Jumat, 24 Mei 2013

SIWA-BUDDHA


 

















  PERKEMBANGAN SHIWA-BUDDHA
DI INDIA DAN INDONESIA
(Pendekatan Ilmu Sejarah)

Prof. D.Litt. Dr. I Gusti Putu Phalgunadi, MA

Disampaikan dalam acara Rembug Sastra di Pura Agung Jagatnatha,
Purnama Sadha, 24 Mei 2013

I
Shiwa dan Buddha adalah dua agama yang lahir di Bharatawarsa, India. Walaupun demikian, catatan sejarah di India dan Indonesia tentang kedua agama ini menunjukkan hal yang sangat bertolak belakang. Di India, kedua agama ini terlibat dalam perdebatan dan pertentangan yang hebat, bahkan menjadi salah satu catatan kelam dalam sejarah India. Sebaliknya, di Indonesia kedua agama ini hidup berdampingan dan mencapai puncak harmonisasi dengan lahirnya agama baru, yakni Shiwa-Buddha.  Perbedaan ini menarik untuk dikaji secara lebih mendalam terutama dengan pendekatan ilmu sejarah. Pendekatan ilmu sejarah mendasarkan kebenaran pada bukti-bukti sejarah yang otentik dan didukung dengan fakta-fakta keagamaan hasil catatan para ahli sejarah, arkeologi, kesusasteraan, dan Indologi. Sejarah juga mengungkap prinsip-prinsip ajaran yang mempertentangkan dan mendekatkan kedua agama tersebut pada setiap periode. Data sejarah tersebut kemudian dianalisis untuk melihat kemunculan dan perkembangan ajaran Shiwa-Buddha, baik di India maupun di Indonesia.
Untuk mengungkap perkembangan Shiwa dan Buddha di India tampaknya tidak dapat dilepaskan dari evolusi agama Hindu terutama pada zaman Brahmana. Mengingat ajaran Shiwa maupun Buddha sama-sama lahir dan berkembang pada zaman ini. Ajaran Shiwa merupakan kelanjutan dari agama pra-Weda yang kemudian berakulturasi dengan agama Weda terutama pada zaman Brahmana (Brahmanical religion). Sebaliknya, ajaran Buddha dibangun oleh Siddharta Gautama untuk menentang sejumlah aspek dari agama Hindu khususnya Brahmanisme. Perbedaan prinsip ajaran ini melahirkan pertentangan keagamaan, bahkan pergolakan politik di India. Penentangan terhadap ajaran Buddha di India terutama dilakukan oleh mazhab Shiwa dan Waishnawa, serta golonga Wedantis lainnya. Selain itu, pengaruh kuat dari ajaran Tantrayana juga turut memberikan pengaruh besar dalam perkembangan agama Shiwa, Waishnawa, dan Buddha di India. Sebaliknya, agama Buddha juga mendorong munculnya perbedaan prinsip ajaran antara Shiwa dan Waishnawa pada masa kemudian. Artinya, kontestasi keagamaan mewarnai perkembangan ajaran Shiwa-Buddha di India.
Apabila perkembangan ajaran Shiwa dan Buddha di India diwarnai dengan pertentangan yang hebat, justru di Indonesia menunjukkan hal yang sungguh bertolak belakang. Kedua agama ini berkembang dalam suasana yang toleran dan harmonis. Kedua agama ini sama-sama mengalami perkembangan yang pesat dan hidup berdampingan. Malahan kedua agama ini berhasil membangun koalisi dan sinkretisme ajaran sehingga melahirkan agama baru, yakni Shiwa-Buddha. Pengakuan pada ke-Shiwa-an dan ke-Buddha-an sebagai Prinsip Tertinggi yang tunggal merupakan puncak penyatuan dua agama ini. Perkembangan Shiwa-Buddha di Indonesia menunjukkan betapa kebijaksanaan leluhur di masa lampau telah berhasil mempersatukan kebhinekaan beragama. Penyatuan Shiwa-Buddha ini bahkan tidak pernah terjadi di tanah kelahirannya – India.     

II
Sejarah lahirnya agama Shiwa dan Buddha di India tidak dapat dilepaskan dari evolusi agama Hindu dari zaman peradaban lembah sungai Sindhu hingga zaman Brahmana. Pemujaan Shiwa memang tidak ditemukan secara langsung dalam kitab Weda. Akan tetapi, bibit-bibit pemujaan Shiwa telah ditemukan sejak peradaban lembah sungai Sindhu, yakni ditemukannya prototipe Shiwa Pasupati, Shiwa Yogeswara, dan pemujaan lingga (Tripathi, 1999:21—22). Ajaran Shiwa mulai berakulturasi dengan agama Weda (Vedic religion) pada zaman Brahmana (1000 – 600 SM) dan berkembang dengan pesat setelah masa kejayaan agama Buddha, yaitu sekitar tahun 200 SM.
Zaman Brahmana (Brahmanisme) ditandai dengan munculnya penafsiran kitab suci Weda secara karma kanda sebagaimana ditulis dalam kitab-kitab Brahmana. Penafsiran ini menyatakan bahwa moksa dapat dicapai dengan melaksanakan yajna. Terdapat beberapa ciri agama Brahmana (Brahmanical religion) antara lain, (a) upacara dan upakara tumbuh subur; dan (b) yajna-yajna besar dan mewah dilaksanakan oleh golongan aristokrat (Kundra, 1968:27; Thapar, 1979:44; Sharma, 2001:58). Bersamaan dengan itu, juga muncul penafsiran lain secara upasana kanda sebagaimana ditandai dengan kemunculan kitab-kitab Aranyaka. Penafsiran ini menyatakan bahwa moksa tidak hanya bisa dicapai dengan yajna, tetapi juga dengan etika, tapa, brata, yoga, dan samadhi (Majumdar, 1998:84; Sharma, 2001:59). Kemudian, perkembangan pemikiran Weda mengalami puncaknya pada zaman Upanisad yang menafsirkan Weda secara jnana kanda. Penafsiran ini menyatakan bahwa moksa dapat dicapai melalui pengetahuan mengenai Brahman (Brahmawidya) dan realisasi diri atau spiritualitas yang sempurna (Thapar, 1979:45—49). Pada periode ini, Weda telah ditafsirkan dalam tiga aspek penting, yaitu karma kanda, upasana kanda, dan jnana kanda (Phalgunadi, 2010:32). Hal ini juga turut membangun karakter agama Hindu yang berkembang pada masa itu, yaitu pelaksanaan tattwa, susila, dan acara secara holistik dan integral.
Munculnya pluralitas penafsiran tersebut menunjukkan bahwa kitab suci Weda terbuka untuk dibaca dan ditafsirkan. Apabila kitab-kitab Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad merupakan hasil penafsiran dari para Maharshi yang memiliki otoritas, maka penafsiran lain juga berkembang pada seputaran abad ke-6 sebelum Masehi. Pada masa ini, Weda bebas ditafsirkan oleh siapapun sehingga melahirkan beberapa aliran pemikiran yang pada akhirnya tidak lagi mengakui otoritas Weda sebagai kitab suci Hindu (Luniya, 2002:91). Aliran yang muncul antara lain, Buddha, Jaina, Charwaka, Ajawika, Prajawika, dan Nirganta. Dari sejumlah aliran tersebut, Buddha memegang peranan penting dalam evolusi agama Hindu di India.
Agama Buddha didirikan oleh Siddharta Gautama sekitar abad ke-6 sebelum Masehi. Ajaran Buddha tidak pernah membicarakan keberadaan Tuhan (Thapar, 1997:66); menekankan ajarannya sebagai way of life, yaitu jalan hidup yang luhur dan saleh (Khanna, 1976:140); menentang segala dogma agama yang tidak masuk akal dan mengedepankan jalan rasional, kebijaksanaa, dan spiritualitas. Tujuan hidup Buddha adalah melepaskan Sang Diri (atman) dari penyebab penderitaan (duhka) melalui pengetahuan rohani untuk mencapai nirwana (Phalgunadi, 2010:33). Selain itu, agama Buddha juga melakukan penentangan keras terhadap agama Hindu (Brahmanisme), antara lain: (a) tidak mengakui otoritas kitab suci Weda; (b) mengutuk korban binatang; (c) menentang catur warna (kasta); (d) menentang agama aristokrat; dan (e) menentang penggunaan bahasa Sanskerta dalam penulisan kitab suci (Luniya, 2002:93). Dari sinilah kemudian, ajaran Buddha dipandang sebagai aliran nastika yang menyimpang dari ajaran agama Hindu.
Ajaran agama Buddha yang cukup sederhana ini mampu menarik simpati rakyat India dan menyebar begitu cepat ke seluruh India. Malahan jumlah umat Buddha di India melebihi jumlah penganut Hindu (Brahmanisme) (Hariharan, 1987:116). Orang-orang Hindu yang masih taat terutama dari golongan Brahmana, bangsawan, dan aristrokrat (Mahajan, 2002:341—347). Dari segi politik, juga India berhasil dikuasai dan dipimpin oleh raja-raja beragama Buddha, bahkan agama Buddha ditetapkan sebagai agama negara. Raja-raja pada waktu itu memperlihatkan sikap anti terhadap agama Hindu dan melarang seluruh upacara yajna yang menggunakan kurban binatang (Kundra, 1968:40; Sharma, 2001:148). Dikatakan bahwa zaman ini adalah masa keemasan agama Buddha (The Golden Age of Buddhism) di India yang berlangsung sampai abad ke-2 sebelum Masehi.
Pada masa pemerintahan kerajaan Magadha, kaum Brahmana bangkit mengadakan pemberontakan melawan pemerintah yang beragama Buddha. Pemberontakan dari golongan agama Hindu terutama dipimpin oleh Pushyamitra. Dia adalah seorang brahmana yang menjabat sebagai senapati kerajaan Magadha. Pusyamitra berhasil membunuh raja terakhir dari Dinasti Maurya yang bernama Brihadratha pada tahun 184 SM. Disebutkan dalam kitab Harshacarita bahwa ketika raja Brihadratha sedang mengadakan pemeriksaan pasukan dalam sebuah parade, saat itulah ia dibunuh oleh Pushyamitra. Setelah itu, Pusyamitra merampas kerajaan Maurya dan kemudian mendirikan dinasti Brahmana yang disebut Sungga (Majumdar, 1998:116–117). Pushyamitra adalah seorang raja Brahmana yang pantang mundur untuk melindungi, mempertahankan, dan menyebarkan agama Brahmana. Dia menjadi pelopor yang mendobrak dan memusnahkan pengaruh agama Buddha di India. Pada masa pemerintahannya, ia membangkitkan kembali pelaksanaan ritual seperti,  upacara Aswamedhayajna – upacara yang terbesar dalam agama Hindu, serta menolak ajaran Ahimsa (Mahajan, 2002:364).
Di samping penentangan secara politis oleh Pushyamitra, juga penentangan terhadap agama Buddha lahir mazhab-mazhab yang berdasarkan agama Brahmana (Hindu). Dua mazhab yang cukup terkenal adalah mazhab Wasudewa dan mazhab Shiwa (Macmillan (ed), 2001:79). Mazhab Wasudewa memuja dewa Wasudewa yang dipersamakan dengan Wisnu, sedangkan mazhab Shiwa memuja Shiwa yang dipersamakan dengan Rudra dalam kitab Weda (Majumdar, 1998:171—175; Mahajan, 2002:376). Kedua mazhab ini turut melakukan penentangan dan perlawanan terhadap penyebaran agama Buddha di India sehingga agama Buddha mengalami kemunduran di India. Seturut dengan itu, juga muncul mazhab besar lainnya, yaitu Shakta (pemuja Shakti), Ganapatya (pemuja Ganesha), dan Sora (pemuja Surya). Kelima mazhab ini disebut Panca Sakha atau Panca Yatanapuja.
Pada mulanya, mazhab-mazhab tersebut tidak berdiri sendiri sehingga lebih tepat disebut sebagai pemujaan ista dewata. Akan tetapi, pada zaman Purana mazhab-mazhab tersebut mulai terpisah secara tegas. Begitu juga dengan mazhab Shiwa dan Waishnawa mengalami perkembangan yang pesat. Mazhab Shiwa tetap mempertahankan ajaran karma kanda sebagaimana diwarisi dari zaman Brahmana. Sebaliknya, ajaran-ajaran dari mazhab Waishnawa mengalami banyak perubahan dibandingkan ajaran pada awal kemunculannya sekitar abad kedua sebelum Masehi. Perubahan dalam mazhab Waishnawa ini terutama karena dipegaruhi ajaran Buddha. Ajaran-ajaran yang berasal dari agama Buddha seperti, ahimsa, vegetarian, pemujaan patung, penolakan sistem kasta, dan pembangunan kuil-kuil, pada akhirnya menjadi bagian dari ajaran mazhab Waishnawa (Kundra, 1968:177; Luniya, 2001:208). Begitu juga dengan konsep awatara Wisnu yang terdapat dalam kitab-kitab Purana juga mulai diterima dan diyakini penganutnya (Sharma, 2001:101). Dalam keyakinan Waishnawa, Buddha adalah salah satu awatara Wishnu sehingga konsep ini menjadi senjata ampuh untuk melemahkan pengaruh Buddha di India.
Gerakan yang dilaksanakan oleh golongan Shiwa dan Waishnawa ini tampaknya memberikan pengaruh yang signifikan, baik dalam perkembangan agama Buddha di India. Dari abad ke-4 sampai abad ke-7 Masehi, agama Buddha di India mengalami kemunduran dengan berperannya kembali kelompok Brahmana (Shiwa) dan gerakan bhakti yang dilakukan kelompok Wishnawa. Pada masa ini, para pemeluk Hindu melakukan praktik pemujaan kepada Sang Buddha yang diyakini sebagai penjelmaan (awatara) Wisnu (Tim Penyusun, 2003:52). Hal ini mendorong berkembangnya ajaran Mahayana terutama pada masa pemerintahan dinasti Pala di India Timur. Aliran Mahayana sesungguhnya merupakan pembaruan dari aliran Hinayana. Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa aliran Hinayana lebih dekat dengan ajaran awal Sang Buddha, yakni (a) berdasarkan kitab suci Tipitaka yang berbahasa Pali; (b) tidak ada upacara-upacara keagamaan yang rumit; (c) menekankan etika dan meditasi; dan (d) tujuan tertinggi adalah mencapai arhat. Sementara itu, Mahayana didirikan pasca-kemunduran agama Buddha sekitar abad ke-2 SM sampai abad ke-5 M yang mulai mengurangi kesederhanaan upacara sehingga lambat-laun bentuknya mendekati Hinduisme. Mahayana merupakan aliran Hinayana yang diperbarui dengan diberi penjelasan-penjelasan tambahan yang dipelopori oleh Buddhagosa (Tim Penyusun, 2003:53).
Meskipun Buddha sempat bangkit kembali di India Timur, tetapi pada saat bersamaan juga di India sedang berkembang ajaran Tantrayana. Ajaran ini mempengaruhi sebagian besar mazhab Hindu dan Buddha. Penguruh Tantrayana terhadap mazhab Shiwa ditandai dengan munculnya mazhab Shiwatantra atau Shiwagama, sedangkan pada mazhab Waishnawa juga melahirkan Waishnawatantra atau Waishnawagama (Benerjee, 1988:367—468). Sementara itu, dalam Buddha muncul aliran Vajrayana atau Buddhatantra. Kuatnya pengaruh Tantrayana ini juga dibuktikan bahwa perguruan Nalandha yang semula merupakan pusat studi Mahayana pada masa ini telah berubah menjadi pusat studi Tantrayana (Tim Penyusun, 2003:53). Dengan demikian, kebangkitan kaum Brahmana, gerakan bhakti, dan Tantrayana menjadi faktor penting melemahnya pengaruh Buddha di India.
Pada masa berikutnya, pengaruh agama Buddha di India bertambah melemah seiring dengan munculnya gerakan Wedanta yang dilakukan oleh sejumlah intelektual Hindu. Salah satu pelopor gerakan ini adalah Sangkaracarya (788--820 M), seorang Brahmana asal Keladi Kerala yang memiliki kecerdasan luar biasa dalam bidang Siwapaksa. Dia adalah pendiri aliran filsafat Adwaita Wedanta. Sangkaracarya berhasil memenangkan perdebatan dengan bhiksu-bhiksu Buddha melalui penjelasan agama Hindu yang lebih sederhana, rasional, dan filosofis (Thapar, 1979:185). Setelah itu, ia juga menarik kembali para pengikuti Buddha untuk kembali ke Hindu. Sisanya yang kebanyakan adalah penganut Buddhatantra (Vajrayana) lari menyelamatkan diri ke Tibet (Klostermeier, 1988:107). Demikianlah pengaruh agama Buddha perlahan-lahan memudar dan sampai dengan kedatangan sultan-sultan Islam agama Buddha telah lenyap sama sekali dari India.

III
Uraian di atas menegaskan bahwa perkembangan Shiwa-Buddha di India berada dalam nuansa kontestasi keagamaan yang berujung pada lenyapnya agama Buddha dari India. Kondisi yang bertolak belakang akan terjadi dalam penyebaran dan perkembangan agama Shiwa-Buddha di Indonesia. Kedua agama ini diperkirakan telah masuk ke Indonesia pada abad pertama Masehi (Phalgunadi, 2010). Terdapat sejumlah teori yang menyatakan proses masuknya Shiwa-Buddha ke Indonesia antara lain, teori Waisya (N.J.Krom), teori Ksatrya (C.C.Berg, Mookerje, dan J.L Moens), teori Brahmana (J.van Leur), dan teori Arus Balik (F.D.K. Bosch).
Sebelum ditemukannya yupa dari kerajaan Kutai, memang tidak ada bukti sejarah yang meyakinkan tentang mulai masuknya Shiwa-Buddha ke Indonesia. Penemuan sejumlah arca dewa-dewa Hindu di sekitar Kalimatan menunjukkan bahwa agama Shiwa masuk bersamaan dengan mazhab-mazhab yang lain, khususnya Brahmanisme. Mengingat dari abad ke-1 sampai abad ke-4 Masehi ajaran Brahmanisme sedang mengalami kejayaan di India (Phalgunadi, 2010:36). Bersamaan dengan itu, juga Buddha Mahayana mengalami perkembangan yang pesat untuk memperbarui ajaran Hinayana yang mulai terdesak oleh gerakan kaum Brahmana dan gerakan Bhakti kelompok Waishnawa. Walaupun demikian, diperkirakan bahwa Hinduisme (Brahmanisme dan Shiwaisme) dan Buddhisme memang datang secara langsung dari India. Tidak ada bukti sejauh ini ditemukan kemungkinan kedua agama besar ini dipekenalkan di nusantara oleh perantara-perantara dari negara lain, seperti halnya kasus Islam (Suamba, 2007:42—43).
Itihasa Ramayana Valmiki memberikan catatan tertua adanya kontak antara India dan Jawa. Diceritakan bahwa pasukan kera yang dipimpin Sugriwa memeriksa berbagai tempat di dunia termasuk kepulauan Indonesia. Pasukan kera ini dengan berhati-hati mengamati tujuh wilayah di nusantara yang disebut Saptarajya. Menurut Phalgunadi (dalam Suamba, 2007:41) bahwa Saptarajya merupakan tujuh tempat, yaitu Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya (dan Papua Nugini), Bali, Semenanjung Malaka, dan Jawa. Di samping itu, kitab Brahmanda Purana yang disusun pada masa Gupta sekitar abad ke-4 Masehi, juga mengungkapkan bahwa saudagar-saudagar India telah mengunjungi Indonesia. Kitab ini menyebut pulau Kalimantan (Borneo) dengan nama Brahinadvipa. Beberapa kitab purana lainnya menyebutkan kunjungan Rsi Agastya ke Barhinadvipa, Kusadvipa, Varahadvipa, Sankhadvipa, Malayadvipa, dan Javadvipa. Ia tinggal untuk beberapa waktu di gunung Maha-malaya parvata di Malayadvipa. Kitab Raghuvamsa disusun oleh Kalidasa kira-kira abad ke-5 Masehi juga menceritakan adanya lavanga (cengkeh) yang diimpor dari Dvipantara yang kemudian bernama Sumatera. Wolters percaya Dvipantara adalah nama lain Indonesia (Suamba, 2007:42).
Catatan serupa juga ditegaskan oleh sejumlah sejarawan tentang masuknya agama Buddha ke Indonesia. Istilah “Labadiu” sebagai nama lain dari pulau Jawa telah dikenal oleh Ptolemi, ahli bumi dari Iskandariah tahun 130 M. Sejarawan Buddhis umumnya juga menjadikan cerita Ramayana Valimiki sebagai salah satu pembuktian adanya kontak India dan Indonesia. Menurut catatan dari Tibet bahwa Sriwijaya pada abad ke-2 telah menjadi pusat kegiatan agama Buddha dan banyak sarjana agama Buddha asal China yang singgah ke sini sebelum melanjutkan perjalanan ke India melalui Selat Malaka (Tim Penyusun, 2003:262; Suamba, 2007:71). Salah satu sarjana Buddha asal China bernama Fa-Hien juga sempat singgah ke sini dan melanjutkan perjalannya ke Jawa pada tahun 414 M. Dia mencatat bahwa di Jawa banyak terdapat penganut agama Brahmana yang berlainan dengan India, sedangkan penganut Buddha sedikit jumlahnya. Kemudian, pada tahun 421 M, seorang Bhiksu Buddha bernama Gunawarman, dari kerajaan Kashmir menerjemahkan beberapa kitab suci Buddha dan menyebarkannya di She-Po (Jawa). Setelah itu, juga Hui-neng seorang Bhiksu dari China datang ke Ho-ling (Kalingga-Jawa Tengah) untuk menerjemahkan beberapa kitab suci agama Hinayana yang dibantuk oleh Janabadhra (Suamba, 2007:72). Perkembangan agama Buddha Hinayana di Sumatera juga diketahui dari catatan I-Tsing pada tahun 671 Masehi. Aliran ini berkembang di kerajaan Bhoja (dekat Palembang) yang dibawa oleh dhammaduta-dhammaduta dari India Utara – Kasmhir yang diduga berasal dari mazbah Mulasarvastivada, sedikit dari mazhab Samattiya, dan dua mazhab lain yang baru berkembang dari aliran Hinayana. Buddha Hinayana juga berkembang di kerajaan Malayu (sekitar Jambi sekarang) (Tim Penyusun, 2003: 262).
I-Tsing juga memberikan catatan penting tentang perkembangan Buddha Mahayana di Indonesia. Ia menyatakan bahwa wujud agama Buddha pada abad ke-7 adalah perpaduan antara Prajnaparamita dan Tantra. Raja Dharmaphala (770—810) setelah memegang tahta kerajaan segera melakukan penghormatan kepada Haribadra, seorang guru terkemuka dari Prajnaparamita dan Abhisamalankara, tanpa mengabaikan kitab Guhyasamaja yang berisi ajaran Tantra. Para sarjana menyebutkan peristiwa ini sebagai “sintesa Phala”. Bhudda-Tantra (Vajrayana) ini menyebar luas ke Indonesia (Jawa dan Sumatera), Nepal, dan Tibet  (Tim Penyusun, 2003:193). Jadi, Mahayana yang masuk ke Indonesia telah mendapatkan pengaruh dari Tantra (Vajrayana) sehingga perkembangan keduanya saling berkaitan dengan yang lain. Hal ini juga dibuktikan dengan prasasti yang ditemukan di pulau Bangka yang berangka tahun 682 dan 686 menjelaskan tentang siddhayatra yang menyebabkan Sriwijaya kaya dan kuat. Siddhayatra ditafsirkan dengan justifikasi yang berarti “kekuatan magis atau anugerah”(Suamba, 2007:74).
Secara singkat dapat dijelaskan bahwa masuknya Shiwa-Buddha ke Indonesia terjadi sejak abad pertama Masehi. Mulanya agama Brahmana (Hindu – Shiwa) berkembang terlebih dahulu di Kalimatan dan berlanjut ke Jawa dan Bali (abad ke-4 sampai sekarang). Kemudian, Buddha Hinayana mulai berkembang terutama atas jasa Gunawarman dan Jnanabhadra dari abad ke-4 dan ke-7 Masehi. Selanjutnya, antara abad ke-7 sampai abad ke-12 berkembang Buddha Mahayana dan Vajrayana. Dalam perkembangan inilah terjadi pendekatan-pendekatan antara agama Shiwa dan Buddha dan mencapai puncaknya dengan munculnya agama Shiwa-Buddha di Jawa.

IV
Berkaitan dengan perkembangan agama Shiwa-Buddha di Indonesia, Kumar (2006) menyatakan bahwa hubungan antara Indonesia dan India semakin kuat pada masa kerajaan Hindu sekitar abad ke-4 dan ke-5 Masehi. Dalam tulisannya dikemukakan sebagai berikut.
“Purnawarman, the king Taruma, released Sanskrit inscriptions during his reign periods. The king performed Brahmanical rites. But Buddhism penetrated in the heart of mass people and it become religion of common people. This is becaused of a large number of Buddhist vestiges are discovered from different parts of Java including a Buddha image. From the Chinese source, it appears that Java was a center of Buddhist learning. During 5th century. Fa-hien stopped in Java studied Buddhist texts. A monk Gunavarman who was the Prince of Khasmir (India) stayed at She P’o (Java) and preached Buddhism in around 424 A.D. By Fifth century, Java appears to be melting pot of different religions i.e. Hinduism and its Brahmanic sect as well as Buddhism. People of Java accepted the alien religions an began practising its rites and rituals.

(‘Purnawarman, raja Tarumanegara, telah mengeluarkan inskripsi Sansekerta pada periode ini. Raja melaksanakan ritual-ritual agama Brahmana, tetapi Buddhisme telah merebut hati masyarakat umum dan menjadi agama masyarakat pada umumnya. Ini ditunjukkan dengan banyaknya peninggalan-peninggalan Buddha yang ditemukan dari berbagai daerah di Jawa termasuk patung-patung Buddha. Dari catatan China menunjukkan bahwa Jawa telah menjadi pusat pendidikan Buddha. Sekitar abad ke-5 Masehi, Fa-Hien tinggal di Jawa untuk mempelajari teks-teks Buddha. Gunawarman yang merupakan pangerah dari Kashmir tinggal di She P’o (Jawa) dan mengajarkan Buddhisme sekitar tahun 424 Masehi. Pada abad kelima, Jawa mulai menunjukkan adanya percampuran (melting pot) dari berbagai agama, antara lain Hindu khusunya sekte Brahmana dengan Buddha. Masyarakat Jawa menerima agama baru ini dan mulai mempraktikannya dalam upacara dan ritual’).
Pendapat tersebut memberi petunjuk tentang mulai terjadinya pendekatan antara agama Shiwa (Brahmanisme) dan Buddha pada zaman Tarumanegara. Walaupun demikian, istilah melting pot yang digunakan tampaknya masih perlu diuji lebih lanjut. Mengingat istilah ini bermakna hilangnya ciri-ciri dari masing-masing agama dan melahirkan agama baru. Padahal dalam praktiknya, agama Shiwa dan Buddha tetap memiliki konsep dan ciri-ciri yang khas masing-masing. Hal ini dipertegas oleh naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian yang ditulis pada zaman kerajaan Sunda. Naskah ini memperlihatkan bahwa pengaruh Hindu masih sangat jelas, walaupun telah ada kedekatan dengan Buddhisme. Pada bagian 3 naskah ini menyuratkan:
“...ini na lalukonon, talatah sang sadu jati hongkara namo sewya, sembah ing hulun si Sanghyang pancatatagatha; panca ngaran ing lima, tata ma ngaran ing sabda, gata ma ngaran ing raga, ya eta ma pahayuon sareanana...”
(‘…inilah yang harus dilakukan, yaitu amanat sang baik hati (terpercaya) yang sejati, selamatlah (hendaknya) dengan nama Shiwa, menyembahlah hamba kepada Sanghyang Tatagatha (Buddha); panca berarti lima, tata itu artinya sabda, gata artinya raga, ya itulah kebaikan semuanya) (Puponegoro dan Notosusanto dalam Suamba, 2007:67).

Berkaitan dengan istilah yang digunakan untuk menunjukkan “penyatuan” antara Shiwa dan Buddha tampaknya memang belum ada istilah yang disepakati oleh para ahli. Untuk itu, penting melihat secara sekilas pandangan tentang Shiwa Buddha di Indonesia dari beberapa ahli, seperti berikut.
Pertama,  J.H.C Kern yang memfokuskan studinya pada inskripsi-inskripsi berbahasa Sansekerta, prasasti-prasasti berbahasa Jawa Kuna, dan kitab-kitab berbahasa Jawa Kuna menggunakan istilah vermenging (percampuran). Percampuran antara Shiwaisme dan Buddhisme Mahayana terutama terjadi pemberian makna terhadap Prinsip Tertinggi yang Tunggal. Menurut Kern (Kern dan Rassers, 1982) percampuran Shiwa-Buddha di Indonesia sesungguhnya telah terjadi di tempat kelahiran dua agama ini, yaitu India. H.Kern membandingkan data dari Orissa abad ke-7 Masehi dan bukti-bukti yang tercantum dalam Kakawin Sutasoma sehingga sampai pada kesimpulan terjadinya pencampuran antara Siwa dan Buddha. Meskipun demikian, kedua agama ini tetap dibedakan satu sama lain.
Kedua, W.H. Rassers memfokuskan perhatiannya pada struktur masyarakat Jawa purba. Menurutnya kebudayaan Jawa asli dicirikan dengan sistem pembagian dua phratrie, sebagai dua yang azasi. Dia berpendapat bahwa kebudayaan Jawa asli merupakan kemungkinan penyebab terjadinya pertautan antara Siwaisme dan Buddhisme di Jawa. Dengan menganalisis cerita Bubuksah – Gagak Aking, Rassers berpendapat bahwa Gagak Aking yang dipersamakan Pendeta Siwa dipandang sebagai saudara tua dari Bubuksah yang dipersamakan dengan Pendeta Buddha adalah cara manusia Jawa untuk menyesuaikan mitos nenek moyang dengan keadaan yang berlaku pada zaman itu, yaitu zaman Hindu di Jawa Timur. Dalam hubungan ini, juga Rassers menunjukkan bahwa Siwa dan Buddha sebagai “agama negara” yang terjadi di Jawa Tengah berbeda dengan di Jawa Timur. Di Jawa Tengah antara Siwa dan Buddha dipisahkan dalam maknanya sebagai agama negara, tetapi di Jawa Timur keduanya disamakan karena hanyalah dua aspek dari agama yang sama, yakni Siwa-Buddha. Dalam hal ini, Rassers berpendapat bahwa sinkritisme Siwa-Buddha di Indonesia terjadi karena adanya pengaruh kebudayaan Jawa asli.
Ketiga, J.Gonda juga menggunakan istilah “koalisi” dengan menekankan bahwa penyamaan-penyamaan antara dewa-dewa Shiwa dan dewa-dewa Buddha tidak hanya terjadi di Jawa, tetapi juga di Kamboja, Nepal, dan India sendiri. Oleh karena itu, kebudayaan asli Jawa bukanlah satu-satunya kemungkinan pendorong terjadinya koalisi antara Siwa dan Buddha. Sejalan dengan itu, Suwito Santoso berpendapat bahwa Siwaisme dan Buddhisme pada praktiknya masih selalu merupakan agama yang terpisah, sehingga dia juga menggunakan istilah koalisi (coalition). Haryati Soebadio (1982), juga tidak sependapat dengan istilah Sinkritisme untuk menyatakan perpaduan Siwa dan Buddha karena istilah ini berkonotasi hilangnya identitas masing-masing agama dan menghasilkan sistem baru. Padahal, perpaduan Siwa dan Buddha tidak menghilangkan identitas masing-masing. Identifikasi Hindu dan Buddha dalam beberapa sastra Jawa Kuna hanyalah mengenai Prinsip Tertinggi beserta segala manifestasinya. Oleh karena itu, ia sependapat dengan Gonda untuk menggunakan istilah koalisi.
Keempat, Edi Sedyawati (Suamba, 2007:82; Sedyawati, 2009) melukiskan pertemuan Hinduisme dan Buddhisme pada masa Jawa Tengah sekitar abad ke-8 dan ke-9 Masehi sebagai “amalgamation” (percampuran) melalui adopsi dan kemudian terjadi “restructuring” (penataan kembali) sesuai dengan alam pikiran kebudayaan Jawa. Artinya, peran kearifan lokal Jawa dalam mempertemukan dan menata kembali ajaran Shiwa-Buddha merupakan faktor yang terpenting. 
Perkembangan Shiwa-Buddha pada abad ke-8 di Jawa Tengah tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Sanjayawangsa dan Syailendrawangsa. Secara politis, toleransi Shiwa-Buddha ditunjukkan dengan perkawinan antara Rakai Pikatan (Sanjayawamsa – beragama Shiwa) dengan Pramodhawardani (Syailendrawamsa - beragama Buddha Mahayana). Di samping itu, juga dalam Prasasti Kalasan (778 M) disebutkan bahwa candi Kalasan dibangun atas kerjasama antara Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu (Shiwa) dengan wangsa Syailendra yang beragama Buddha Mahayana. Candi Kalasan sendiri adalah candi untuk pemujaan Dewi Tara. Meskipun demikian, Shiwa dan Buddha di Mataram Kuno merupakan dua agama besar yang hidup berdampingan secara serasi, selaras, dan harmonis dalam satu negara (Suamba, 2007:91). Mengikuti catatan Rassers (1926:6) bahwa Siwa atau Buddha adalah agama negara yang terkait erat dengan wangsa-wangsa kerajaan tertentu yang berkuasa. Hal ini penting untuk membedakan dengan percampuran Siwa-Buddha pada masa kerajaan Hindu di Jawa Timur.
Proses sinkritisasi Siwa-Buddha di Mataram Kuno lebih tegasnya dapat ditemukan dalam Prasasti Klurak (782 M). Prasasti ini ditulis dalam Bahasa Sansekerta dan dikeluarkan dalam rangka pendirian bangunan suci agama Buddha untuk pemujaan Manjusri (salah satu wujud ke-Buddha-an tertinggi). Adapun isi prasasti Klurak terkait dengan Siwa-Buddha terdapat dalam bait 13, 14, dan 15 sebagai berikut.
“Kirttistambho’yam atulo dharmasetur anutarah raksathamsarvasatvanam
 mamjusripratimakrtih”
 (‘(bangunan) penguat kejayaan, yang tiada bandingnya ini adalah jembatan yang kokoh menuju Dharma (ajaran yang benar), dilengkapi dengan arca Manjusri demi pemeliharaan segenap makhluk) (bait 13).

atra buddhasca dharmmasca sanghascantargatah stitah drstavyo drsyaratne’smin smararati-nisudane”
(di situlah terletak di dalamnya Buddha, Dharma, dan Sangha hendaknya dipandang, di bangunan itu yang merupakan permata yang indah, penakluk segala kenikmatan duniawi) (bait 14).

ayam sa vajradhrk sriman brahma visnur mahesvarah sarvadevamayah suami manjuvag iti giyate”
(ia itu yang membawa wajra dan bercahaya (adalah) Brahma, Wisnu, maupun Mahesvara (ia adalah) junjungan yang memperlihatkan diri sebagai segala dewa, (ia) dipuja dalam nyanyian sebagai Manjuwag) (bait 15).

Terkait dengan Siwa-Buddha dapat dipahami bahwa dewa-dewa tertinggi dalam Agama Hindu, yaitu Tri Murti (Brahma, Wishnu, dan Maheswara) disebutkan dalam rangka memaparkan keagungan bangunan suci Buddha. Dalam prasasti ini prinsip ke-Buddha-an Tertinggi adalah Manjusri atau Manjuwag yang di dalamnya terdapat Buddha, Dharma, dan Sangha yang menaklukkan segala kenikmatan duniawi. Manjusri sebagai prinsip ke-Buddha-an Tertinggi mengambil wujud Brahma, Wisnu, dan Maheswara. Prasasti ini tampaknya lebih mengagungkan Buddha daripada Shiwa karena dibangun oleh Dinasti Syailendra.
 Dua keluarga (wangsa) ini jua mempelopori pembangunan sejumlah candi di Jawa Tengah, baik candi Siwa maupun candi Buddha. Candi-candi Hindu antara lain, Prambanan, Gedongsanga, Dieng, Lorojonggrang, dan Ratu Baka. Candi Buddha antara lain, Borobudur, Kalasan, Mendut, Sewu, dan Plaosan. Pada masa ini pula filsafat dan agama mendapatkan perhatian serius. Konsep karmaphala, kelahiran setelah kematian atau reinkarnasi, dan pembebasan sejati atau sunyavada (moksa) sudah banyak dikenal masyarakat. Pelaksanaan ritual-ritual keagamaan dan pemujaan dewa-dewa, baik Hindu maupun Buddha berkembang pesat di masyarakat (Kumar, 2006). Hal ini dapat dilihat dari Candi Prambanan misalnya, di sana dipuja Maharsi Agastya sebagai Bhatara Guru, Ganesa, Lorojonggrang (Durga atau Uma), dan Siwa sendiri. Artinya, keseluruhan aspek agama Hindu, baik tattwa (filsafat), etika, dan acara agama telah dilaksanakan secara simultan pada masa ini sebagai kelanjutan dari masa-masa sebelumnya.
Ajaran Siwa-Buddha semakin berkembang dan meluas pengaruhnya pada masa kerajaan di Jawa Timur sekitar abad ke-11. Di samping itu, juga di Jawa Timur ajaran Tantrayana berkembang sangat pesat. Petunjuk utama tentang perkembangan agama Siwa-Buddha, dan Tanrayana ini tidak hanya diwujudkan dalam bentuk candi dan prasasti (bukti sejarah yang dominan di Jawa Tengah), tetapi juga dalam berbagai kesusasteraan Jawa Kuna. Pada masa Mpu Sindok (929-947 M) lahir kitab agama Buddha Mahayana, yaitu Tutur Sanghyang Kamahayanikan. Kitab ini menyatakan “Buddha tunggal lawan Shiwa”. Kemudian, dalam prarasti Keboan Pasar yang dikeluarkan Raja Erlangga pada tahun 1034 Masehi disebutkan tentang penghormatan kepada Mpungku Shiwa-Sogata-Rshi (Suamba, 2007:105).
Pada akhir masa kekuasaannya, Raja Erlangga membagi kerajaan menjadi dua, yakni Jenggala yang beribukota di Kahuripan dan Panjalu yang beribukota di Daha. Dalam Negarakrtagama 68, 2—5 diceritakan bahwa pembagian kerajaan ini dilakukan dengan bantuan Mpu Bharadah yang terbang dengan membawa sebuah kendi. Ini menjadi petunjuk penting perkembangan ajaran Siwa-Buddha Tantra yang kental dengan nuansa mistis dan magis. Ketegasan tentang hal ini dapat dirujuk dari pendapat Sarkar (2002:64) bahwa teks-teks Buddha sungguh-sungguh berbicara tentang kekuatan-kekuatan itu melibatkan kapasitas “memproyeksikan bayangan seseorang buatan pikiran, menjadi tidak dapat dilihat oleh mata, menembus benda-benda padat seperti dinding, menembus dasar pada seolah-olah cair, berjalan di atas air, terbang di angkasa, menyentuh matahari dan bulan, naik ke surga-surga yang lebih tinggi, dan sebagainya. Pencapaian kekuatan-kekuatan supernatural atau siddhi-siddhi juga salah satu tujuan utama praktik umum Tantra Shiwa.
Kemanunggalan Siwa-Buddha-Tantra di Jawa Timur juga semakin jelas dari catatan-catatan tentang Raja Krtanegara. Diceritakan bahwa ketika pasukan Kadiri memasuki kerajaan Singhasari, Kertanegara sedang minum sampai mabuk bersama para punggawa kerajaan. Menurut Soekmono (1981) sesungguhnya Kertanegara sedang melaksanakan ritual Budha Tantra. Hal ini dikuatkan dengan bukti yang tertulis dalam lapik arca Joko Dolok di Surabaya yang menyatakan bahwa Kertanegara telah dinobatkan sebagai Jina (Dhyani Buddha), yaitu sebagai Aksobhya dan Joko Dolog adalah arca perwujudannya. Sebagai Jina dia bergelar Jnanasiwabajra. Setelah wafat, Kertanegara dinamakan Siwa-Buddha dalam kitab Pararaton, sedangkan dalam Negarakrtagama dikatakan “mokteng Shiwa-Buddhaloka” (Moksa di alam Siwabuddha), juga dalam kitab-kitab lain disebut “lina ring Shiwa-Buddhalaya” dan “lumah ri Shiwa-Buddha” dengan makna yang sama. Kertanegara dimuliakan di Candi Jawi sebagai Shiwa dan Buddha; dicandikan di Sagala bersama permaisurinya Bajradewi sebagai Jina (Wairocana); dan di Candi Singhasari dicandikan sebagai Bhairawa.
Perkembangan Siwa-Buddha-Tantra berlanjut sampai dengan zaman Majapahit sekita abad ke-13 sampai ke-15 Masehi. Krtarajasa yang wafat pada tahun 1309 M dicandikan sebagai Shiwa di Simping (Candi Sumberjati) – sebelah selatan Blitar, dan sebagai Buddha dicandikan di Antahpura dalam kota Majapahit. Arca perwujudannya adalah Harihara, berupa Wisnu dan Siwa dalam satu arca, sedangkan Tribhuwana dimuliakan di candi Rimbi di sebelah barat daya Mojokerto dalam wujudnya sebagai Parwati. Petunjuk tentan Shiwa-Buddha juga ditemukan dalam sejumlah karya sastra yang lahir pada zaman pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1360-1369 M), yaitu Negarakrtagama karya Mpu Prapanca, Arjunawijaya dan Sutasoma oleh Mpu Tantular. Ada beberapa petunjuk penting tentang Shiwa-Buddha dalam ketiga kitab ini, sebagai berikut.
(1)   Negarakrtagama
a)   Tentang pencandian dan pengarcaan Shiwa dan Buddha dari raja-raja yang memerintah Kediri, Singhasari, dan Majapahit.
b)   Tentang Mpu Bharadah yang menguasai ajaran Shiwa-Buddha-Tantra.
c)   Tentang Raja Krtanegara yang memeluk dua agama, yakni Shiwa dan Buddha sehingga disebut Shiwa-Buddha.
d)  Tentang pengangkatan kepala agama sebagai kepala pengadilan, yaitu Dharmadhyaksa ri Kasewan dan Dharmadhyaksa ri Kasogatan.
e)   Prapanca adalah Dharmadyaksa ri Kasogatan (Mulyana, 2011).
f)    Tentang dewa-dewa, yaitu Panca Sogata (Akshobya, Ratnasambhawa, Amitabha, Amoghasiddhi, Wairocana); Panca Kosika (Mahakusika, Garga, Maitri, Kurusya, Patanjala); dan Pancaka Shiwa (Iswara, Brahma, Mahamara, Madhusudhana, dan Bhatara Guru) (Suamba, 2007:129).

(2)   Arjunawijaya
a)   ndan katenanya haji tan hana bedha sang hyang; Hyang Buddha rakwa kalawan Siwarajadewa kalih sameka sira sang pinakesti dharma; ring dharma sima tuwi yan lepas adwitiya” (27.2) (‘pada hakikatnya tidak ada perbedaan antara Beliau; Sang Hyang Buddha dengan Sang Hyang Siwarajadewa; keduanya sama itu yang menjadi tujuan dharma, baik dalam dharma sima maupun dharma lepas, tidak ada bedanya’).

“Om Sriparwatarajadewa, hurip ing sarwa pramaneng jagat, sang saksat paramartha Buddha…” (1.1) (‘Sri Parwata Rajadewa adalah jiwa dari segala jiwa kehidupan di dunia, bagaikan Paramartha Buddha…’) (Suamba, 2007:122—123).

b)   Lima Dhyani Buddha disamakan dengan Pancaka Shiwa, yaitu (1) Vairocana (Sadashiwa) di tengah; (2) Aksobhya (Rudra) di timur; (3) Ratnasambhawa (Dhatradewa) di selatan; (4) Amitabha (Mahadewa) di barat; dan (5) Amogasiddhi (Harimurti) di utara (Mantra, 2002:27).

(3)   Sutasoma
a)      Hyang Buddha tanpahi Shiwa Raja Dewa/ rwaneka dhatu winuwus wara buddha wiswa/bhineka rakwa ring apan kena parwanosen/ mangka ng Jinatwa kalawan Siwatwa tunggal/ bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa//(‘Hyang Buddha tidak ada bedanya dengan Shiwa Raja Dewa/ disebutkan dua perwujudan Beliau, yaitu Buddha dan Siwa/ berbeda konon, tetapi kapankah dapat dibagi dua/ demikianlah kebenaran Buddha dan kebenaran Siwa itu satu/ yang berbeda itu sesungguhnya satu jua/ karena tidak ada dharma yang mendua//) (Mantra, 2002:25; Suamba, 2007:119).

b)      Lima Dhyani Buddha disamakan dengan Pancakha Shiwa yaitu (1) Vairocana (Shiwarajadewa) di tengah; (2) Aksobhya (Iswara) di timur; (3) Ratnasambhawa (Dhatra) di selatan; (4) Amitabha (Mahamara) di barat; dan (5) Amogasiddhi (Wishnu) di utara (Mantra, 2002:27).
c)      Jina adalah kebenaran tertinggi dan terakhir, serta mewujudkan diri dalam tritunggal, yakni Buddha, Lokeswara, dan Wajrapani yang disamakan dengan Brahma, Wishnu, dan Ishwara.

Selain kitab-kitab tersebut, sesungguhnya masih banyak lagi susastera Jawa Kuna yang memperbincangkan tentang Shiwa-Buddha. Kesusasteraan yang bercorak Buddhistik, antara lain: Sang Hyang Kamahayanikan, Sutasoma, Arjuna Wijaya, Kunjarakarna, Nagarakrtagama, Hariwangsa, Tantu Pagelaran, Korawashrama, dan Bubuksah Gagakaking. Kitab-kitab yang bercorak Shiwaistik, antara lain: Bhuwanakosa, Wrespatitattwa, Mahajnana, Tattwa Mahajnana, Jnana Siddhanta, dan Bhuwana Sangksepa. Meskipun memiliki corak yang lebih Buddhistik ataupun Shiwaistik, tetapi pada intinya kitab-kitab tersebut menguraikan bahwa Shiwa dan Buddha adalah dua prinsip yang Tunggal.
Dalam kurun waktu hampir bersamaan dengan perkembangan Shiwa-Buddha di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yakni antara abad ke-8 sampai ke-15 Masehi, agama Shiwa-Buddha juga telah berkembang di Bali. Prasasti Sukawana menyebutkan keberadaan dua kelompok orang suci, yaitu Buddha dan Shiwa. Demikian juga sejumlah arca, stupa, dan stupika tersimpan pada beberapa pura di Bali, seperti Mas Ketel, Goa Gajah, Pegulingan, Subak Kedangan, Bukit Dharma (di Gianyar) dan sejumlah tempat lainnya (Suamba, 2007:138). Dengan mengutip Astawa (Suamba, 2007:142) bahwa sejumlah prasasti Bali Kuna menyebutkan pernyataan penghormatan “namasiwaya namobuddhaya”. Catatan Goris (1968:4) tentang sembilan sekte yang telah berkembang di Bali pada seputaran abad ke-10 juga menegaskan adanya sekte Shaiwa Siddhanta dan Sogata. Bukti lainnya juga disebutkan dalam sejumlah prasasti tentang sebutan orang suci, yakni Dang Acarya untuk pendeta Shiwa dan Dang Upadhyaya untuk pendeta Buddha (Suamba, 2007:148—153). Agama Siwa-Buddha masih hidup di Bali sampai saat ini, terutama dengan masih dilaksanakannya upacara yajna yang dipuput oleh Tri Sadhaka, yaitu Shiwa, Buddha, dan Bhujangga.

V
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa perpaduan agama Shiwa-Buddha di Indonesia terjadi karena adanya sejumlah kesamaan pada berbagai aspek. Aspek-aspek ini ibarat lem perekat yang mampu mempertemukan kedua agama tersebut. Berkaitan dengan hal itu, Suamba (2007:349—352) telah menyusun sejumlah aspek yang membuka peluang terjadinya penyatuan Shiwa Buddha di Indonesia, sebagaimana tabel berikut. 

Tabel 01
Pararelisme antara Agama Shiwa dan Agama Buddha
No
Konsep
Agama Siwa

Agama Buddha
1
Prinsip tertinggi
Parambrahma/
Sadyotkranti/
Parama Shiwa/ AM-AH
(moksa)
Pranawajnana/
Pranajyotirupa/
Parama Buddha/

Advaya/AM-AH
(sunya)
Advaya-Jnana
Divarupa
2
Dwi Tunggal
Siwa – Durga/Shakti
Adhi Budha dan Pradnyaparamita
(Advaya dan Advayajnana).
3
Tiga Hakikat Shiwa
Tri Purusha:
Paramashiwa (niskala), Sadashiwa (sakala-niskala),
Shiwa (sakala)
Buddha Vajrasattwa dan Awalokiteswara dalam wujud wujud Dharmakaya, Sambhogakaya, dan Nirmanakaya.
4
Kelepasan/ Tujuan tertinggi.
Moksa, Sunya
Sunya, Nirbana
5
Tiga Dewa
Tri Murti :
Brahma, Wisnu, Iswara
Ratnatraya :
Sakyamuni, Lokeswara, dan Bajrapani atau Wairocana, Amitabha, Aksobhya, atau Wairocana, Ratnasambhawa, dan Amogasiddhi. Ketiganya disebut juga Buddha, Darma, dan Sangga, merupakan esensi dari Kaya, Wak, dan Citta (Tri Kaya).
6
Lima Dewa
Panca Dewata/ Panca Brahma :
Sadyojata (Iswara: Sa), Bamadewa (Brahma: Ba), Tatpurusa Mahadewa:Ta), Aghora (Wishnu: A), dan Isana (Shiwa: I).
Panca Tatagatha :
Wairocana (tengah), Ratnasambhawa (selatan), Amitabha (Barat), Amogasiddhi (utara), dan Aksobya (Timur).
7
Lima Aksara
Panca Aksara : Sang, Bang, Tang, Ang, Ing.
Panca Aksara : Ah, Hum, Tram, Hrih, A.
8
Dewi Ilmu Pengetahuan
Saraswati
Pradnya Paramita
9
Pendeta
Dang Acarya
Dang Upadhyaya
10
Istilah nama
Siwa (Sewa)  
Jina, Buddha, Sogata.

Selain kesepuluh paralelisme Shiwa-Buddha tersebut, juga dapat ditambahkan bentuk pararelisme yang cukup penting, yaitu Pangider-ider yang digunakan oleh Shiwa, Buddha Mahayana, dan Vajrayana (Tantra), berikut ini.
                                                           
Tabel 02
Pangider-ider Shiwa Sidhanta (Tantra)
No
Dewa
Shakti
Wahana
Senjata
Arah
Warna

Bija Mantra
1
Sada Shiwa/Isana
Durga
Lembu
Padma
Tengah
Panca Warna
Ing (I)/
Yang (Ya)

2
Iswara/Sadyojata
Umadewi
Gajah
Bajra
Timur
Putih
Sang/Sa

3
Brahma/Bamadewa
Saraswati
Angsa
Gada
Selatan
Merah
Bang/Ba

4
Mahadewa/Tatpurusha
Sachi
Naga
Nagapasa
Barat
Kuning
Tang/Ta

5
Wishnu/Aghora
Shri
Garuda
Chakra
Utara
Hitam
Ang/A

6
Maheswara
Lakshmi
Macan
Dupa
Tenggara
Dadu
Nang/Na

7
Rudra
Santani
Kerbau
Moksala
Barat Daya
Jingga
Mang/Ma

8
Sangkara
Rodri
Singha
Angkus
Barat Laut
Hijau
Sing/Si
9
Sambhu
Mahadewi
Wilmana
Trisula
Timur Laut
Biru
Wang/Wa



Tabel 03
Pangider-ider Buddha Mahayana (Panca Buddha)
No
Dewa
Shakti
Wahana
Arah
Warna

Bija Mantra
1
Wairocana
Wajradateswari
Naga
Tengah
Putih
OM/A
2
Ratnasambhawa
Mamaki
Singha
Selatan
Kuning
SWA
3
Amitabha
Pandara
Merak
Barat
Merat
AH
4
Amogasiddhi
Tara
Garuda
Utara
Hitam
I
5
Aksobhya
Locana
Gajah
Timur
Biru
HUM

Tabel 04
Pangider-ider Vajra Bhairawa
No
Arah
Bhija Mantra
Persembahan

1
Timur
BRUM
Daging Lembu
2
Selatan
AM
Daging Anjing
3
Barat
JRIM
Daging Gajah
4
Utara
KHAM
Daging Kuda
5
Tengah
HUM
Dagung Manusia
6
Tenggara
LAM
Tahi
7
Barat Daya
MAM
Darah
8
Barat Laut
PAM
Bodhicitta Putih
9
Timur Laut
TAM
Sumsum
10
Tengah
BAM
Kencing
11
Atas
OM – Putih.
AH – Merah
HUM – Biru


Catatan: Vajra Bhairawa adalah cabang Vajrayana dari Buddha Tantra yang
    pelaksanaannya hampir sama dengan Buddha Vajrayana.

VI
Simpulan dari semua uraian ini bahwa perkembangan agama Shiwa-Buddha di India dan Indonesia saling bertolak belakang. Berawal dari penentangan Buddha terhadap Brahmanisme, kemudian dibalas dengan perlawanan terhadap agama Buddha. Perlawanan yang dilakukan kelompok Brahmana (Shiwa), gerakan Bhakti Waishnawa, pengaruh Tantrayana, gerakan Wedanta, dan situasi politik masa itu menyebabkan agama Buddha lenyap dari India. Prinsip-prinsip penting dari agama Buddha banyak mempengaruhi agama Hindu (terutama Waishnawa), tetapi diambil dan digunakan untuk mengalahkan dalam debat. Pengakuan Buddha sebagai awatara Wishnu merupakan cara yang cukup berhasil untuk melemahkan pengaruh agama Buddha dan mengembalikan umat Hindu yang telah memeluk ajaran Buddha. Begitu juga penolakan Buddha terhadap yajna dijadikan prinsip penting gerakan Wedanta untuk mengalahkan agama Buddha.
   Di Indonesia, agama Hindu (Brahmanisme dan Shiwa) dan Buddha hidup berdampingan secara toleran dan harmonis. Malahan, kedua agama ini saling bekerjasama untuk mengisi kekosongan rohani masyarakat Indonesia. Sejumlah kesamaan sistem ajaran antara Shiwa dan Buddha diadaptasi dan disusun kembali sesuai alam pikiran Indonesia. Proses perpaduan dan restrukturisasi ajaran ini melibatkan Shiwa, Buddha, Tantra, dan local genius sehingga Shiwa-Buddha di Indonesia sungguh-sungguh menjadi karya keagamaan yang tiada duanya, bahkan tidak pernah terjadi di negeri asalnya- India. Pada tataran praktik, Shiwa dan Buddha tetaplah dapat dibedakan. Namun ketika perbedaan ini diabstraksi pada tataran teologi, metafisika, dan mistikal keduanya hanyalah sebutan yang berbeda dari satu hakikat yang tunggal. Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa.
         Tlas sinurat,
Puri Gerenceng—Denpasar
10 Mei 2013

VII
DAFTAR PUSTAKA


Banerjee, S.C. 1988. A Brief History of Tantra Literature. Calcutta.
              
Goris, R. 1968. Sekte-sekte di Bali. Jakarta: Bhratara.

Hariharan, M. 1987. Hinduism and It’s Rationalism. Bombay.

Khanna, K.C. Ancien and Medieval India. New Delhi.

Klostermeier, Klaus. K. 1988. A Short Introduction to Hinduism. Oxford.

Kumar, Bachchan. 2006. “Culture Relations Between Indonesia and India During Ancient Period”. Makalah disampaikan dalam seminar “Siwa-Buddha di Indonesia” yang diselenggarakan oleh Universitas Hindu Indonesia, Denpasar.

Kundra, D.N. 1968. A New Text Book of History of India. New Delhi.

Luniya, B.N. 2002. Evolution of Indian Culture. Agra.                      

Macmilan (ed.). 2001. An Advanced History of India. New Delhi.

Mahajan, V.D. 2002. History of Medieval India. New Delhi.


Majumdar, R.C. 1969. Indian Religion. Calcutta.

-------------------. 1998. Ancient India. New Delhi.

Mantra, Ida Bagus, I Gusti Bagus Sugriwa, Ida Bagus Gede Agastia, Himansu Busan Sarkar, J.HC. Kern, W.H, Rassers. 2002. Siwa Buddha Puja di Indonesia. Denpasar: Yayasan Dharmasastra.

Muljana, Slamet. 2011. Tafsir Sejarah Negarakretagama. Yogyakarta: LKiS.

Phalgunadhi, I Gusti Putu. 2010. Sekilas Sejarah Evolusi Agama Hindu Edisi Revisi. Denpasar: Program Magister (S2) Ilmu Agama dan Kebudayaan UNHI Denpasar bekerjasama dengan Penerbit Widya Dharma.

Rassers, Willem Huibert. 1926. Siwa en Boeddha in den Indischen Archipel, edisi Translation Series – KITLV, No. 3. 1959 oleh Nijhoff.

Sharma, L.P. 2001. History of Ancient India: Pre-Historic Age to 1.200 AD. New Delhi.

Sedyawati, Edi. 2009. Saiwa dan Bauddha di Masa Jawa Kuna. Denpasar: Widya Dharma.
Suamba, I.B. Putu. 2007. Siwa-Buddha di Indonesia Ajaran dan Perkembangannya. Denpasar: Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Kerjasama dengan Penerbit Widya Dharma.

Thapar, Ramila. 1979. A History of India I. New York.

Tim Penyusun. 2003. Materi Kuliah Sejarah Perkembangan Agama Buddha. Jakarta: C.V. Dewi Kayana Abadi.

Tripathi, Ramashankar. 1999. History of Ancient India. New Delhi.












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar