Jumat, 12 Oktober 2012

HEGEMONI MODERNITAS


RINGKASAN DISERTASI

HEGEMONI MODERNITAS
DALAM RELIGIUSITAS UMAT HINDU
DI KOTA DENPASAR

I Wayan Sukarma
NIM 0690371016
Pascasarjana Universitas Udayana

 
I. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Perbedaan ras, bahasa, agama, dan tradisi sosial memberikan tugas kepada manusia untuk menciptakan tatanan dunia-kehidupan dan menemukan jalan hidup. Dengan jalan hidup ini kelompok-kelompok yang berbeda dan berlawanan dapat hidup berdampingan, damai, dan mengambil langkah-langkah konstruktif untuk mencapai martabat dan kemuliaan bagi semua. Akan tetapi, pada kenyataan dalam pengalaman empiris sehari-hari tidak jarang ditemukan penyakit sosial yang bersumber dari kesenjangan antara lembaga-lembaga sosial dan tujuan dunia-kehidupan. Kesenjangan ini melahirkan krisis dalam dunia-kehidupan, baik pada aspek sosial, budaya, maupun agama. Krisis ini merupakan tragedi kemanusiaan yang bersifat universal, bahkan pada dimensi moralitas telah terjadi pengenduran tradisi, norma-norma, hukum, dan tatanan yang telah mapan pada taraf yang mencengangkan. Krisis ini adalah era kegelapan intelektual dan barbarisme etik sehingga persoalan rekonstruksi sosial berdasarkan idola-idola agama menjadi penting (Radhakrishnan, 2003:4 dan 7).
Memosisikan agama menjadi sumber moralitas dan kemanusiaan dalam rekonstruksi sosial merupakan gagasan yang sejalan dengan misi teori kritis. Pengembangan ilmu pengetahuan ditekankan pada peran pentingnya dalam proses humanisasi sehingga ilmu pengetahuan dapat meningkatkan harkat dan martabat manusia. Pengembangan pengetahuan seperti ini, juga menjadi cita-cita luhur agama (Radhakrishnan, 2003:28; Lubis, 2006:51). Ini berarti bahwa kaitan antara ilmu pengetahuan dan kemanusiaan sebagaimana hubungan antara cara dan tujuan. Radhakrishnan (2010:7) menegaskan bahwa “dalam hiruk-pikuk semangat mengupayakan cara itu, kita tidak boleh melupakan tujuan”. Begitu juga Maman, dkk. (2006:2) mengimbau, agar pembangunan, pengembangan, pembinaan, dan pelestarian agama menjadi agenda penting dan niscaya karena agama memiliki peran transformatif bagi proses sosial, kultural, ekonomi, dan politik pada masa depan.
Imbauan ini dapat dimengerti menjadi relevansi dan pentingnya penelitian agama dalam pendekatan kontekstual terutama dalam terma modernitas karena proses modernisasi tidak dapat menghindari. Analisis masyarakat modern terutama tentang kemunculan dan pengaruh modernitas dalam kehidupan modern satu di antaranya diungkapkan oleh George Simmel. Menurut Simmel (Ritzer & Goodman, 2003:551) modernitas ditentukan oleh dua sisi yang saling berhubungan, yaitu kota dan ekonomi uang. Kota adalah tempat modernitas dipusatkan atau diintensifkan, sedangkan ekonomi uang menyebabkan penyebaran modernitas dan perluasannya. Dalam hal ini, juga Kota Denpasar menjadi pusat penyebaran dan perluasan modernitas sejalan dengan proses pembangunan. Penyebaran dan perluasan modernitas seperti ini, apabila dicermati berdasarkan pandangan Gramsci tentang hegemoni (Simon 2004:19; Bocock, 2007:16), maka modernitas adalah kekuatan hegemonik yang secara signifikan mempengaruhi religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar. Fakta bahwa modernitas merupakan ideologi hegemonik dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar merupakan pesan intelektual dan moralitas bagi kajian budaya.  

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1  Mengapakah muncul hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar?
1.2.2  Bagaimanakah bentuk hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar?
1.2.3  Bagaimanakah respons terhadap hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar?

1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1  Tujuan Umum
Penelitian ini hendak memahami dan mendeskripsikan fakta-fakta religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar secara holistik dan komprehensif sesuai dengan tradisi kajian budaya. Pengungkapan fakta ini diarahkan untuk memperoleh gambaran pengetahuan dan pemahanan tentang hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar. Lingkup pengungkapannya sebagaimana tujuan khusus di bawah ini.     

1.3.2  Tujuan Khusus
1.3.2.1  Untuk mengetahui dan memahami kejelasan tentang munculnya hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar.
1.3.2.2  Untuk mengetahui dan memahami kejelasan tentang bentuk hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar.
1.3.2.3  Untuk mengetahui dan memahami kejelasan tentang respons terhadap hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar. 

1.4  Manfaat Penelitian
Penelitian ini diabdikan pada kebangkitan peran ilmu-ilmu sosial, humaniora, kebudayaan, dan keagamaan dalam khazanah kajian budaya. Kebangkitkan peran kajian budaya diharapkan dapat mendorong tumbuhnya kebebasan kehidupan beragama dalam kerangka multikulturalisme sehingga kerukunan umat beragama menjadi kenyataan. Dalam hal ini, secara lebih khusus ditujukan bagi terciptanya kerukunan dan ketenteraman dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar. Dengan demikian, setidak-tidaknya manfaat penelitian ini dapat ditekankan pada dua dimensi, yaitu teoretis dan praktis.

1.4.1  Manfaat Teoretis
1.4.1.1  Pendekatan. Penelitian ini diharapkan dapat menawarkan alternatif pendekatan posmodern dalam ilmu-ilmu sosial terutama dalam bidang sosial keagamaan, yaitu memandang kemunculan suatu kehidupan sosial keagamaan baru sebagai respons sosial keagamaan individu-individu sebagai anggota masyarakat. Respons sosial keagamaan tersebut melalui perantaraan pemaknaan atau pemikiran mereka terhadap kehidupan sosial keagamaan terdahulu. Kehidupan sosial keagamaan, baik yang terdahulu maupun yang baru dipandang dapat memberikan pengalaman belajar kepada umat Hindu di Kota Denpasar dalam membangun pola pemikiran atau pemaknaan.
1.4.1.2  Koreksi. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menyempurnakan hasil penelitian atau pemikiran teoretik terdahulu terutama yang berkaitan dengan perubahan kehidupan sosial keagamaan. Dalam hal ini, sesuai dengan objek penelitian, yakni pemikiran teoretik tentang hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu.
1.4.1.3  Penguatan. Penelitian ini diharapkan menghasilkan sejumlah fakta yang dipandang dapat memperkuat, baik hasil penelitian maupun pandangan teoretik terdahulu terutama yang berkaitan dengan proposisi-proposisi yang dihasilkan. Dalam hal ini, proposisi-proposisi yang dimaksudkan sesuai dengan objek penelitian ini, yakni hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu.

1.4.2     Manfaat Praktis
1.4.2.1  Pemerintahan Kota Denpasar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pertimbangan pengambilan kebijakan dalam pembangunan yang tujuan dan akibatnya berkaitan dengan religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar.
1.4.2.2  Lembaga agama dan adat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan menjadi pertimbangan etis dalam praksis kehidupan terutama dalam religiusitas, baik bagi elite keagamaan, lembaga-lembaga keagamaan, lembaga-lembaga adat, maupun umat Hindu di Kota Denpasar.
1.4.2.3  Peneliti lain. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi peneliti lain terutama tentang kajian sosiologi agama dan khususnya yang berminat terhadap Program Studi Kajian Budaya sehingga kebangkitan peran kajian budaya benar-benar menemukan panggilannya.    





II. KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI,
DAN MODEL PENELITIAN

2.1 Kajian Pustaka
Studi tentang hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu dalam khazanah kajian budaya belum banyak dilakukan sehingga data sekunder yang dapat menunjang penelitian ini masih terbatas. Walaupun demikian, dapat diketengahkan hasil pengungkapan yang dilakukan oleh Titib (2006) tentang Persepsi Umat Hindu di Bali terhadap svarga, naraka, dan moksa dalam Svargarohanaparva: Perspektif Kajian Budaya. Menurutnya dalam paradigma aksiologi dengan teori religi (agama), teori perubahan, teori intertekstualitas, teori hermeneutik, dan teori persepsi diperoleh temuan, antara lain adanya persamaan persepsi umat Hindu tentang svarga, naraka, dan moksa dengan persepsi svarga, naraka, dan moksa dalam Svargarohanaparva Jawa Kuno, dengan perbedaan ekspresi penggambaran svarga, naraka, dan moksa tersebut. Persepsi ini merupakan konsep kunci dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar. Pemahaman terhadap konsep svarga, naraka, dan moksa secara signifikan berpengaruh terhadap pembentukan sikap dan perilaku keagamaan. Pemahaman terhadap ketiga konsep ini dapat dijadikan petunjuk dalam melakukan interpretasi dan pemahaman terhadap respons umat Hindu terhadap hegemoni modernitas umat Hindu di Kota Denpasar.
Sementara itu, Widiana (2006) melakukan penelitian tentang “Fenomena Sampradaya dalam Dinamika Agama Hindu di Bali” dengan temuan bahwa sampradaya memiliki bentuk keimanan yang sama dengan agama Hindu, yaitu panca sradha. Kehadiran sampradaya di Bali disambut antusias oleh sebagian masyarakat Hindu yang mengalami “kehausan” spiritual, sedangkan sebagian lainnya menanggapi dengan kecurigaan bahwa sampradaya dapat mengganggu tatanan religiusitas masyarakat Hindu di Bali. Kehadiran sampradaya di Bali kurang berdampak terhadap lembaga desa pakraman, tetapi berdampak pada hubungan kurang harmonis antara Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali dan Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat. Temuan ini dijadikan landasan untuk mengungkap respons terhadap hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar.
Berbeda penelitian tersebut, Jayakumara (2007) melakukan penelitian terhadap upaya umat Hindu dalam membangun identitas sosial-budayanya di tengah-tengah umat Islam dan Kristen di Desa Banguntapan, Yogyakarta. Dengan meminjam gagasan Ben Anderson tentang ‘sinkretisme dinamik’ ditemukan bahwa komunitas Hindu di Banguntapan mencari identitas budaya Hindunya. Dalam pencarian identitas budaya ini komunitas Hindu melakukan formalisasi preferensi religius pada Hindu karena kekuatan eksternal, berupa formalisasi agama dari aparatur negara begitu stigmatis. Dalam perspektif triad Bergerian konsolidasi infrastruktur keagamaan, justru membuat friksi dalam institusi agama itu sendiri dan berimbas pada pemarginalan komunitas Hindu secara sosial. Pemarginalan ini tidak menjadikan tingginya konflik antaragama ataupun internal institusi Hindu karena konflik lebih banyak terjadi di wilayah laten. Minimnya konflik manifes merupakan pengandaian deduktif, yaitu sinkretisme dinamik yang secara bersamaan komunitas melakukan rearansemen atas identitas kehinduan secara simultan melakukan peleburan (will to unity) sekaligus olah jiwa (will to power) atas kekuatan eksternal yang mengelilinginya. Identitas budaya Hindu senantiasa berupa suatu proses kemenjadian atau pencarian terus-menerus. Hal ini sama artinya dengan mengatakan bahwa tidak ada identitas yang final sehingga tidak terdapat makna apa pun pada yang disebut identitas. Dinamika religiusitas umat Hindu di Banguntapan dalam membangun identitasnya dapat diasumsikan tidak jauh berbeda dengan respons terhadap hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar.
Kegamangan penampilan identitas umat Hindu di Kota Denpasar diungkap oleh Widana (2009) dalam tesisnya tentang “Fenomena Penampilan Selebritis Umat Hindu pada Upacara Persembahyangan di Pura Jagatnatha Denpasar”. Penelitian ini memang tidak dikatakan bertumpu pada pendekatan teori kritis, tetapi pengungkapan fakta religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu penampilan umat Hindu tradisional, modern, dan posmodern. Ditemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan tentang penampilan umat Hindu antara ke pura dan ke tempat hiburan. Implikasinya muncul sekularisasi; ambiguitas, alienasi, anomi, dan reduksi etis. Penampilan selebritis umat Hindu dalam persembahyangan di Pura Agung Jagatnatha ini dapat dijadikan titik tolak untuk memahami hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar.
Selain perubahan penampilan umat Hindu secara fisikal karena pengaruh modernisasi, juga pergeseran orientasi religiusitas orang Bali menuju tattwa dikaji Triguna (1994). Kajian ini diberi judul “Pergeseran dalam Pelaksanaan Agama: Menuju Tattwa” dalam Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali (Pitana (ed), 1994:73--92). Kajian ini tidak lepas dari wacana identitas dan subjektivitas karena inti kajiannya diletakkan pada dua masalah yang berkaitan dengan kelompok penganut paham keagamaan. Pertama, pelaksanaan ritualisme dalam agama Hindu di Bali, dan kedua, tanggapan dari kelompok pembaru terhadap pelaksanaan ritualisme. Ditemukan adanya perbedaaan tafsir terhadap ajaran Hindu berkaitan dengan tiga kerangka dasar ajaran agama Hindu, yaitu tattwa, susila, dan upacara. Perbedaan tafsir telah mengakibatkan lahirnya dua kelompok penganut paham keagamaan. Pertama, kelompok pemeluk agama Hindu yang lebih menekankan pada upacara di atas tattwa dan susila disebut penganut ritualisme. Kedua, kelompok pemeluk agama Hindu yang lebih menekankan pada tattwa di atas susila dan upacara disebut penganut tattwaisme. Kontradiksi kedua kelompok paham keagamaan ini sejalan dengan gagasan modernisme bahwa yang tradisional merupakan lawan dari yang modern. Kedua kelompok ini merupakan respons terhadap hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar.    
Selain itu, Triguna (1997) juga mengungkap keberagamaan umat Hindu di Bali dengan fokus kajian pada pengaruh mobilitas kelas dan konflik terhadap penafsiran kembali simbolisme masyarakat Hindu di Bali. Diungkapkan bahwa bahwa masyarakat dan kebudayaan Hindu di Bali digerakkan oleh interaksi kekuatan eksternal dan internal. Interaksi dengan kebudayaan luar ditandai dengan munculnya konflik kepentingan kelompok triwangsa dengan jabawangsa dan friksi kelompok yang mempertahankan Hindu bercorak Bali dengan Hindu bercorak India. Munculnya kelas sosial baru dari golongan jabawangsa memperkuat posisi tawar-menawar mereka di hadapan kekuasaan kelompok triwangsa. Mobilitas kelas melahirkan konflik mendalam antara triwangsa dengan jabawamgsa. Dalam format yang lebih khusus bahwa konflik terjadi antara Brahmanawangsa sebagai tradisionalis dengan Bhujangga Waisnawa, Pasek, dan Pande sebagai kelompok modernis terutama dalam usaha mempertahankan dan merebut kekuasaan keagamaan. Temuan ini relevan dengan respons terhadap hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar.
Selanjutnya, Azis dan Sudjanggi (2006) menemukan adanya keresahan dan kegelisahan berkaitan dengan kehadiran kelompok sampradaya terutama Sai Studi Grup. Keberadaan kelompok penganut Sai Studi Grup di Bali sejak 1993 dikatakan sangat kontroversial, baik terhadap lembaga dan elite agama maupun masyarakat lokal. Perbedaan yang mencolok dengan agama Hindu, antara lain menyangkut konsep awatara, yaitu penganut Sai Studi Grup menganggap Sai Baba sebagai awatara yang patut dipuja, sebagaimana orang telah memuja Rama atau Sri Krisna. Sementara itu, menurut penentang ajaran Sai Baba bahwa tokoh Rama dan Krisna bersifat simbolik sehingga berada di dalam ide. Setiap manusia pada dasarnya adalah awatara karena memperoleh pancaran sinar Tuhan dan diharapkan berusaha mencapai kondisi spiritual sebagaimana disimbolkan pribadi Rama dan Krisna. Temuan tentang pertentangan antara kelompok masyarakat lokal dan kelompok penganut Sai Baba ini, juga digunakan sebagai dasar acuan dalam pengungkapan respons terhadap hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar.
Ini menunjukkan bahwa penelitian tentang hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar masih penting dan relevan karena dapat melengkapi kajian terdahulu. Di samping substansi materialnya, juga penelitian ini melengkapi penelitian terdahulu berdasarkan pendekatan dan paradigma karena penelitian ini dilakukan dalam tradisi kajian budaya. Artinya, penelitian ini menempatkan kebudayaan sebagai pusat kajian dalam kaitannya dengan fungsi kebudayaan dalam memberikan bentuk historis pada struktur sosial. Dalam konteks ini, agama sebagai sistem keyakinan dijadikan inti dari sistem nilai dalam kebudayaan, tetapi dalam dunia praksis sosial melahirkan praktik agama yang berbeda. Perbedaan ini menyebabkan munculnya praktik agama yang beragam sesuai dengan pluralisasi nilai, norma, dan makna yang menyertainya.
2.2 Konsep
2.2.1 Hegemoni Modernitas
Hegemoni dari akar kata hegeisthai (bahasa Yunani) berarti memimpin, kepemimpinan, kekuasaan yang melebihi kekuasaan yang lain. Kemudian, secara leksikografis hegemoni berarti kepemimpinan (Ratna, 2005:180). Oleh karena berisi unsur kepemimpinan termasuk persetujuan dari kelompok yang dihegemoni sehingga di dalamnya mengandung ideologi. Dengan kata lain, hegemoni adalah suatu organisasi konsensus yang tidak dipaksakan dari atas, tidak berkembang secara bebas dan tidak disengaja, tetapi diperoleh melalui negosiasi dan konsensus. Dalam hegemoni bahwa pembentukan gagasan menjadi proses penting yang menurut Gramsci dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu bahasa, pendapat umum, dan folklor. Kata kunci “hegemoni” adalah sistem pemerintahan suatu negara yang didasarkan pada pembentukan atau pembinaan konsensus melalui kepemimpinan budaya (Maliki, 2003:186; Ratna, 2005:184).
Kemudian, modernitas dari akar kata “modern” dalam bahasa Latin modernus berarti zaman baru. Dalam perkembangannya menghasilkan beberapa istilah turunan lainnya, seperti modernisme, modernisasi, dan modernitas (Haryono, 2005:32--33). Calinescu (Haryono, 2005:32) menjelaskan bahwa modernitas adalah kondisi sosiobudaya masyarakat yang menyiratkan perubahan paradigma yang diperoleh dengan jalan pintas dari bentuk lama ke bentuk baru. Modernitas teridentifikasi sebagai konstruk budaya modern yang berdiri di atas prinsip-prinsip rasio, subjek, identitas, ego, totalitas, ide-ide absolut, kemajuan linear, objektivitas, otonomi, emansipasi, dan oposisi biner (Haryono, 2005:35). Selain itu, Abraham (1991:206) menjelaskan bahwa modernisasi merupakan suatu proses komprehensif pertumbuhan ekonomi, mobilisasi sosial, dan ekspansi budaya yang melahirkan modernitas. Pertumbuhan ekonomi didefinisikan sebagai proses peningkatan secara progresif tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk pada umumnya. Mobilisasi sosial didefinisikan sebagai proses keterlibatan yang lebih besar dalam kelompok‑kelompok sekunder, pola‑pola baru, sosialisme antisipatoris, dan pembentukan kelompok referensi baru yang terpisah dari yang tradisional.
Berdasarkan penjelasan di atas hegemoni modernitas adalah organisasi konsensus berdasarkan modernitas. Dalam hal ini, hubungan persetujuan antara kelas hegemonik dan kelas sosial lainnya dibangun berdasarkan prinsip-prinsip pertumbuhan ekonomi, mobilisasi sosial, dan ekspansi budaya.  

2.2.2 Religiusitas Umat Hindu
Religiusitas tercipta berkat pengalaman mengenai yang ilahi, yaitu rasa dan kesadaran akan hubungan dan ikatan manusia dengan Tuhan. Dikatakan “hubungan” karena berkat pengalaman religius manusia menjadi tahu tentang hubungan antara dirinya dan Tuhan yang telah menciptakan dan memberikannya eksistensi. Dikatakan “ikatan” karena manusia bersedia mengikatkan diri pada Tuhan sebagai asal, penyelenggara, dan tujuan hidupnya (Hardjana, 2005:45). Kemudian, dari penghayatan kesadaran mengenai hubungan dan ikatan kembali dengan Tuhan menurut Hardjana (2005:51-52) munculah agama dengan empat unsur utamanya, yaitu dogma, doktrin atau ajaran; ibadat atau kultus; moral atau etika; dan lembaga atau organisasi. Dogma agama merumuskan hakikat Tuhan yang dikenal, dialami, dipercaya, dan kehendakNya untuk manusia dan dunia. Ritual agama menetapkan cara yang seharusnya bagi penataan hubungan manusia dengan Tuhan meliputi di mana dan kapan hubungan itu diadakan, serta cara dan bentuk hubungan manusia dengan Tuhan itu diselenggarakan. Moral agama menggariskan pedoman perilaku, yakni pedoman yang menetapkan perilaku yang sesuai atau tidak sesuai dengan pengalaman dan kepercayaan terhadap Tuhan dalam hidup pribadi, masyarakat, dan dunia. Lembaga agama mengatur hubungan antara penganut agama dan hubungan mereka dengan pemimpin agamanya dalam rangka penghayatan religiusitas secara bersama-sama.
Berikutnya, umat Hindu dijelaskan dari kata “umat” yang dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (2007:1334) berarti para penganut atau pemeluk suatu agama atau nabi. Koentjaraningrat (1989:80) menjelaskan bahwa umat adalah kesatuan sosial yang menganut sistem keyakinan atau agama tertentu. Seturut dengan itu, Hendropuspito (1984:53--55) menegaskan bahwa umat beragama diikat oleh kesatuan iman keagamaan. Dalam kesatuan iman ini umat agama menerima kepercayaan yang sama, melaksanakan ritual bersama, tunduk pada hukum moral yang diajarkan agama, dan mengakui pemimpin keagamaannya. Sementara itu, Hindu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2005:402) berarti agama yang berkitab suci Weda; kebudayaan yang berdasarkan agama Hindu; sebutan penduduk asli India. Kemudian, sejak diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia tanggal 5 September 1958 secara legal formal Hindu menjadi agama resmi di Indonesia. Dengan demikian, Hindu adalah agama resmi di Indonesia yang berdasarkan kitab suci Weda. Jadi, umat Hindu adalah pemeluk agama Hindu.
Dengan demikian, religiusitas umat Hindu adalah keberagamaan umat Hindu meliputi aspek dogma, ritual, moral, dan lembaga keagamaan. Dogma agama merumuskan ajaran tentang Tuhan yang diyakini oleh umat Hindu. Ritual agama menetapkan cara hubungan umat Hindu dengan Tuhan. Moral agama menggariskan pedoman tingkah laku umat Hindu yang sesuai dengan pengalaman dan kepercayaan terhadap Tuhan. Kemudian, lembaga keagamaan yang mengatur hubungan umat Hindu dengan pemimpin agamanya dalam rangka penghayatan religiusitas secara bersama.

2.3 Landasan Teori
2.3.1 Teori Modernitas
Analisis masyarakat modern terutama tentang kemunculan dan pengaruh modernitas dalam kehidupan modern dijelaskan oleh empat orang teoretisi sosiologi klasik, yaitu Karl Marx, Max Weber, Emile Durkheim, dan George Simmel. Menurut Marx modernitas ditentukan oleh ekonomi kapitalis. Menurut Weber modernitas ditentukan oleh perkembangan rasionalitas formal. Menurut Durkheim modernitas ditentukan oleh solidaritas organik dan pelemahan kesadaran kolektif. Menurut George Simmel modernitas ditentukan oleh dua sisi yang saling berhubungan, yaitu kota dan ekonomi uang. Kota adalah tempat modernitas dipusatkan atau diintensifkan, sedangkan ekonomi uang menyebabkan penyebaran modernitas dan perluasannya (Ritzer & Goodman, 2003:551).
Selain itu, Giddens (2005:201) melukiskan kehidupan modern dengan konsep panser-raksasa (modernitas-juggernaut). Modernitas dalam bentuk panser-raksasa ini digambarkan begitu dinamis. Kehidupan modern adalah sebuah dunia yang tidak terkendali (runaway world) dengan langkah, keluasan cakupan, dan kedalaman perubahan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan sistem sebelumnya. Modernitas tidak mengikuti satu jalan tunggal, bukan satu bagian, tetapi terdiri atas sejumlah bagian yang berlawanan dan saling bertentangan. Bayangan tentang panser-raksasa adalah bayangan tentang sesuatu yang bergerak melalui rentang waktu dan ruang fisik. Citra panser-raksasa dimaksudkan untuk menerangkan bahwa mekanisme modernitas jauh lebih besar kekuasaannya dibandingkan dengan agen yang mengemudikannya (Ritzer & Goodman, 2003:553; Giddens, 2005:203).
Modernitas memperoleh dinamismenya melalui tiga aspek penting, yaitu pemisahan waktu dan ruang (distanciation), keterlepasan (disembedding), dan refleksivitas (reflexivity). Pemisahahan waktu dan ruang tidak bersifat unilinier, tetapi bersifat dialektik. Dalam masyarakat pramodern waktu selalu dikaitkan dengan ruang dan pengukuran waktu biasanya tidak tepat. Dengan modernisasi waktu dibakukan ukurannya dan kaitannya dengan ruang diputus, baik waktu maupun ruang “dikosongkan” dari isinya, tidak ada waktu dan ruang yang istimewa, dan keduanya menjadi bentuknya yang murni. Dalam masyarakat pramodern umumnya ruang dintentukan oleh kehadiran secara fisik, sehingga ditentukan oleh ruang yang dilokalisasi. Dengan datangnya modernitas, ruang semakin lama semakin dilepaskan dari lokal dan tempat. Berhubungan dengan orang yang berjauhan jarak fisik semakin lama semakin besar peluangnya. Tempat semakin menjadi phantasmagonic, yaitu tempat terjadinya peristiwa sepenuhnya ditentukan oleh pengaruh sosial yang jauh jaraknya dari tempat terjadinya peristiwa itu (Ritzer-Goodman, 2003:555; Giddens, 2005:22).  
Pemisahan waktu dan ruang atau diskontinuitas modernitas adalah penting bagi modernitas karena alasan berikut, (1) memungkinkan tumbuhnya organisasi rasional, seperti birokrasi dan negara-bangsa dengan dinamisme dan kemampuanya untuk menghubungkan otoritas lokal dan global; (2) kehidupan modern ditempatkan dalam pengertian radikal dari sejarah dunia dan itu dapat menimbulkan kesan bahwa sejarah membentuk masa kini; (3) pemisahan ruang dan waktu seperti itu merupakan syarat utama bagi sumber kedua dinamisme dalam modernitas, yaitu keterlepasan. Keterlepasan menyebabkan hubungan sosial menjadi terangkat dari konteks lokal ke tingkat yang melintasi ruang dan waktu yang tidak terbatas. Ada dua tipe mekanisme keterlepasan, yaitu tanda simbolik terutama uang dan sistem keahlian terutama sistem kecakapan teknis atau keahlian profesional. Kemudian, refleksivitas berarti praktik sosial terus-menerus diuji dan diubah berdasarkan informasi baru yang paling praktis sehingga mengubah ciri-ciri modernitas itu sendiri. Malahan segala sesuatu terbuka untuk direfleksikan dalam kehidupan modern termasuk refleksi itu sendiri (Ritzer & Goodman, 2003:557; Giddens, 2005:25).  

  2.3.2 Teori Hegemoni
Teori hegemoni yang dicetuskan Gramsci merupakan sebuah pandangan hidup dan cara berpikir dominan yang di dalamnya sebuah konsep tentang kenyataan disebarluaskan dalam masyarakat, baik secara institusional maupun perorangan. Konsep tentang kenyataan menjadi ideologi yang mendiktekan seluruh cita rasa, kebiasaan moral, prinsip-prinsip religius, politik, dan seluruh hubungan sosial dalam makna intelektual dan moral. Gramsci menjelaskan bahwa hegemoni merupakan sebuah proses penguasaan kelas dominan kepada kelas bawah, dan kelas bawah aktif mendukung ide-ide kelas dominan. Di sini penguasaan dilakukan tidak dengan kekerasan, tetapi melalui bentuk-bentuk persetujuan masyarakat yang dikuasai. Bentuk-bentuk persetujuan masyarakat atas nilai-nilai masyarakat dominan dilakukan dengan penguasaan basis-basis pikiran, kemampuan kritis, dan kemampuan afektif masyarakat melalui konsensus. Konsensus inilah yang menggiring kesadaran masyarakat tentang masalah-masalah sosial ke dalam kerangka yang ditentukan lewat birokrasi. Di sini terlihat adanya usaha untuk menaturalkan suatu bentuk dan makna kelompok yang berkuasa (Simon, 2000:101).
Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme penguasaan masyarakat kelas dominan terhadap masyarakat kelas bawah berlangsung melalui dua tahapan. Pertama, masyarakat kelas dominan melakukan penguasaan kepada masyarakat kelas bawah menggunakan ideologi. Ideologi dipahami sebagai gagasan, makna, dan praktik-praktik sosial yang menyokong kelas sosial dominan. Ideologi menyediakan tata tingkah laku moral, yaitu suatu kesatuan yang diyakini berupa konsepsi tentang dunia dan norma perilaku yang sesuai. Kedua, masyarakat kelas dominan merekayasa kesadaran masyarakat kelas bawah sehingga tanpa disadari masyarakat kelas bawah dengan sukarela mendukung kekuasaan masyarakat kelas dominan (Simon, 2000:104; Barker, 2005:79).
                            
2.3.3 Teori Tindakan Komunikatif
Teori Tindakan Komunikatif (The Theory of Communicative Action) dikemukakan oleh Jurgen Habermas. Habermas (Hardiman, 2009c:102) mengajukan tesis bahwa proses rasionalisasi yang berjalan seimbang akan terjadi dalam dua “jalur”, bahkan yang satu tidak boleh menggantikan yang lain. Pada taraf subsistem-subsistem tindakan rasional-bertujuan rasionalisasi meliputi perkembangan kekuatan produksi, kemajuan dan perluasan kontrol teknis atas alam dan proses objektif. Pada taraf kerangka kerja institusional atau dunia-kehidupan sosial-budaya, rasionalisasi diwujudkan dalam komunikasi melalui medium bahasa dengan jalan menyingkirkan pembatasan komunikasi. Tanda-tanda adanya rasionalisasi pada taraf ini, kalau dalam masyarakat terdapat diskusi umum yang bebas dari dominasi, pengurangan tingkat represi pada norma sosial, pengurangan kekakuan atau kekerasan, penerapan norma secara luwes, dan masih memungkinkannya refleksi. Artinya, interaksi manusia selalu mengandalkan bahasa dan dalam struktur ucapan dapat ditemukan landasan esensial bagi bentuk organisasi sosial.
Berdasarkan atas praksis, Habermas (2007:412) membedakan dua macam proses rasionalisasi dalam masyarakat. Pertama, rasionalisasi pada taraf subsistem-subsistem tindakan rasional-bertujuan adalah perkembangan kekuatan-kekuatan produksi, perluasan kemampuan untuk mengontrol alam secara teknis atau emansipasi masyarakat dari kendala-kendala alamiahnya. Kedua, rasionalisasi pada taraf kerangka-kerja institusional terjadi dalam masyarakat, kalau berlangsung penyingkiran pembatasan-pembatasan komunikasi, pengurangan tingkat penindasan, pengurangan tingkat kekerasan, kemudahan menerima rezeki, dan proses individuasi. Dengan mengikuti tradisi teori kritis, Habermas sudah berusaha keras menemukan landasan bagi pembenaran adanya penilaian evaluatif dan klaim-klaim terhadap emansipasi manusia.   
2.4 Model Penelitian
Gambar 2.1: Diagram Model Penelitian Hegemoni Modernitas dalam Religiusitas Umat Hindu di Kota Denpasar




III. METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan posmodernisme dan paradigma kritis dengan bertumpu pada teori modernitas, teori hegemoni, dan teori tindakan komunikatif. Rancangan penelitian tentang hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar digambarkan sebagai berikut.

Gambar 3.1: Diagram Rancangan Penelitian Hegemoni Modernitas dalam Religiusitas Umat Hindu di Kota Denpasar.
                       

3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kota Denpasar, Provinsi Bali berdasarkan pertimbangan berikut.
(1)   Sejauh ini belum ditemukan peneliti lain yang meneliti di lokasi terpilih terutama berkaitan dengan tema hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu.
(2)   Keunikan religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar justru karena kota adalah ikon kemajuan sehingga religiusitas umat Hindu berkaitan langsung dengan proses modernisasi, industrialisasi, dan pertumbuhan ekonomi, yakni proses yang menciptakan modernitas.
(3)   Lokasi yang dipilih memungkinkan untuk pengambilan informasi dan/atau data, baik berdasarkan pendekatan dan paradigma yang digunakan maupun terutama ditinjau dari aspek penghematan waktu, tenaga, dan biaya yang diperlukan untuk melakukan penelitian lapangan.
                                   
3.3 Jenis dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data tentang hegemoni modernitas dan religiusitas umat Hindu. Data ini diperoleh dengan mencermati dan memahami agama Hindu dalam praktik sosial sehingga penelitian ini mengkaji nilai yang bersifat subjektif. Sifatnya yang subjektif sehingga jenis data ini dapat digolongkan menjadi data kualitatif. Demikian juga data tertulis berupa gagasan dan pemikiran para ahli yang digunakan membangun kosistensi analitis penelitian disajikan secara naratif. Data semacam ini dapat digolongkan menjadi data kualitatif.
Pendekatan kontekstual mengharuskan pengumpulan data dilakukan langsung dalam kehidupan sosial keagamaan umat Hindu di Kota Denpasar. Data yang bersumber langsung pada pengalaman empiris dalam kehidupan sosial keagamaan umat Hindu di Kota Denpasar diposisikan menjadi data utama. Sumber data utama ini diklasifikasikan menjadi sumber data primer. Selain dimensi korespondensi pada tataran eksistensial, juga penelitian ini menekankan pentingnya dimensi koherensi pada tataran analitis. Untuk itu diperlukan pemikiran-pemikiran atau pandangan-pandangan para ahli yang relevan dengan tema penelitian ini. Data ini diperoleh dari bahan-bahan tertulis, seperti buku-buku, majalah ilmiah, arsip, dokumen, dan data statistik diposisikan menjadi data tambahan atau pendukung. Sumber data tambahan ini diklasifikasikan menjadi sumber data sekunder.
        
3.4 Teknik Penentuan Informan
Penentuan informan dilakukan secara purposif, yakni informan yang diwawancarai adalah orang yang diyakini mampu memberikan informasi yang diperlukan. Keyakinan terhadap kemampuan informan ditentukan berdasarkan kriteria berikut.
(1)   Memiliki kemampuan komunikasi, pengetahuan, pengalaman, loyalitas, dan kesediaan untuk memberikan informasi berkaitan dengan masalah penelitian.
(2)   Memiliki kemampuan dan kesediaan memberikan informasi atau data tentang keadaan dirinya sendiri dan orang lain serta situasi dan kondisi lingkungannya.
(3)   Memiliki kompetensi dalam hal keterangan atau data tertentu misalnya, dosen, pejabat, pimpinan organisasi, pedagang, tokoh agama dan adat, atau yang sejenis dengan ini.   

3.5 Instrumen Penelitian
Peneliti merupakan instrumen terpenting yang berfungsi menggunakan instrumen penelitian lainnya untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, berupa alat perekam gambar, perekam suara, pedoman observasi, pedoman wawancara, dan alat tulis-menulis.

3.6 Teknik Pengumpulan Data
3.6.1 Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan dilakukan dengan menelusuri buku-buku dan majalah ilmiah yang berkaitan dengan tema penelitian ini, yaitu hegemoni modernitas dan religiusitas umat Hindu. Penelusuran kepustakaan yang pertama dilakukan dengan memeriksa daftar kepustakaan milik penulis sendiri. Oleh karena hasilnya belum memadai dari segi keperluan penyusunan konsep dan teori termasuk fakta-fakta yang dapat menunjang penelitian ini kemudian, penelusuran kepustakaan dilanjutan dengan memeriksa daftar kepustakaan milik guru, sahabat-sejawat, dan perpustakaan Universitas Udayana dan Universitas Hindu Indonesia. Setelah buku-buku dan majalah ilmiah terkumpul kemudian, dilakukan pembacaan secara teliti dengan menandai tema-tema yang sekiranya sejalan dan dapat menudukung penelitian ini hingga dipandang layak untuk disajikan menjadi laporan penelitian.

3.6.2 Observasi
Observasi dilakukan terhadap aktivitas religius umat Hindu di Kota Denpasar meliputi dogma, ritual, moral, dan lembaga keagamaan, baik yang dilaksanakan secara rutin maupun insedental. Aktivitas religius yang berkaitan dengan dogma agama, berupa kepercayaan kepada Sang Hyang Widhi Wasa diamati melalui tempat-tempat pemujaan. Aktivitas religus yang berkaitan dengan ritual diamati melalui perayaan hari-hari suci agama Hindu, seperti Nyepi, Saraswati, Pagerwesi, Galungan, Kuningan, Tumpek, dan rarahinan lainnya, baik dirayakan di dalam keluarga maupun di banjar dan desa pakraman termasuk ritual yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Denpasar. Tingkah laku religus umat Hindu diamati melalui komitmen moral dan tujuan desa pakraman, yaitu mewujudkan tata sukerta palemahan, tata sukerta tata parhayangan, dan tata sukerta pawongan. Kemudian, lembaga keagamaan diamati melalui peran dan fungsinnya dalam membangun dan menata religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar.    

3.6.3 Wawancara   
Wawancara diawali dengan mengenalkan diri kepada informan yang belum dikenal dan menyampaikan tujuan kedatangan peneliti kepadanya. Kepada informan yang sudah dikenal, peneliti menghubungi yang bersangkutan melalui telepon untuk menyampaikan maksud dan menentukan jadwal wawancara. Setelah mendapatkan ijin merekam dari informan, penulis meminta kepada informan, agar terlebih dahulu menyebutkan identitasnya, seperti nama, umur, pekerjaan, dan alamat. Kemudian, dilanjutkan dengan menjawab pertanyaan yang peneliti sampaikan sesuai dengan pedoman wawancara yang sudah disiapkan. Bila penjelasan yang diberikan belum lengkap, apalagi keluar dari tema pertanyaan, peneliti mengulang dan menekankan kembali inti pertanyaan hingga mendapatkan penjelasan yang memadai untuk disajikan. Seluruh proses wawancara diakhiri dengan ucapan terima kasih dan penulis pamit mohon diri.

3.6.4 Studi Dokumen
Studi dokumen digunakan untuk mengumpulkan data tentang subjek berkaitan dengan caranya mendefinisikan dirinya sendiri, orang lain, lingkungan, situasi yang sedang dihadapi, dan tindakan-tindakannya. Dalam hal ini dokumen yang analisis, antara lain Data Seksi Urusan Agama Hindu Kantor Depertemen Agama Kota Denpasar (2008); Data Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Denpasar 2008; Notulen Dinas Pertanian, Pangan, dan Holtikultura Kota Denpasar 2008; Data Keagamaan Kota Denpasar pada Sekretariat Kantor Departemen Agama Kota Denpasar 2008; Data Seksi Pendidikan Agama Hindu Kantor Departemen Agama Kota Denpasar 2008; Data Direktorat Jenderal Bimas Hindu 2008; Uraian Tugas Seksi Urusan Agama Hindu Kantor Departermen Agama Kota Denpasar 2008; Rencana Kerja dan Anggaran Kantor Departemen Agama Kota Denpasar 2008; dan Dipa Kantor Departeman Agama Kota Denpasar 2008.

3.7 Teknik Analisis Data
Analisis data menurut Bogdan dan Biklen (1982:239) merupakan proses mencari dan mengatur secara sistematis transkrip wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain yang terhimpun untuk memperoleh pengetahuan mengenai data tersebut dan mengomunikasikan apa yang telah ditemukan. Karena data yang diperoleh berupa kata-kata, kalimat-kalimat, paragraf-paragraf yang dinyatakan dalam bentuk narasi yang bersifat deskriptif, analisis data yang digunakan adalah teknik deskriptif-interpretatif. Menurut Miles dan Huberman (1992:25) analisis deskriptif-interpretatif dilakukan melalui tiga jalur kegiatan yang merupakan satu-kesatuan (saling mengait), yaitu (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) menyimpulkan atau verifikasi.
Proses analisis data dilakukan sejak pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan, sebagaimana disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut.
Gambar 3.2: Bagan proses analisis data: pengumpulan, reduksi, penyajian, dan penyimpulan (Sumber: Miles dan Huberman, 1992:25).

3.8 Teknik Penyajian Hasil Analisis Data
Penyajian hasil analisis data dilakukan dengan menggabungkan  teknik informal dan formal. Teknik penyajian informal adalah penyajian hasil analisis data secara deskriptif naratif dengan menggunakan bahasa Indonesia ragam ilmiah. Sebaliknya, teknik penyajian formal adalah penyajian hasil analisis data dalam bentuk gambar, bagan, diagram, tabel, foto-foto, dan yang sejenisnya. Teknik penyajian formal ini digunakan untuk mendukung kualitas deskripsi narasi hasil analisis. Keseluruhan sajian uraiannya akan dibagi menjadi delapan bab dengan mempedomani teknik penulisan karya ilmiah yang lazim berlaku dalam kalangan akademis. Dalam hal ini, sebagaimana dianjurkan Nawawi (2007:188--224) juga sebagaimana dijelaskan dalam Buku Pedoman Penulisan Usulan Penelitian, Tesis, dan Disertasi (2003 dan 2010) yang dikeluarkan oleh Program Pascasarjana Universitas Udayana.
IV. HASIL PENELITIAN
Munculnya hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar karena konstruksi historis, fungsionalitas modernisasi, pilihan rasional, disposisi hasrat, dan intensionalitas kesadaran modern. Pertama, konstruksi historis ditandai dengan munculnya uniformisasi agama Hindu, formalisasi agama Hindu, terbentuknya lembaga pendidikan Hindu, dan gerakan politik Parisada. Seluruh proses ini telah menempatkan religiusitas umat Hindu pada struktur kekuasaan sehingga menerima hegemoni modernitas sebagai keniscayaan. Kedua, fungsionalitas modernisasi ditandai dengan munculnya pembangunan perkotaan, diferensiasi dan otonomisasi struktural, serta pembinaan desa pakraman. Dalam hal ini, modernisasi yang disebarluaskan melalui pembangunan perkotaan telah membangun struktur dan kultur modernitas yang dipandang fungsional dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar. Ketiga, pilihan rasional ditandai dengan munculnya dua jenis rasionalitas, rasionalisasi agama, masuknya sampradaya ke desa pakraman. Budaya modernitas yang memunculkan dua jenis rasionalitas, yaitu rasionalitas bertujuan dan rasionalitas instrumental telah mendorong umat Hindu untuk merasionalisasikan agamanya, juga ketika berbagai arus pemikiran Hindu modern memasuki ranah tradisional. Di sini hegemoni modernitas diterima sebagai pilihan rasional dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar. Keempat, disposisi hasrat ditandai dengan munculnya hasrat sebagai otonomi personal, perayaan hasrat, dan perubahan karakter krama desa pakraman. Modernitas diterima karena mengafirmasi kebebasan dan otonomi individu seluas-luasnya termasuk dalam religiusitas sehingga schizofrenia menandai munculnya hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar. Hal ini, juga didukung oleh perubahan karakter krama desa pakraman yang tampaknya mendukung pemodernan religiusitas. Kelima, intensionlitas kesadaran modern ditandai dengan munculnya refleksivitas kesadaran atas modernitas, munculnya kesadaran sekuler, dan rekontekstualisasi agama dari publik ke privat. Artinya, modernitas direfleksikan umat Hindu dalam kesadaran religiusnya setara dengan kesadaran sekuler lainnya sehingga karakter religiusitas umat Hindu dikontekstualisasikan kembali dalam urusan-urusan privat.
Bentuk hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar meliputi hegemoni modernitas dalam dogma agama, hegemoni modernitas dalam ritual agama, hegemoni modernitas dalam moral agama, dan  hegemoni modernitas dalam lembaga keagamaan. Pertama, bentuk hegemoni modernitas dalam dogma agama ditandai dengan diterimanya konsep agama negara berupa dogma monoteis, seperti sosialisasi padmasana. Dalam konteks ini, meskipun padmasana dan teologi monoteis sesungguhnya telah terdapat dalam teks agama Hindu, tetapi sosialisasi ini dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan formalitas agama sebagaimana negara mengarahkannya. Kedua, bentuk hegemoni modernitas dalam ritual ditandai dengan produksi teknologi ritual, mekanisme pasar, ritual massal, dan birokratisasi ritual. Modernitas yang ditandai dengan dominannya rasionalitas instrumental telah menempatkan ritual keagamaan hanyalah instrumen dalam religiusitas sehingga hasil akhir lebih penting dibandingkan proses. Dalam hal ini, produksi teknologi, mekanisme pasar, ritual-ritual massal, dan birokratisasi ritual mendapatkan makna praktisnya untuk memenuhi kebutuhan keagamaan dalam kehidupan modern. Ketiga, bentuk hegemoni modernitas dalam moral agama ditandai dengan perluasan budaya dan ekonomi dalam moralitas palemahan, moralitas pawongan, dan moralitas parhayangan. Dalam hal ini, rasionalitas mengatasi moralitas sehingga bentuk-bentuk komodifikasi kultural, estetisasi kehidupan, dan konsumsi simbolis diterima dalam moralitas umat Hindu di Kota Denpasar. Keempat, bentuk hegemoni modernitas dalam lembaga keagamaan umat Hindu di Kota Denpasar ditandai dengan diferensiasi lembaga keagamaan dan hegemoni lembaga sekunder. Diferensiasi lembaga ditunjukkan dengan semakin banyaknya lembaga-lembaga komplementer yang mengurusi religiusitas umat Hindu, seperti lembaga pendidikan, lembaga berbasis soroh, dan lembaga nonreligius lainnya. Malahan peran lembaga-lembaga sekunder ini semakin dominan dibandingkan dengan peran lembaga primer yang memang dibentuk untuk urusan keagamaan.
Respons terhadap hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar ditandai dengan terjadinya redefinisi agama, konversi internal, dan deprivatisasi agama. Pertama, redefinisi agama terjadi dalam dogma, ritual, moral, dan lembaga keagamaan. Redefinisi dogma berlangsung secara dialektis antara dogma monoteis dan dogma tradisional sehingga melahirkan respons yang ambigu. Redefinisi ritual berlangsung melalui proses produksi teknologi, mekanisme pasar, ritual massal, dan birokratisasi. Redefinisi moral berlangsung dalam kerangka etika diskursus. Redefinisi lembaga keagamaan ditandai dengan redefinisi perannya melalui penyesuaian habitus dengan lingkungan sosial dan budaya modern. Kedua, konversi internal berlangsung dalam tiga kecenderungan, yaitu mistikal, ideologi keagamaan, dan ekletik. Kecenderungan mistikal ditandai dengan semakin berkembangan fenomena kamar suci dan masuknya umat Hindu ke kelompok-kelompok kebatinan. Sementara itu, kecenderungan konversi ideologi keagamaan ditandai dengan masuknya umat Hindu ke kelompok-kelompok sampradaya yang secara ideologi berlawanan dengan agama tradisional-formal. Berikutnya, kecenderungan ekletik ditandai dengan semakin berkembangnya pemikiran humanis-fungsional dalam religiusitas umat Hindu yang menempatkan nilai kemanusiaan di atas teologis. Ketiga, deprivatisasi agama terjadi dalam dua kecenderungan, yaitu ideologisasi agama dan revitalisasi nilai agama. Respons ini ditandai dengan hadirnya kembali agama sebagai alat legitimasi ideologi-ideologi sekuler, khususnya politik dan ekonomi. Sementara itu, juga agama dihadirkan untuk merevitalisasi pembangunan dan pemberdayaan bidang-bidang kehidupan sekuler lainnya.













V. TEMUAN BARU
Pertama, rekaman jejak munculnya hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar menunjukkan bahwa individu dan kelompok memang memiliki hasrat berubah. Dalam hal ini, modernitas menjadi bentuk ideal bagi perubahan tersebut sehingga menerima modernitas sebagai kewajaran. Malahan negara melalui wacana pembangunanisasi telah menjadi agen perubahan (the agent of change) yang hendak membawa masyarakat pada kemajuan dalam segala bidang kehidupan. Oleh karena itu, modernisasi yang di Indonesia lebih kenal dengan pembangunanisasi memaksa setiap individu dan masyarakat untuk menerima modernisasi dalam kehidupannya. Tidak terkecuali, ketika agama telah menjadi objek pembangunan sehingga hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu tidak dapat dihindarkan. Artinya, hegemoni modernitas berjalan seiring dengan peran negara dalam pembangunan. Dengan demikian, semakin kuat peran negara dalam pembangunan agama, juga semakin kuat pengaruh hegemoni modernitas dalam religiusitas.
Kedua, modernisasi di Kota Denpasar berlangsung seiring dengan pembangunan perkotaan yang lebih mengutamakan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi daripada bidang kehidupan lainnya. Artinya, Kota Denpasar telah menjadi tempat modernitas diitensifkan atau dipusatkan dan pertumbuhan ekonomi mempercepat proses penyebarluasannya, sebagaimana diafirmasi Teori Modernitas yang dikemukakan George Simmel. Implikasinya, pengaruh perluasan modernitas tidak dapat dihindari termasuk pengaruhnya terhadap religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar, bila dibandingkan dengan kabupaten-kabupten lainnya di Bali. Demikian juga, apabila modernitas dipahami menjadi lawan tradisionalitas, maka penggerusan nilai-nilai tradisional akan berlangsung lebih cepat di Kota Denpasar. Hal itu terjadi mengingat tingkat intensitas interaksi masyarakat Kota Denpasar dengan modernitas juga relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kabupaten lainnya. Hal ini ditemukan dalam berbagai bentuk hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar, yaitu mulai terpinggirkannya nilai-nilai tradisional dan sebaliknya, semakin diterimanya nilai-nilai modern dalam religiusitas umat Hindu.
Ketiga, hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar bukan realitas sosioreligius yang final, tetapi senantiasa dikomunikasikan melalui interaksi dinamis dan adaptasi dialektis dalam berbagai konteks. Pada satu sisi modernitas cenderung mengarahkan individu dan masyarakat pada sekularisasi kehidupan sebagaimana diafirmasi dari gagasan Cassanova. Akan tetapi, pada sisi lain agama masih memiliki pesona menjadi sumber nilai kehidupan. Oleh karena itu, redifinisi agama, konversi internal, dan deprivatisasi agama menjadi kecenderungan respons terhadap hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar. Redefinisi agama dan konversi internal merupakan respons yang cenderung muncul karena agama telah memasuki wilayah privat. Sebaliknya, deprivatisasi agama merupakan respons yang cenderung muncul karena masih kuatnya pesona agama dalam ruang publik. Artinya, religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar mengalami konstruksi, dekonstruksi, dan rekonstruksi terus-menerus sesuai dengan perubahan zaman.
Berdasarkan temuan di atas dapat dipahami bahwa hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar merupakan organisasi konsensus yang dibangun dalam persetujuan, baik melalui kepemimpinan moral dan intelektual maupun tindakan komunikatif. Modernitas secara nyata menjadi kekuatan hegemonik yang memosisikan agama menjadi subordinat. Citra modernitas dibangun dan disebarluaskan oleh agen dan struktur, baik intelektual tradisional maupun organis di dalam dan melalui pembangunan. Modernitas dalam religisuitas menjadi momen yang dieksternalisasi oleh agen, diobjektivikasi dalam struktur, dan diinternalisasi oleh aktor dalam kesadaran reflektif. Dalam kesadaran reflektif inilah hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu mendapatkan penerimaan yang berbeda dan beragam. Dengan demikian, hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar memunculkan diferensiasi struktural dan pluralitas agama.





VI. SIMPULAN DAN SARAN
6.1 Simpulan
Munculnya hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar karena konstruksi historis, fungsionalitas modernisasi, pilihan rasional, disposisi hasrat, dan intensionalitas kesadaran modern. Konstruksi historis ditandai dengan munculnya uniformisasi agama Hindu, formalisasi agama Hindu, terbentuknya lembaga pendidikan Hindu, dan gerakan politik Parisada. Fungsionalitas modernisasi ditandai dengan munculnya pembangunan perkotaan, diferensiasi dan otonomisasi struktural, serta pembinaan desa pakraman. Pilihan rasional ditandai dengan munculnya dua jenis rasionalitas, rasionalisasi agama, masuknya sampradaya ke desa pakraman. Disposisi hasrat ditandai dengan munculnya hasrat sebagai otonomi personal, perayaan hasrat, dan perubahan karakter krama desa pakraman. Intensionalitas kesadaran modern ditandai dengan munculnya refleksivitas kesadaran atas modernitas, munculnya kesadaran sekuler, dan rekontekstualisasi agama dari publik ke privat.
Bentuk hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar meliputi hegemoni modernitas dalam dogma agama, hegemoni modernitas dalam ritual agama, hegemoni modernitas dalam moral agama, dan hegemoni modernitas dalam lembaga keagamaan. Bentuk hegemoni modernitas dalam dogma agama ditandai dengan diterimanya konsep agama negara berupa dogma monoteis, seperti sosialisasi padmasana. Bentuk hegemoni modernitas dalam ritual ditandai dengan produksi teknologi ritual, komodifikasi ritual, ritual massal, dan birokratisasi ritual. Bentuk hegemoni modernitas dalam moral agama ditandai dengan perluasan budaya dan ekonomi dalam moralitas palemahan, moralitas pawongan, dan moralitas parhayangan. Bentuk hegemoni modernitas dalam lembaga keagamaan umat Hindu di Kota Denpasar ditandai dengan diferensiasi lembaga keagamaan dan hegemoni lembaga sekunder.
Respons terhadap hegemoni modernitas dalam religiusitas umat Hindu di Kota Denpasar ditandai dengan terjadinya redefinisi agama, konversi internal, dan deprivatisasi agama. Redefinisi agama terjadi dalam dogma, ritual, moral, dan lembaga keagamaan. Redefinisi dogma berlangsung secara dialektis antara dogma monoteis dan dogma tradisional sehingga melahirkan respons yang ambigu. Redefinisi ritual berlangsung melalui proses produksi teknologi, mekanisme pasar, ritual massal, dan birokratisasi. Redefinisi moral berlangsung dalam kerangka etika diskursus. Redefinisi lembaga keagamaan ditandai dengan redefinisi perannya melalui penyesuaian habitus dengan lingkungan sosial dan budaya modern. Konversi internal berlangsung dalam tiga kecenderungan, yaitu mistikal, ideologi keagamaan, dan ekletik. Deprivatisasi agama terjadi dalam dua kecenderungan, yaitu ideologisasi agama dan revitalisasi nilai agama.

6.2 Saran
Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan posmodernisme dan paradigma kritis dapat digunakan untuk memahami realitas sosioreligius masyarakat kontemporer, karena itu kepada peneliti lain disarankan menggunakannya pada lokasi penelitian lainnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembangunan dan pengembangan religiusitas umat Hindu inheren dalam tugas dan fungsi pemerintah sebagai agen perubahan sosial, karena itu kepada Pemerintah Kota Denpasar disarankan merevitalisasi dan merekontekstualisasi nilai-nilai religius Hindu sejalan dengan pembangunan bidang kehidupan sekuler lainnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa modernitas yang ditandai dengan diferensiasi struktural secara sistematis telah melemahkan peran Parisada bersamaan dengan menguatnya peran lembaga sekunder, karena itu kepada P.H.D.I dan P.D.H.B disarakan melakukan konsolidasi internal dan meningkatkan peran dalam pembinaan umat Hindu. Penelitian ini menunjukkan bahwa hegemoni modernitas secara sistematis telah melemahkan nilai-nilai tradisional, karena itu kepada umat Hindu di Kota Denpasar disarankan mengenangkan kembali penghayatan dan praktik agamanya agar lebih menyadari arah perkembangan religiusitasnya.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abdullah, Amien. 2005. Kitab Suci Agama-Agama. Jakarta: Teraju.

Abdullah, Irwan, 2006, Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
 
Abraham, Francis M. 1991. Modernisasi di Dunia Ketiga: Suatu Teori Umum Pembangunan. Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya.

Adian, Donny Gahral. 2006. Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar Komprehensif. Jakarta: Jalasutrra.

Adlin, Alfathri. 2006. Menggeledah Hasrat: Sebuah Pendekatan Multi Perspektif. Yogyakarta: Jalasutra.

Agger, Ben. 2003. Teori Sosial Kritis: Kritik, Penerapan, dan Implikasinya. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Al-fayaadl, Muhamad. 2005. Derrida.Yogyakarta: LkiS Pelangi Aksara.

Ali, Muhammad. 2003. Teologi Pluralis-Multikultural: Menghargai Kemajemukan Menjalin Kebersamaan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Althusser, Luis. 2010. Tentang Ideologi, Marxisme Strukturalis, Psikoanalisis, Cultural Studies. Yogyakarta: Jalasutra.

Anandakusuma, Rsi. 1986. Silsilah Orang Suci dan Orang Besar di Bali. Denpasar: CV Kayumas.

Anandakusuma, Rsi. 1987. Wariga Dewasa. Denpasar: CV Kayumas.

Anonim. 1989/1990. Himpunan Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu I – XV, 1989/1990. Denpasar: Pemerintah Daerah Provinsi Tk I Bali.

Anonim. 1994. Sundarigama. Diperbanyak oleh Pemerintah Kabupaten Dati II Badung.

Appadurai, A. 1993. “Disjuncture and Difference In the Global Cultural Economy” dalam Featherstone, M. (ed). 1993. Global Culture, Nationlism, Globalization and Modernity. Hal:295-310. London:SAGE Publication.

Ardana, I Gusti Gde. 1982. Hinduisme di Bali. Denpasar: Upada Sastra.

Ardika, I Wayan dan Darma Putra (Ed). 2004. Politik Kebudayaan dan Identitas Etnik. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana Balimangsi Press.

Arifin, Syamsul. 2009. Studi Agama: Perspektif Sosiologis dan Isu-isu Kontemporer. Malang: UMM Press.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Arsana, Dira. 2006. “Dunia Malam Pariwisata”. Artikel. Bali Post Edisi Kamis 25 Mei 2006.

Assegaf, Abd. Rachman. 2007. Desain Riset Sosial-Keagamaan: Pendekatan Integratif-Interkonektif. Yogyakarta: Gema Media.

Astra, I Gde Semadi. 1997. ”Birokrasi Pemerintahan Bali Kuno Abad XII – XIII: Sebuah Kajian Epigrafis”. Disertasi tidak dipublikasikan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Atmadja, Nengah Bawa. 2005. “Bali pada Era Globalisasi: Pulau Seribu Pura Tidak Seindah Penampilannya” (Hasil Penelitian – Studi Kasus pada Berbagai Desa), Singaraja.

Avalon, Arthur. (Penerjemah: K.Nila). 1996. Mahanirvana Tantra: Arthur Avalon’s Tantra of the Great Liberation. Denpasar: Upada Sastra.

Ayatrohaedi.ed.1986. Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius) Jakarta: Pustaka Jaya.

Azis, Abdul. 2006. Esai-Esai Sosiologi Agama. Jakarta: Diva Pustaka.

Baba, Bangali. 1982. The Yogasutra of Patanjali. New Delhi: Motilal Banarsidas.

Badudu, J.S. & Moh. Zein. 1994. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Bagus, Lorenz. 2002. Kamus Filsafat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Bagus, I Gusti Ngurah (Penyunting). 2003. Masalah Budaya dan Pariwisata dalam Pembangunan. Denpasar: Program Studi Magister (S2) Universitas Udayana.

Bakker, F.L. 1993. The Struggle of the Hindu Balinese Intellectuals:  Developments In Modern Hindu Thinking in Independent Indonesia.  Amsterdam:  VU University  Press.

Bakri, Syamsul dan Mudhofir. 2004. Jombang-Kairo, Jombang-Chicago, Sintesis Pemikiran Gus Dur dan Cak Nur Dalam Pembaruan Islam di Indonesia. Solo: Tiga Serangkai. 
 
Bandem, I Made & I Wayan Dibia. 1975. Pengembangan Tari Bali. Denpasar: ASTI.
 
Barker, Chris. 2005. Culture Studies Teori dan Praktik. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.

Barthes, Roland. 1990. Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa. Bandung: Jalasutra.

Beilharz, Peter. 2003. Teori-Teori Sosial: Observasi Kritis terhadap Para Filosof Terkemuka. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Berger, Peter L. dan Thomas  Luckmann. 1990. Tafsir Sosial Atas Kenyataan. Jakarta: LP3ES.

Belger, Brigitte and Hansfried Keliner. 1992. Pikiran Kembara:  Modernisasi dan  Kesadaran Manusia. Yogyakarta:  Kanisius.

Bendesa, I Komang Gde. 1997. “Pertumbuhan dan Pemerataan Pembangunan Ekonomi di Bali dalam Konteks Pembangunan yang Berwawasan Budaya” dalam Mokshartham Jagadhita. Denpasar: Upada Sastra.

Berger, Peter L. 1967.  The Capitalist Revolution:  Fifty Propositions  About Prosperity, Equality,  and  Liberty. New York:  Basic Books, Inc.

Bertens, K. 2002. Etika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Black, James A. dan Dean J. Champion. 2001. Metode dan Masalah Penelitian Sosial. Bandung: PT Refika Aditama.

Bocock, Robert. 2007. Pengantar Komprehensif untuk Memahami Hegemoni. Yogyakarta: Jalasutra.

Bogdan, H.R dan Biklen S.K. 1982. Qualitative Reseach for Education, An Introduction to Theory and Mothods. Boston: Allyn anda Bacon Inc.

Bosch, F.D.K. 1983. Masalah Penyebaran Kebudayaan Hindu di Kepulauan Indonesia. Jakarta: Bhratara.

Bourdieu, Piere. 2010. Aneka Produksi Kultural Sebuah Kajian Sosiologi Budaya. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Budiana, I Nyoman (Ed.). PHDI Setengah Abad: Menuju Paradigma Milenium Budaya. Denpasar: ESBE.

Bungin, Burhan. 2006. Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Campbell, Tom. 1994. Tujuh Teori Sosial. Sketsa, Penilaian, Perbandingan. Yogyakarta: Kanisius.

­­­­­Capra, Fritjop. 2003. The Hidden Connections. Yokyakarta: Jalasutra.

Casanova, Jose. 2003. Agama Publik di Dunia Modern: Public Religion in the Modern World. Surabaya: Pustaka Eureka; Malang: ReSIST, dan Yogyakarta: LPIP.

Chaney, David. 2008. Lifestyles: Sebuah Pengantar Komprehensif (Penerjemah Nuraeni). Yogyakarta. Jalasutra.

Chaplin, J.P. 2006. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Kencana Predana Media Group.

Dayuh, I Nyoman. 2009. “Pasemetonan Yoga Seger Uger Sanur: Studi Surya Namaskara”. Tesis. Tidak dipublikasikan. Denpasar: Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia.

Denzin, Norman K. & Yvonnas S. Lincoln. 2009. Handbook of Qualitative Research. (Penerjemah: Dariyatmo, Badrus Samsul Fata, Abi, dan John Rinaldi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Dhavamony, Mariasusai. 1995. Fenomenologi Agama. Yogyakarta: Kanisius.


Durkheim, Emile. 2003. Sejarah Agama (The Elementary Forms of the Religious Life). Yogyakarta: IRCiSoD.

Dwipayana, A.A.G.N. Ari. 2005. Globalism: Pergulatan Politik Representasi atas Bali. Denpasar: Uluangkep Press.

Endraswara, Suwardi. 2003. Budi Pekerti dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita.

Eliade, Mircea. 2002. Mitos Gerak Kembali Yang Abadi: Kosmos dan Sejarah. Yogyakarta: Ikon Teralitera.

Faisal, Sanapiah. 2001. Format-Format Penelitian Sosial. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Fakih, Mansour. 2001. Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fathroni, Abdurrahmat. 2006. Antropologi Sosial Budaya. Jakarta: Rineka Cipta.

Featherstone, Mike. 2008. Postmodernisme dan Budaya Konsumen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Freud, Sigmund. 1979. Memperkenalkan Psikoanalisa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Frawley, David. 1999. Etika Konversi Keagamaan. (20/04/2006, PRAJNA JOURNAL APRIL – JUNE).
 
Geertz, Clifford and Hildred Geertz. 1992. Tafsir Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Geriya, I Wayan. 2000. Transformasi Kebudayaan Bali Memasuki Abad XXI. Denpasar: Dinas Kebudayaan Propinsi Bali.

Giddens, Anthony. 2005. Konsekuensi-Konsekuensi Modernitas (penterjemah: Nurhadi).Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Goris. R. 1968. Sekte-Sekte di Bali. Denpasar.

Gourdiaan, T. and C. Hooykaas. 1971. Stuti and Stava (Bhauddha, Saiva and Vaishnava of Balinese Brahaman Priest). Amsterdam, London: North Holland Publishing Company.

Griffin, David Ray. 2005. Tuhan & Agama dalam Dunia Post Modern. Yogyakarta: Kanisius.

Gunadha, Ida Bagus. 2009. Strategi Pemberdayaan Adat, Budaya, dan Agama Hindu Bali. Denpasar: Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, Unhi Denpasar.

Habermas, Jurgen. 2007. Teori Tindakan II: Kritik atas Rasio Fungsionalis. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Hadi, Hardono. 2007. Kepemimpinan Religius Transformasi. Yogyakarta: Satunama.

Hadi, Y. Sumadiyo. 2006. Seni dalam Ritual Agama.Yogakarta: Buku Pustaka.

Hadiwijono, Harun. 2002. Sejarah Filsafat Barat 1 dan 2. Yogyakarta: Kanisius.

Hardiman, F. Budi. 2003. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. Yogyakarta: Kanisius.

Hardjana. A.M. 2005. Agama, Religiusitas, dan Spiritualitas. Bandung: Tarsito.

Harker, Richard; Cheeelen Mahar; Chris Wilkes. 2009. (Habitus x Modal) + Ranah = Praktik, Pengantar Paling Komprehensif Kepada Pemikiran Pierre Bourdieu. Yogyakarta: Jalasutra.

Harrison, Lawrence P. dan Samuel P. Hutington (editor). 2006. Kebangkitan Peran Budaya. Jakarta: LP3ES.

Hartoko, Dick. 1985. Memanusiakan Manusia Muda: Tinjauan Pendidikan Humaniora. Yogyakarta: Kanisius dan BPK Gunung Mulia.

Haryono, Yudhie. M. 2005. Melawan dengan Teks. Yogyakarta: Resist Book.

Hendropuspito. 1986. Sosiologi Agama. Yaogyakarta: Kanisius.

Hidayat, Kommarudin. 2009. Wisdom of Life. Jakarta: Kompas.

Horkheimer, Max dan Theodor W. Adorno. 2003. Dialektika Pencerahan. Yogyakarta: IRCiSoD.

Hutington, Samuel P. 2003. Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia. Yogyakarta: Qalam.

Ibrahim, Abd. Syukur & Machrus Syamsudin. 1985. Penemuan Teori Grounded: Beberapa Strategi Penelitian Kualitatif. Surabaya: Usaha Nasional.

Inglehart, Ronald. 1997. Modernization and Posmodernization: Cultural, Economic, and Political Change in Forty-Three Societies. Princeton: Princeton University Press.

Irsan, Abdul. 2007. Indonesia di Tengah Pusaran Globalisasi. Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu.

Ishomuddin. 2002. Pengantar Sosiologi Agama. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Jacob, Teuku. 2006. Manusia Makhluk Gelisah: Melalui Lensa Bioantropologi, Surakarta: Muhammadyah University Press.

Jamil, Mukhsin M. 2008. Agama-Agama Baru di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jais, Ahmad. 1980. Masalah-masalah Mistik dan Tasawuf. Bandung: PT Al-Ma’arif.

Jayakumara, I Gde. 2007. “Pencarian Identitas Budaya Hindu (Studi Komunitas Hindu di Kelurahan Banguntapan, Banguntapan, Yogya”. Tesis- Tidak Dipublikasikan. Yogyakarta: Program Centre for Religion and Cross Cultural Studies, Universitas Gajah Mada.

Jendra, I Wayan. 2007. Sampradaya: Kelompok Belajar Weda, Aliran dalam Agama Hindu, dan Budaya Bali. Denpasar: PT Empat Warna Komunikasi.

Johnson, Doyle Paul. 1986a. Teori Sosiologi Klasik dan Modern 1. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Juergensmeyer, Mark. 2003. Terorisme Para Pembela Agama. Yogyakarta: Tarawang Press.

Kaelan. 2005. Metode Penelitian Kualititif Bidang Filsafat. Yogyakarta: Paradigma.

Kahmad, Dadang. 2000. Sosiologi Agama. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Kajeng dkk. 1997. Sarasamuscaya. Jakarta: Bimas Hindu Depag RI.

Kaplan, David & Robert. A. Manners. 2002. Teori Kebudayaan. Jakarta: Pustaka Pelajar.

Kasturi. 1999. Pancaran Kebijaksanaan (Jnana Vahini). Surabaya: Paramita.

Keene, Michael. 2006. Agama-Agama Dunia. Yogyakarta: Kanisius.

Kerlinger, N. Fred. 2004. Asas-Asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Kholiludin, Tedi. 2009. Kuasa Negara Atas Agama. Semarang: RaSAIL Media Group.

Kimball, Charles. 2003. Kala Agama Jadi Bencana. Bandung: PT Mizan.

Kleden, Ignas. 1987. Masalah Kemiskinan Sosial-Budaya di Indonesia. Jakarta: LP3ES.

Klostermeier, Klaus K. 1988. A Short Introduction to Hinduism. Oxford University Press.

Koentjaraningrat. 1989. Sejarah Teori Antropolgi I. Jakarta: Universitas Indonesia Pers.

Krishna, Anand. 2006. “Bali Perlu Kelompok Spiritual”. Artikel. Majalah Taksu 165: November – Desember/VII/2006.

Krisnu, Tjokorda Raka. 1997/1998. Himpunan Keputusan dan Aturan tentang Pembinaan Kerukunan Hidup Umat Beragama. Denpasar: Kantor Departemen Agama Kota Denpasar.

Kunarwoko, A. 1994. “Agama sebagai Komunitas Iman yang Diagonal dan Transformatif dalam Berperanserta pada PJP II”. Makalah Disampaikan dalam Dialog Nyepi 1916 Saka. Jakarta.

Lash, Scott. 2004. Sosiologi Postmodernisme. Yogyakarta: Kanisius.

Lavine, T.Z. 2002. Petualangan Filsafat: Dari Sokrates ke Sartre. Yogyakarta: Jendela.

Lauer, Robert H. 2003. Perspektif tentang Perubahan Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.

Leahy, Louis. 2001. Sanis dan Agama dalam Konteks Zaman Ini. Yogyakarta: Kanisius.

Lubis, Akhyar Yusuf. 2004. Masih Adakah Tempat Berpijak Bagi Ilmuwan. Bogor: Akademia.

Lubis, Debbie A. (Penerjemah). 2006. Agama dan Politik Amerika. Jakarta: Yayasan Obor.

Lyotard, Jean-Francois. 2004. Ziarah Postmodernisme. Surabaya: Pustaka Eureka.

Macdonell, Diane. 2005. Teori-Teori Diskursus (Kematian Strukturalisme & Kelahiran Posstrukturalisme dari Althusser hingga Foucoult). Jakarta: Teraju.

Magnis, Franz-Suseno. 2009. Kritik Ideologi: Menyingkap Pertautan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas.Yogyakarta : Kanisius.

Maliki, Zainuddin. 2003. Narasi Agung: Tiga Teori Sosial Hegemonik. Surabaya: LPAM (Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat).

Maman, K.H; Deden Ridwan; M. Ali Mustofa; dan Ahmad Gaus. 2006. Metode Penelitian Agama: Teori dan Praktik. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Mangunwijaya, Y.B. 1992. Ragamwidya: Religiositas Hal-Hal Sehari-hari. Yogyakarta: Kanisius.

Mantik, Nyoman S. dkk. (Ed). 2009. ”Setengah Abad Kebangkitan Hindu Indonesia” dalam PHDI Setengah Abad: Sebuah Retrospeksi.

Mantra, I.B. 1996. Landasan Kebudayaan Bali. Denpasar: Yayasan Dharma Sastra.

Manuaba, Ida Pedanda Bang Buruan. 2006. “Jangan Over Acting”. Artikel. Majalah Taksu 165: November – Desember/VII/2006.

Marayana, I Gde. 2006. ”Sistem Kalender Bali”. Makalah. Disampaikan dalam Pendidikan dan Pelatihan Wariga pada Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Bali, 13 Desember 2006. Denpasar.

Marx, Karl. 2004. Kapital. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Miall, Hugh; Oliver Ramsbotham; dan Tom Woodhouse. 2002. Resolusi Damai Konflik Kontemporer: Menyelesaikan, Mencegah, Mengelola, dan Mengubah Konflik Bersumber Politik, Sosial, Agama, dan Ras. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Miles & Huberman. A. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia.

Moleong, Lexy J. 1998. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Karya.

Monier, Sir Williams Monier. 1990. Sanskrit – English Dictionary. New Delhi: Motillah Banarsidass.

MPLA Daerah Tingkat I Bali. 1991/1992. Desa Adat dan Pelestarian Lingkungan Hidup. Denpasar: Proyek Pemantapan Lembaga Adat.

Mulder, Neils. 2001. Agama, Hidup Sehari-hari, dan Perubahan Budaya (Jawa, Muang Thai, dan Filiphina) . Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Mulkhan, Abdul Munir. 2007. Revolusi Kesadaran dalam Serat-Serat Sufi. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.

Mulyana, Deddy. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyono, Sri.1989. Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang: Sebuah Tunjauan Filosopis. Jakarta: CV Haji Mas Agung.

Mulyono, Irmayanti dan Budianto. 2004. Ideologi Budaya. Jakarta: Yayasan Kota Kita.

Nala, Ngurah dan I Gusti Ketut Adia Wiratmadja. 1986. Murddha Agama Hindu. Denpasar: Upadasastra.

Nasution, S. 1988. Metode Research (Penelitian Ilmiah). Jakarta: Bumi Aksara.

Nawawi, H. Hadari. 2007. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Noorsalim, Mashudi; M. Nurkhoiron; Ridwan Al-Makasarry (ed). 2007. Hak Minoritas: Multikuturalisme dan Dilema Negara Bangsa. Jakarta: The Interaksi Foundation.

Nordohlt, Henk Schulte dan Gerry Van Klinken. 2007. Politik Lokal di Indonesia. Jakarta: KITLV dan Yayasan Obor Indonesia.

Nottingham, Elizabeth K. 2002. Pengantar Sosiologi Agama. Jakarta: Rajawali Grafindo Persada.

Nuryanto, M. Agus. 2008. Mazhab Pendidikan Kritis. Yogyakarta: Resit Book.

O’dea, Thomas F. 1992. Sosiologi Agama: Suatu Pengenalan Awal. Jakarta: CV Rajawali.

Pals, Daniel L. 2001. Seven Theories of Religion. Yogyakarta: Qalam.


Pamecutan, I Gusti Ngurah Oka. 2007. Perjalanan Parisada Bali (Parisada Dharma Hindu Bali). Denpasar: Yayasan Kerti Budaya.

Patria, Nezar dan Andi Arief. Antonio Gramsci: Negara dan Hegemoni. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pelly, Usman dan Menanti Asih. 1994. Teori-Teori Sosial Budaya. Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Pemerintah Kota Denpasar. 2008. Selayan Pandang Kota Denpasar 2008. Denpasar.

Phalgunadi, I Gusti Putu. 2010. Sekilas Sejarah Evolusi Agama Hindu. Denpasar: Program Pascasarjana (S2) Ilmu Agama dan Kebudayaan Universitas Hindu Indonesia.

Piliang, Yasraf Amir. 2004. Dunia yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan. Yogyakarta: Jalasutra.

Pitana, I Gde (Ed.). 1994. Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali. Denpasar: Bali Post.

Popper, Karl R. 1985. Gagalnya Historisisme. Jakarta : LP3ES.

Pradnya, I Made & I Nyoman Oka. 2006. “Sai Baba Bukan Sampradaya”. Artikel. Majalah Taksu 163: September – Desember/VII/2006.

Puspa, Ida Ayu Tari. 2010. “Komodifikasi Ritual pada Griya-griya di wilayah Desa Pakraman Sanur”. Disertasi. Tidak Dipublikasikan. Program Kajian Budaya, Universitas Udayana. Denpasar.

Purwanto, Hari. 2000. Kebudayaan dan Lingkungan dalam Perspektif Antropologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Radhakrishnan, S. 2003. Agama-Agama Timur dan Pemikiran Barat. Denpasar: Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Universitas Hindu Indonesia.

Rakhmat, Jalaludin. 1996. Psikologi Agama. Bandung: Mizan Media Utama.

Rama, Swami. 2005. Hidup dengan Para Rsi Himalaya. Surabaya: Paramita.

Ratna, Nyoman Kutha. 2005. Teori, Metode, dan Tekhnik Penelitian Sastra: dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme Perspektif Wacana Naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ritzer, George. 2002. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Ritzer, George & Goodman, Douglas J. 2003. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media.

Robert, Tyler T. 2002. Spiritualitas Posreligius Eksplorasi Hermeneutis Tranfigurasi Agama dalam Praksis Filsafat Nietzsche. Yogyakarta: Qalam.

Robertson, Roland (Ed.). 1998. Agama: dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologi. Jakarta: Rajawali.

Sahlins, Marshall. 1976. Culture and Practice Reaseon. Chicago: University of Chicago Press.

Salim, Agus. 2006. Teori & Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Santosa, Listiyono dkk. 2010. Epistemologi Kiri. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Sarasastra, Gde. 2002. “Perkembangan Agama Hindu di Bali”. Artikel. dalam Majalah Sarad No. 27 Juni 2002.

Schacht, Richard. 2009. Alienasi: Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.

Schoorl, J.W. 1991. Modernisasi: Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-negara Sedang Berkembang. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Schrarf, Betty R. 2004. Sosiologi Agama. Jakarta: Prenada Media.

Setia, Putu. 1999. ”Beragama Yang Benar”. Artikel. Majalah Raditya.

Simon, Roger. 2000. Gagasan Gagasan Politik Gramsci. (Terj. Kamdani dan Imam) Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Sirtha, I Nyoman. 2003. ”Peranan Desa Pakraman dalam Mewujudkan Jagadhita di Era Globalisasi”. Dalam Astra, I Gde Semadi dkk. (peny.). 2003. Guratan Budaya dalam Perspektif  Multi Kultural. Denpasar : Kerja sama Program Studi Magister dan Doktor Kajian Budaya, Linguistik, dan Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana, dan CV Bali Media.

Siswomihardjo dan Koento Wibisono. 2003. Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umum Mengenai Kelahiran dan Perkembangannya sebagai Pengantar untuk Memahami Filsafat Ilmu. Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filasafat UGM. Yogyakarta: Liberty.

Smith, Huston. 2001. Kebenaran yang Terlupakan: Kritik atas Sains dan Modernitas. Yogyakarta: IRCiSoD.

Soebandi, Ktut. 1981. Pura Kawitan/Padharman dan Panyungsungan Jagat. Denpasar: Kayumas Agung.

Soeka, Gde. 2004. Trimurti Tattwa. Denpasar: Kayumas.

Soekanto, Soerjono. 2001. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Soeprapto, Riyadi. 2002. Interaksionisme Simbolik: Perspektif Sosiologi Modern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan Averroes Press.

Soetriono & SRDm Rita Hanafie. 2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta: CV Andi Offset.

Sofwan, H. Ridin. 2007. Mengungkap Seluk-beluk Aliran Kebatinan di Indonesia. Semarang: CV Aneka Ilmu.

Storey, John. 2004. Teori Budaya dan Budaya Pop: Memetakan Lanskap Konseptual Cultural Studies. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sturrock, John. 2004. Strukturalisme Post-strukturalisme dari Levi-Strauss sampai Derrida, Terjemahan dari Structuralism and Since. Surabaya: Jawa Post Press.

Suamba, I.B. Putu (Ed.). 1996. Yajna: Sebuah Basis Kehidupan. Denpasar: Warta Hindu Dharma.

Suamba, I.B. Putu. 2003. Dasar-Dasar Filsafat India. Denpasar: Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan Universitas Hindu Indonesia.

Subagya, Rahmat. 1976. Kepercayaan Kebatinan Kerohanian dan Agama. Yogyakarta: Kanisius.

Subyantoro, Arief & F.X. Suwarto. 2006. Metode & Tekhnik Penelitian Sosial. Yogyakarta: ANDI.

Sudarsana, Ida Bagus. 2007. Dewa Yadnya. Denpasar: Yayasan Dharma Acarya.

Sudharta, Tjok. Rai, Ida Bagus Oka Puniatmadja, 2001. Upadesa. Surabaya: Paramita.
                                                                                                         
Sudharta, Tjok. Rai dan I Wayan Surpha. 2006. Parisada Hindu Dharma dengan Konsolidasinya. Surabaya: Paramita.

Sudibya, I Gde. 1995. “Peranan Umat Hindu dalam Pembangunan Ekonomi” dalam Mokshartham Jagadhita. Denpasar: Upada Sastra.

Sugiarto, R. dan Gde Pudja. 1982. Sweta Swatara Upanisad. Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Hindu Depag RI.

Sugiarto, Bambang. I. 2006. Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Suhandji-Waspodo T.S. 2004. Modernisasi dan Globalisasi: Studi Pembangunan dalam Perspektif Global. Malang: Insan Cendekia.

Sukarma, I Wayan. 2009. “Pemurnian Tradisi dalam Komunitas Adat”. Artikel. Sarad, Nomor 109 Mei 2009:hal.19.

Sukarma, I Wayan dan Wayan Budi Utama (Ed.). 2010. Canang Sari Dharmasmrti. Denpasar: Widya Darma.

Sumardjo, Jakob. 2002. Arkeologi Budaya Indonesia: Pelacakan Hermeneutis-Historis terhadap Artefak-Artefak Kebudayaan Indonesia. Yogyakarta: Qalam.

Supartha, I Gusti Ngurah. 2004. Karya Agung Mamungkah dan Ngenteg Linggih Pura Dalem Swargan. Gianyar: Desa Pakraman Kedewatan.

Suprayogo, Imam dan Tobroni. 2001. Metodologi Penelitian Sosial-Agama. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Supono, Eusta. 2002. Agama Solusi atau Ilusi? Kritik atas Kritik Agama Karl Marx. Yogyakarta: Komunitas Studi Didaktika.

Sura, I Gde dkk. 1999. Siwatattwa. Denpasar. Proyek Peningkatan Sarana Prasarana Kehidupan Beragama, Pemerintah Propinsi Bali.

Suriasumantri, Jujus S. 1981. Ilmu dalam Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan tentang Hakikat Ilmu. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Suryabrata, Sumadi. 2004. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
                                    
Sutaba, I Made. 1980. Prasejarah Bali. Denpasar: Yayasan Purbakala Bali.

Sutopo dan Adi Suryanto. 2006. Pelayanan Prima. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia

Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto (Ed.). 2004. Hermeneutika Pascakolonial-Soal Identitas. Yogyakarta: Kanisius.

Suyanto, Bagong dan Sutinah (Ed.). 2005. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta: Prenada Media.

Suyono, Seno Joko. 2007. Tubuh yang Rasis. Yaogyakarta: Lanskap Zaman.

Swidler, Leonard dan Paul Mojzres. 2000. Religious Faith. London: Oxford University.

Sztompka, Piotr. 2004. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada Media.

Tafsir, Ahmad. 2006. Filsafat Ilmu. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Tilaar, A.R. 2004. Multikultularisme: Tantangan-Tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: PT Gramedia Midiasarana Indonesia.

Tim Penyusun. 2002. Panca Yadnya. Denpasar: Proyek Peningkatan Sarana/ Prasarana Kehidupan Beragama Pemerintah Propinsi Bali.

Tim Penyalin dan Penerjemah. 2002. Tutur Gong Besi, Tutur Lebur Gangsa, Turur Angkus Prana. Denpasar: Dinas Kebudayaan Propinsi Bali.

Tim Redaksi. 2007. “Sampradaya Marakkan Bali”. Artikel. Tabloid Suluh Bali Edisi VI/Th.I/9 – 22 November 2007. Denpasar.

Tim. 2002. Kamus Istilah Agama Hindu. Denpasar: Pemerintah Propinsi Bali.

Titib, I Made. 2007. Persepsi Umat Hindu di Bali terhadap Svarga, Naraka, dan Moksa dalam Svargarohanaparva: Perspektif Kajian Budaya. Surabaya: Paramita.

Thoha, Miftah. 1995. Kepemimpinan dalam Manajemen Suatu Pendekatan Perilaku. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Trijono, Lambang. 2004. The Making of Ethik and Religious Conflicts in Southeast Asia: Cases and Resolutions. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.


Triguna, Ida Bagus Gde Yudha. 1990. “Munculnya Kelas Baru dan Dewangsanisasi Transformasi Ekonomi dan Perubahan Sosial di Bali”. Tesis. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Trublood, David. 1965. Philosophy of Religion (Filsafat Agama). Jakarta: Bulan Bintang.

Turner, Brian S. 2003. Agama & Teori Sosial. Yogyakarta: IRCiSoD.

Tuhuleley, Said; Adde Marup WS.; Haedar Nashir (Ed.). 2003. Masa Depan Kemanusiaan. Yogyakarta: Jendela.

Wattimena, Reza A.A. 2007. Melampaui Negara Hukum Klasik (Locke - Rousseau - Habermas). Yogyakarta: Kanisius.

Weber, Max. 2002. Sosiologi Agama. Yogyakarta: IRCiSoD.

Wibisono, Koento.1982. Arti Perkembangan (Menurut Filsafat Positivisme Aguste Comte).Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Widana, I Gusti Ketut. 2010. “Fenomena Penampilan Selebritis Umat Hindu pada Upacara Persembahyangan di Pura Jagatnatha Denpasar”. Tesis – Tidak Dipublikasikan. Denpasar: Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia Denpasar.

Widiana, I Gusti Ketut. 2006. “Fenomena Sampradaya dalam Dinamika Agama Hindu di Bali”. Tesis – Tidak Dipublikasikan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Widnyana, Ida Bhujangga Rsi Oka. 2000. “Swadharma Sadhaka”. Makalah. Disajikan dalam Pendalaman Sradha di Denpasar.

Yasa, I Wayan Suka dkk. 2009. Yoga Margi Rahayu. Denpasar: Fakultas Ilmu Agama Universitas Hindu Indonesia Bekerja Sama dengan Penerbit Widya Dharma.

1 komentar: