiasaan manusia dalam kelompok dengan segala kegiatannya dan kebiasaan-kebiasaan lembaga-lembaga sosial yang penting sehingga masyarakat dapat berkembang terus-menerus. Oleh karena itu dalam kehidupan masyarakat dapat dijumpai adanya norma yang mengatur kehidupan mereka. Norma-norma tersebut ada yang dilembagakan menjadi tata kehidupan bermasyarakat dan dikaitkan dengan nilai-nilai spiritual dan religius. Artinya, dalam kehidupan masyarakat ada semacam institusi yang berfungsi mengatur hubungan kepercayaan terhadap sesuatu yang dianggap adikodrati dan suci. Para agamawan dari berbagai agama memperkuat hubungan tersebut berdasarkan informasi kitab suci bahwa hubungan manusia dengan Zat Yang Adikodrati ini digambarkan sebagai hubungan antara makhluk ciptaan dengan Sang Pencipta. Hubungan ini sudah ada sejak manusia pertama, karena itu hubungan manusia dengan Tuhan menurut pandangan agamawan adalah hubungan yang bersifat kodrati, bukan hasil rekayasa yang bersifat artifisial. Untuk memahami masyarakat beragama (religious society) merupakan sasaran sosiologi agama sebagai disiplin ilmu.
Dengan demikian mungkin dapat dipertimbangkan bahwa objek material sosiologi agama Hindu adalah masyarakat agama Hindu. Masyarakat agama Hindu dapat dilihat atas komponen-komponen konstitutif, kelompok-kelompok keagamaan, institusi-institusi religius yang memiliki ciri-ciri pola tingkah laku tersendiri menurut norma dan aturan yang ditentukan oleh agama Hindu. Perhatian difokuskan terhadap struktur dan fungsinya, pengaruhnya terhadap masyarakat umum, dan stratifikasi sosial khususnya, kesadaran dan kohesi kelompok, dan perubahan-perubahan sosial keagamaan. Sosiologi agama Hindu dengan demikian mempelajari masyarakat agama Hindu dengan pendekatan empiris sosiologis. Yang hendak  dicari dalam fenomena agama adalah dimensi sosiologisnya dan inilah yang disebut dengan objek formal sosiologi agama Hindu. Misalnya, seberapa jauh unsur kepercayaan mempengaruhi pembentukan kepribadian pemeluknya, ikut menciptakan jenis-jenis kebudayaan, mewarnai dasar dan haluan negara, pengaruhnya terhadap partai politik, lapisan masyarakat, organisasi-organisasi sosial, proses sosial, perubahan sosial, sekularisasi, fanatisme, dan lain-lainnya.

(4)   Antropologi Agama Hindu
            Para antropolog melihat hubungan manusia dengan Tuhan dari sudut pandang kebudayaan. Hasil temuan mereka menunjukkan bahwa pada masyarakat yang memiliki kebudayaan asli (primitif) dijumpai adanya pola kebudayaan yang mencerminkan bentuk hubungan masyarakat dengan sesuatu yang mereka anggap adikuasa dan suci. Pada masyarakat ini berlaku upacara-upacara ritual, penghargaan terhadap tempat-tempat, dan benda-benda yang dianggap suci ataupun sesuatu yang bersifat spiritual. Ada semacam upacara keagamaan dalam masyarakat yang mereka pelihara sebagai suatu tradisi dalam kebudayaan mereka. Koentjaraningrat (1985:12) menjelaskan bahwa analisis religi dan upacara dalam kebudayaan dan masyarakat merupakan usaha untuk mencari asas-asas religi dan usaha memecahkan religi. Menurutnya bahwa teori-teori tentang asas-asas dan asal mula religi digolongkan menjadi tiga, yaitu (1) teori-teori yang dalam pendekatannya berorientasi kepada keyakinan religi atau isi ajaran religi, (2) teori-teori yang dalam pendekatannya berorientasi kepada sikap para penganut religi yang bersangkutan terhadap alam gaib, dan (3) teori-teori yang dalam pendekatannya berorientasi kepada ritus dan upacara religi.   
Memperhatikan pendekatan tersebut kemudian, isi diskusi dalam antropologi agama Hindu yang dapat ditawarkan, antara lain esensi, eksistensi, dan aktivitas yang bersifat illahiah dan hubungan manusia denganNya; perhatiann agama Hindu pada yang suci; orientasi keselamatan atau kesempurnaan atau moksa dari keadaan biasa dalam kehidupan duniawi; praktik-praktik ritual Hindu; keyakinan Hindu yang tidak dapat ditunjukkan secara logis dan empiris; kode etis yang didukung oleh keyakinan Hindu; sanksi supernatural terhadap pelanggaran kode etis tersebut; mitologi Hindu; kitab suci dan tradisi oral yang mulia para rsi dan upanisad; peran dan fungsi pandita dan pinandita serta spesialisasi elite Hindu; komunitas moral Hindu, seperti pura dan pasraman; dan hubungan agama Hindu dengan kelompok etnis.   

(5)   Sejarah Agama Hindu
Manusia merupakan makhluk yang menyejarah melalui berbagai aspek kehidupannya termasuk dalam aspek agama sehingga agama mungkin setua usia manusia. Akan tetapi perkembangan kesadaran agama tidak selalu seiring dan berbanding lurus dengan bertambahnya usia manusia. Mereka yang berpengetahuan haruslah berkesadaran dan ini berarti mereka yang berpengetahuan agama haruslah berkesadaran agama. Apabila tidak maka mereka telah merusak keindahan dan kegembiraan hidup agama dan keberagamaan itu sendiri. Fakta bahwa banyak ketakutan dan kengerian disebabkan oleh mereka yang berpengetahuan, tetapi tidak berkesadaran; dan tidak sedikit kehancuran, bahkan kemusnahan ras manusia disebabkan oleh mereka yang berpengetahuan agama tanpa berkesadaran agama. Membangun dan menata kesadaran manusia tentang hidup dan kehidupan merupakan inti dari idola-idola agama melalui sejarahnya pada setiap zaman.
Ini menunjukkan betapa pentingnya pengetahuan tentang sejarah evolusi agama Hindu bagi umat Hindu, baik menyangkut sejarah evolusi agama Hindu di India maupun di Indonesia. Artinya, kajian agama Hindu dari paradigma historis atau kesejarahan perlu dilakukan dalam rangka memperdalam pemahaman agama Hindu dalam konteks sosial dan budaya, seperti sejarah evolusi agama Hindu di Indonesia dari wilayah Kalimantan dan Jawa hingga Bali. Kehidupan sosial dan budaya yang mengkontekstualisasikan agama Hindu di setiap daerah di tanah air akan menjadi titik tolak terbangun semangat saling menghargai dan menghormati praktik-praktik agama Hindu yang berbeda. Perbedaan inilah keragaman budaya sekaligus kekayaan agama Hindu karena kebudayaan daerah merupakan tempat berseminya agama Hindu yang didemontrasikan dalam tradisi sosial daerah masing-masing. 

(6)   Teologi Agama Hindu
Teologi berarti ilmu tentang ketuhanan dalam suatu agama yang dalam agama Hindu dikenal dengan tattwa-jnana atau brahmawidya. Titik tolak argumensi teologi Hindu atau brahmawidya disusun berdasarkan informasi-insformasi atau ajaran-ajaran tentang ketuhanan dalam agama Hindu. Tujuannya untuk menjustifikasi sistem kepercayaan kepada Tuhan dalam agama Hindu sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat Hindu. Alur argumentasi disusun meliputi, antara lain hubungan manusia dengan alam, manusia dengan sesama, dan manusia dengan Tuhan sehingga setiap argumentasi memiliki kebenaran kontekstualnya. Oleh karena itu, informasi tentang ketuhanan dalam agama Hindu, boleh jadi, tersusun secara hirarkhis sebagaimana manusia menyusun kehidupan sosial dan kebudayaannya. Tuhan dipahami lebih psikologis, sosilogis, dan antropologis untuk mendekatkan keberadaanNya dalam kehidupan manusia itu sendiri. Dalam hal ini Tuhan dipahami melalui esensiNya, eksistensiNya, dan aktivitasNya.
Informasi tentang ketuhanan Hindu, baik saguna-brahman maupun nirguna-brahman tersebar dalam kitab-kitab Upanisad, Brahma Sutra, Bhagavad Gita, dan kitab sejenis lainnya. Dalam teks Jawa-Kuno terdapat dalam lontar-lontar Siwaistik, seperti bhuana kosa, sang hyang mahajnana, ganapati-tattwa, tattwa-jnana, dan lontar sejenis lainnya. Malahan besar kemungkinan bahwa umat Hindu di daerah masing-masing juga memiliki kitab suci yang memang berisi tentang ilmu ketuhanan, sebagaimana ditunjukkan oleh umat Hindu Kaharingan memiliki Kitab Panaturan. Kitab-kitab ini juga dapat dijadikan rujukan agar pluralitas dan multikultural dalam keberagamaan umat Hindu pada tataran nasional dan regional dapat berjalan sesuai dengan esensi ajaran Hindu itu sendiri.

(7)   Filsafat Agama Hindu
Filsafat agama sebagian besar melakukan penyelidikan tentang latar rasional bagi kepercayaan atau ketidakpercayaan kepada Tuhan. Filsafat agama Hindu, tidak diandaikan bermula dari sejumlah asumsi atau kepercayaan sebelumnya. Tujuannya adalah menguji dasar kepercayaan keagamaan dan untuk melakukan itu ia tidak bisa mengasumsikan bahwa kepercayaan itu benar atau salah. Oleh karena itu, ia berbeda dengan teologi Hindu yang bermula dari kepercayaan keagamaan atau seperangkat kepercayaan dan berusaha memahami dan mengeksplorasi persoalan-persoalan dalam agama Hindu. Filsafat agama Hindu pada pokoknya adalah pemikiran filsafat tentang agama Hindu. Ia akan menerangkan masalah-masalah agama Hindu secara filosofis. Agama Hindu yang dimaksudkan adalah agama Hindu secara keseluruhan, yaitu Hinduisme. Manusia Hindu telah menunjukkan rasa suci dan agama Hindu adalah termasuk dalam kategori hal suci tersebut. Dalam setiap agama, Tuhan merupakan sentral atau pusat perhatian bagi para pemeluknya. Tugas filsafat agama Hindu adalah membahas tentang peranan agama Hindu bagi manusia Hindu ditinjau dari sudut filosofis.
Beberapa argumentasi yang akan dipertimbangkan muncul dalam berbagai bentuk berbeda dalam teks-teks klasik berbeda pula. Misalnya, argumentasi ontologis tentang eksistensi Tuhan telah dikemukakan dalam bentuk yang berbeda, baik oleh Gautama dalam Nyaya-Sutra maupun Kanada dalam Vaiseika-Sutra. Malahan akan berbeda dengan pemikiran zaman skolastik India, antara lain Madhva (Wasudewa) dengan sistem Dvaita, Ramanuja dengan sistem Visistadhvaita, serta Sankara dan Gaupada dengan sistem Adhvaita. Caranya dengan memperkenalkan isu-isu yang mengatasi banyak versi argumentasi yang berbeda tanpa berhenti pada detail-detail khususnya pada satu atau dua filosof. Melainkan juga dapat diperkaya dengan berbagai sistem pemikiran lainnya yang berkembang masa berikutnya, seperti sistem pemikiran yang berkembang pada masa modern, misalnya Kabir, Tagore, Raju, Tilak, Wiwekananda, Radakrishnan, dan lain-lainya. 
Tradisi dan lembaga umat Hindu merupakan tempat kewajiban moral berakar perlu dirumuskan ulang dalam sebuah tatanan sosial yang dinamis karena tradisi dan lembaga ini memberikan pendidikan moral kepada umatnya di seluruh tanah air. Hindu bukan barang sesuatu yang baku dan beku sehingga bebas dari tafsir dunia praksis, melainkan suatu inspirasi ketuhanan yang hidup dalam kemanusiaan seturut dalam dinamika zaman. Kehadiran sradha memang selalu terikat dan tergantung pada bahasa sebagai satuan kebudayaan karena hanya dengan bahasa pemeluknya sradha dapat dipahami dan dipraktikkan. Pada gilirannya sradha harus dimengerti sesuai dengan kehendak zaman dan memang banyak dijumpai kemerosotan pada pemahaman atau pemikiran yang diterima, dan juga banyak di antaranya yang diyakini secara semu. Kesadaran semu sering melahirkan perbedaan-perbedaan dalam dunia praksis, bahkan tidak jarang berakhir pada konflik. Para pemikir Hindu yang tafakur dalam kejernihan pikiran akan mewariskan kepada generasi mereka keindahan tradisi lama dan penghormatan kepada masa lalu. Kemudian, pada masa kini melalui jejak-jejak sejarah berupaya menanamkan kemampuan untuk memahami ketenteraman masa depan. Pengalaman belajar semacam ini akan memberikan kekuatan kepada mereka dalam menjelajahi labirin gelombang zaman.  
Perubahan zaman rupanya, secara signifikan telah berpengaruh terhadap perubahan keberagamaan umat Hindu di Indonesia. Perubahan ini sekaligus  telah mendorong para pemikir Hindu untuk menyumbangkan pemikirannya, sebagaimana tertuang dalam buku, PHDI Setengah Abad: Sebuah Retrospeksi. Jika argumentasi di atas sudah menjadi ‘komitmen’ bersama maka mahawakya, “binneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa” menjadi landasan ‘ontologis’ buku ini. Dengan demikian, buku ini dibagi menjadi enam bagian, antara lain Bab I Studi Agama dan Kebangkitan Hindu mengetengahkan pemikiran Jelantik tentang setengah abad sejarah perjalanan agama Hindu dan khususnya peran-peran Parisadha dalam keberagamaan umat Hindu di Indonesia. Seluruh rangkaian pemikirannya, berupa catatan-catatan penting dalam sejarah Hindu di Indonesia dibungkus dalam judul: Setengah Abad Kebangkitan Hindu Indonesia. Pengungkapan dari dimensi sejarah ini rupanya, telah mendorong Anom Kumbara dan Sukarma memikirkan kebutuhan nyata umat Hindu dalam keberagamaan mereka dan menurutnya bahwa umat Hindu sedang membutuhkan studi agama-agama. Pemikiran yang lebih menekankan pentingnya melakukan kajian-kajian tentang keberagamaan dibungkus dalam tema: Studi Agama dan Keberagamaan Umat Hindu.
Masih dalam kaitannya dengan keberagamaan, Wiana memandang perlu menegaskan lagi bahwa Parisada sebagai lembaga agama yang mengemban visi Hindu tidak bisa lepas dari perkembangan zaman. Menurutnya, zaman telah merubah visi Hindu sehingga teks-teks agama haruslah ditafsir terus-menerus sejalan dengan perubahan zaman dan seluruh pemikiran ini dijilid dalam PHDI dan Visi Hindu dalam Perubahan Zaman. Fakta memang menunjukkan bahwa tidak ada masyarakat dan kebudayaan yang statis tanpa mengalami perubahan. Perubahan ini menurut Gelgel dan Budi Utama sekaligus merupakan tuntutan bahwa bhisama Parisada tidak mungkin dibuat kaku dan baku. Oleh karena itu setiap bhisama haruslah mencerminkan kebutuhan umat sesuai dengan azas-azas moralitas dan hukum sehingga memiliki kekuatan mengikat. Pemikiran ini disusun dalam Bhisama Parisada: Dasar Hukum Kekuatan Mengikat, dan Peranannya dalam Era Globalisasi. Kemudian, gelombang globalisasi ini oleh Agus S. Mantik dipandang sebagai tantangan utama dalam keberagamaan, karena itu menurutnya umat Hindu memerlukan Padma Bhavana – The Hindu Centre. Malahan lebih jauh Kobalen melihat semakin mendesaknya kebutuhan terhadap pembentukan World Hindu Parisada. Dalam dunia global, menurut Wiana diperlukan pemahaman tentang Satvika Yadnya Menuju Upacara Yadnya Berkualitas. Bukan hanya itu, bahkan Suarjaya memandang semakin diperlukan upaya Penyederhanaan Ritual. Penyederhanaan ini rupanya, mendorong Agus S. Mantik memikirkan tentang Bhisama Baru Mengenai Pengabenen. Inilah seluruh pemikiran yang tertuang pada Bab II dengan judul PHDI dan Keberagamaan.
Sementara itu, pada Bab III Pendidikan dan Pemberdayaan Umat memang memberikan gambaran tentang pentingnya pembangunan sumber daya manusia dalam berbagai dimensi. Titib misalnya, melihat Pendidikan Kunci Kemajuan Umat Hindu. Menurutnya, pendidikan merupakan kebutuhan manusia dalam rangka membangun perkembangan diri dewasa dan matang. Dewasa dalam melihat masalah-masalah kehidupan dan matang dalam memecahkannya. Pendidikan memang menyangkut pengalaman manusia dalam berbagai dimensi, karena itu bentuk pendidikan memang sangat beragam dan satu di antaranya adalah Pasraman Kilat sebagai Pengenalan Pendidikan Kemah Sadhana oleh Agus S. Mantik dirasakan semakin dibutuhkan umat. Pendidikan semacam ini yang lebih bertumpu pada kekuatan leingkungan alam merupakan jenis pembelajaran yang sudah digagas sejak taman siswa, bahkan hingga kini masih diwarisi Pramuka sebagai pendidikan kepanduan. Pemberdayaan umat juga diperlukan dalam bidang pengumpulan dana karena dalam dunia sekarang kejahteraan material tidak ditabukan. Menjadi kaya dengan cara-cara yang disejalan dengan hukum sosial dan agama bukan dosa. Fakta juga menunjukkan bahwa untuk melanjutkan perjalanan kehidupan ini memerlukan artha (instrumen), selain dharma, kama, dan moksa. Oleh karena itu Budiarna menawarkan proyek Nyolasin dan Badan Dharma Dana Nasional dalam rangka membangun sumber dana nasional, bukanlah pelanggaran moral. Malahan ide ini mendapat dukungan dari Perdana yang mewarkan upaya yang tidak jauh berbeda dengan kegiatan Dharma Dana. Seluruh rangkaian bab ini ditutup oleh Sarasdewi dengan Menyoal Hukum Waris, yakni sebuah wawasan hukum yang memang diperlukan dalam dunia praksis.
Selanjutnya, pada Bab IV Dari Identitas Menuju Komunitas Tattwa, antara lain Utami Pidada menawarkan konsep Manusia Hindu Indonesia dalam Kekinian. Ini sejalan dengan pokok pikiran yang disampaikan oleh Nanang Sutrisno yang berkaitan dengan Rekontruksi Identitas Hindu Jawa. Pergulatan identitas Hindu Jawa merupakan contoh bidang keberagamaan umat Hindu di Indonesia. Keberagamaan dalam konteks sosial memang sarat dengan nuansa budaya tradisional, karena itu Jayakumara menemukan Fenomena Balinisasi dan Indianisasi dalam Hinduisme di Yogyakarta. Demikian juga dalam membangun identitas agama dan keberagamaan rupanya, Suarja melihat relevansi dan pentingnya memadukan peran-peran lembaga agama dan adat. Dalam seting keberagaman umat Hindu Bali diketengahkan Peranan Parisada dan Desa Pakraman Dalam Pembinaan Umat Hindu di Bali. Selain Desa Pakraman, bahkan Wirawibawa melihat peranan Sekaa Teruna dalam Pembinaan Umat Hindu di Bali karena generasi muda Hindu dikatakan sebagai ahli waris dan pewaris tradisi Hindu di Bali. Pengungkapan ini dilakukan dalam konteks industri pariwisata yang memang berimplikasi terhadap keberagamaan umat Hindu di Bali. Untuk meningkatkan peran Parisada dan Desa Pakraman dalam pembinaan keberagamaan umat Hindu Bali menurut Agus Mantik diperlukan pemahaman Selayang Pandang Sejarah Bali. Mengingat perjalan sejarah Hindu yang berakhir di Pulau Bali telah membentuk Hindu, baik sebagai agama maupun kebudayaan merupakan titik tolak untuk lebih memahami dan pengembangan Hindu pada masa depan. Kebudayaan tradisional memang harus berlanjut karena di dalamnya mengandung simbol dan masa lalu berbagai generasi. Kemudian, untuk mempertahakan tradisi Hindu ini Ngakan Putra menawarkan jalan pembentukan komunitas yang paham tattwa. Membangun Komunitas Tattwa disadari bukan persolan mudah, namun bukan berarti tidak mungkin, karena itu diperlukan kebersamaan semua elemen keberagamaan umat Hindu di Indonesia.
Dalam keberlangsung sebuah komunitas agama, Agus Mantik melihat makanan dapat menjadi agen kunci dalam perubahan, karena itu pada Bab V Kesehatan dan Dokter Usada, ia mengetengahkan satu pertanyaan, apakah makanan halal itu sama dengan makanan sukla? Makanan bila dilihat dari sudut moral ataupun spiritual akan mengundang banyak pertanyaan yang mungkin bukan saja aneh-nyeleneh, tetapi juga ironis dan absurd. Mengingat makanan bukan hanya menyangkut soal halal dan sukla, tetapi juga sehat dan sakit karena dalam rumusan Anom Kumbara, apa yang membuat sehat, itulah yang membuat sakit. Menurutnya, kekuatan tubuh tidak berarti apa-apa, kalau tubuh tidak sehat, bahkan mudah dipahami yang berkembang pesat dalam ilmu kedokteran adalah penanganan penyakit dari mereka yang mampu membayar. Dalam mewujudkan kesehatan sebagai upaya alternatif untuk menghindari kemahalan, ia menawarkan sebuah sistem pengobatan usada Bali. Usada semacam ini umumnya bersifat sangat “rahasyam”, sangat privat, dan menjadi “lontar simpanan”, tetapi ia menjelaskan dengan gamblang. Menurutnya ini merupakan kekayaan Hindu yang patut dipublikasikan kepada umat karena kesehatan merupakan milik setiap orang yang harus diupayakan sendiri. Mengingat cara kerja sistem usada yang hampir mirip dengan cara-cara kerja ilmu kesehatan modern sehingga Agus S. Mantik mengajukan pertanyaan yang lebih mirip dengan mengusulkan, mungkinkah sistem usada disejajarkan dengan ilmu kedokteran modern, dokter usadha mungkinkah? Tentu jawabannya sangat tergantung pada kemampuan dan kemauan umat Hindu untuk meminatinya.
Pada akhirnya, Sukarma dengan Bab VI Harapan dan Kerinduan menutup seluruh rangkaian pemikiran yang tertangkap dalam diskusi meja bundar dengan Sepotong Harapan Buat Pemimpin Hindu Di Indonesia. Sepotong harapan yang tiada lain adalah pelaksanaan seluruh tugas manusia berdasarkan dharma seuai dengan tujuan kehidupan (catur purusha artha), empat kelompok lapisan sosial (catur varna), dan empat tingkatan kehidupan (catur asrama).  Dengannya dipahami bahwa umat Hindu harus mengambil tanggung jawab sradha-bhaktinya di tangannya sendiri karena merealisasikan ketuhanan merupakan tujuan hidup pribadi. Untuk memahami tanggung jawab ini umat Hindu memerlukan dukungan dari pemimpin religius transformatif, yakni kepemimpinan berdasarkan pengetahuan dan kesadaran dharma. Mungkin Sepotong Harapan Buat Pemimpin Hindu di Indonesia dapat mewakili seluruh pemikiran yang telah diuraikan di atas, yakni Pekerjaan Pengabdian. Pada akhirnya seluruh hasil diskusi meja bundar ini diberikan catatan reflektif oleh Dewa Ketut Putra yang menyatakan bahwa Hindu dalam kecemasan hendak menggapai masa depan sekaligus sarat kerinduan pada masa lalu. Tegasnya, Hindu: Antara Kerinduan dan Kecemasan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar